Beberapa hari berlalu, semenjak mimpi traumatis itu Andreas tidak pernah ingin melewatkan setiap detiknya tanpa berada disisi Aurelian sampai ada di titik dimana dirinya digeret paksa oleh Lysander dan Leo agar sang pemimpin perusahaan mau mengerjakan pekerjaannya.
Tidak hanya itu, Andreas juga begitu keras kepala memilih untuk pulang pergi dari rumah sakit, dengan kata lain setiap hari ia menginap disana. Hal ini tentu menimbulkan perdebatan sengit antara ia dan anak-anaknya. Terutama si bungsu, Orion.
Mata serupa itu menatap tajam papanya, alis Orion menukik saat Andreas terus mengelus kepala kakak kesayangannya. "Papa, hari ini jadwalnya aku untuk menginap. Jadi pulang sana!" Ujarnya ketus.
Tidak mempedulikan hal itu, tangan Andreas kembali menyuapkan potongan lain dari buah semangka ke mulut Aurelian. "Tidak." Sahutnya tegas mendapat decakan kesal.
Si bungsu beralih pada Calix yang menyelonjorkan kakinya santai diatas sofa sambil memainkan ponsel ditangannya. "Calix, kau saja yang pulang!" Usirnya tidak sopan pada sang kakak kedua.
"Heh bocah! Dimana etika kesopanan mu, hah?!"
Orion mendengus mendengar penuturan kesal dari Calix. "Pulang sana!" Tekannya tidak mempedulikan jika kini sang kakak kedua tengah membidik kepalanya bersiap untuk melemparkan ponsel ke kepala si bungsu.
Awal-awal yang menyenangkan, melihat Orion yang kesal saat ia menganggunya menimbulkan sebuah kesenangan bagi Calix mengingat dulu mereka memang tidak sedekat itu. Namun semakin kesini, ternyata sifat si bungsu tidak hanya bringas, tetapi Orion lebih menyebalkan dari dirinya.
Bak mendapatkan lawan seimbang yang terkadang Calix merasa bahwa Orion ini jauh lebih pandai menindas, membuat hubungan keduanya menjadi penuh pertengkaran. Untung saja Calix menyayanginya, jika tidak sudah ia tenggelamkan si bungsu ke dalam kolam ikan hias milik papanya.
Hm, dejavu.
"Kau yang pulang! Jelas-jelas sedari awal yang berjaga dengan papa adalah aku, bukan kau!" Timbalnya membuat Orion lagi-lagi berdecak.
Tangan Calix yang tadi ingin melempar ponselnya ditahan oleh Lysander, sulung Andreas itu bahkan sampai merebut ponselnya takut jika dia meleng nanti benda pipih itu benar-benar akan mendarat di kepala Orion. Cukup ya, ia tidak ingin ada pertengkaran sekarang. Tidak jika itu didepan Aurelian. Tetapi jika di belakang mungkin Lysander akan sekalian saja menyiapkan ring tinju untuk mereka baku hantam.
Babak belur udahlah tuh kedua adiknya. Ia tidak akan peduli. Karena sungguh Lysander juga lelah melihat Calix dan Orion terus menerus cekcok hingga berakhir physical abuse. Setidaknya jika mereka diatas ring mungkin kedua bisa menyalurkan 'kasih sayang' melalui kepalan tangan, meskipun agaknya hal tersebut terdengar anti-mainstream.
Disisi lain Orion, ia tidak terima dengan penolakan dan pendirian dari papanya dan Calix. Semenjak Andreas yang uring-uringan, ia jadi tidak bisa menginap di rumah sakit menemani Aurelian.
Selain karena Andreas yang sama sekali tidak mau pulang, kedua kakak tertua juga menolak untuk menyerahkan jadwal menginap secara bergantian padanya. Yah, tetapi untuk Lysander terkadang ia selalu mengalah dan membiarkan Orion untuk mengisi jadwalnya.
"Sudahlah Orion, kau bisa menginap besok saja." Lysander memberikan sebuah pengertian pada Orion yang merasa bahwa pembagian jadwalnya menjadi tidak adil.
"Tidak mau. Seharusnya kan setiap orang menginap disini dua hari sekali. Sedangkan papa malah setiap hari. Ini tidak adil, kak!" Si bungsu berseru kekeuh matanya menunjukan tanda tidak terima dengan keputusan dan saran yang diberikan oleh Lysander.
Sedangkan Lysander sendiri sebenarnya juga merasakan hal yang sama. Namun kala ia mengingat raut wajah sang papa saat itu membuat ia jadi tidak tega untuk membawanya pulang. Tolong kesampingkan fakta jika ia sempat menyeret Andreas untuk masuk ke kantor sebelumnya, itu merupakan keadaan tidak terelakkan dimana kertas dokumen sudah menggunung memenuhi meja jika tidak segera di periksa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hyacinth
Random[Brothership, Familyship, & Bromance Area] [Not BL!] . . . Perlakuan kasar juga sikap acuh tak acuh menjadi landasan penyesalan mereka saat melihat tubuh itu terbaring kaku di ranjang pesakitan setelah sebelumnya di tangani oleh dokter. Satu kali...
