Pagi-pagi sekali Aurelian sudah bangun dan bersiap rapih, menunggu diatas kasur dengan senyuman lebar untuk sebuah ajakan pergi yang sempat manjadi janji kala itu. Hatinya berdegup kencang karena kepalang senang, karena untuk pertama kalinya, dia akan pergi untuk liburan bersama dengan papa dan saudaranya.
Ketukan di pintu kamar membuat pandangannya terangkat, dirinya berjalan riang untuk membukanya hingga sosok Andreas muncul menyapa dengan senyuman tipis. "Sudah siap?" Tanyanya dibalas anggukan penuh semangat dari sang anak.
"Sudah!" Jawabnya memekik manis.
Meraih tangan Aurelian untuk digenggam, mereka berdua lantas berjalan menuju lift untuk turun ke lantai pertama dimana anak-anaknya yang lain sudah menunggu.
Dentingan disusul oleh pintu lift yang terbuka membuat ketiga pemuda yang duduk di sofa itu bangkit untuk mendekat. Lysander, Calix, dan Orion kini tampil dengan pakaian santai mereka, menunggu kedatangan dari si manis agar bisa segera berangkat ke tempat tujuan.
"Kita berangkat sekarang anak-anak?" Tutur Andreas.
"Ya!" Sahutan itu beradu dengan berbagai intonasi. Aurelian dan Calix yang bersemangat, Orion yang menjawab lesu, dan Lysander yang memilih untuk diam memperhatikan.
Mobil melaju dengan Lysander sebagai supir, disampingnya duduk sang papa, sedang ketiga adiknya duduk dikursi penumpang bagian belakang dengan Aurelian diapit Calix dan si bongsor Orion.
Perjalanan menuju destinasi wisata berjalan dengan baik sebelum akhirnya kejahilan dari putra kedua Andreas itu muncul. Berdekatan dengan adiknya memang selalu Calix jadikan sebuah kesempatan untuk melancarkan aksi yang tiada habisnya hanya untuk membuat mereka kesal.
Seperti contohnya saat jalan berkelok kanan dan kiri, meskipun laju mobil tergolong pelan namun Calix dengan heboh menyeret tubuh besarnya untuk menekan Aurelian juga Orion secara tidak langsung hingga membuat kedua adiknya kesusahan.
"Wah kak, hati-hati dong. Kau harus mengerem saat jalan berbelok begitu. Aku jadi menekan Aurelian karena mu." Ucap Calix menyalahkan si kakak sulung yang padahal di tilik dari sisi mana pun Lysander sudah melajukan mobil dengan sangat baik.
Mata hitam Lysander mendelik pada Calix melalui kaca spion bagian dalam mobil, "kau saja yang berlebihan."
Melihat kejahilan si kakak kedua, Orion yang memang pada dasarnya memegang prinsip "mata dibalas mata" itu langsung melayangkan aksi serupa menekan tubuhnya pada Aurelian hingga Calix pun turut merasakan hal yang sama kala jalan kembali berkelok.
"Kak Sander menyetir mobil dengan asal-asalan, maaf ya." Katanya lempeng bahkan tidak terdengar merasa bersalah sedikit pun.
Sedang Aurelian yang duduk ditengah-tengah mereka tentu saja dibuat tidak nyaman. Tubuh kecilnya yang jika dibandingkan dengan Orion dan Calix berbeda cukup jauh tertekan sana sini hingga rasanya sebelum sempat mereka sampai ditempat nanti dia sudah tepar lebih dahulu.
Dan jurus andalan pun dilancarkan dengan nada yang terdengar lelah membuat Andreas dan Lysander menghela nafas serempak akan tingkah Calix dan Orion.
"Papa, tolong tukar tempat duduk dengan Lian."
.
.
.
Dan disinilah mereka sekarang, berdiri di tepi pantai sepi dimana pasir putih menjadi pijakan. Raut lelah Aurelian kini sudah berganti kembali oleh senyuman lebar kala biru dari air serta suara dari deburan ombak bersautan mengisi gendang telinganya.
Dirinya melangkah maju untuk bisa lebih dekat pada air laut yang menyeka bibir pantai dengan lembut hanya untuk membawa butiran pasir bersamanya. Dinginnya air asin itu menerpa kaki Aurelian menimbulkan sedikit sensasi geli kala air laut terasa membelainya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hyacinth
Rastgele[Brothership, Familyship, & Bromance Area] [Not BL!] . . . Perlakuan kasar juga sikap acuh tak acuh menjadi landasan penyesalan mereka saat melihat tubuh itu terbaring kaku di ranjang pesakitan setelah sebelumnya di tangani oleh dokter. Satu kali...
