Kedua pemuda itu kini sudah ada di pusat perbelanjaan. Ezekiel memegang tangan Aurelian erat takut jika mereka terpisah mengingat tubuh pendek dan kurus temannya itu memungkinkan terbawa arus orang-orang yang berlalu lalang.
Langkahnya yang berada didepan seolah memimpin sekaligus membuka jalan. Meskipun tempat itu tidak terlalu ramai pengunjung tetapi Ezekiel memastikan agar Aurelian tidak saling bertabrakan dengan orang lain dan menjaga sangat ketat.
Aurelian itu jarang atau bisa dibilang hampir tidak pernah keluar seperti ini bersamanya. Dulu, anak itu akan memilih langsung pulang ke rumah dibanding menghabiskan waktu diluar terlalu lama. Namun untuk pertama kalinya, Aurelian berinisiatif mengajaknya bermain seperti ini.
Sebenarnya sangat menyenangkan, namun Ezekiel pun merasa khawatir secara bersamaan.
"Lian, apa yang ingin kau beli?"
Aurelian yang tengah menatap kearah kakinya mendongak pada sang teman. Ia lantas menggeleng, "tidak tahu. Lian juga bingung." Jawabnya pelan.
Ezekiel menoleh dan tersenyum tipis. Aurelian pasti masih memikirkan tentang kedua bocah biang onar itu. Semenjak mereka pergi dari sekolah Aurelian yang sebelumnya terlihat bersemangat untuk bermain dengannya berganti melamun setelah pembicaraannya dengan Orion dan Hayden.
Adik manisnya ini memang selalu overthinking pada hal apapun.
"Kalau begitu, ayo kita beli makanan terlebih dahulu. Kita harus mengisi energi sebelum bermain." Ujarnya menarik Aurelian masuk pada sebuah bakery yang dipenuhi oleh makanan manis kesukaan teman manisnya.
Menuntun Aurelian untuk memesan meskipun anak itu malah terdiam tanpa respon excited seperti biasanya. Menunjuk beberapa pilihan cake yang sekiranya akan Aurelian sukai, Ezekiel juga memesan minuman sebagai penghanyut agar tenggorokan tidak seret saat memakannya nanti.
Setelahnya ia kembali menarik Aurelian menuju salah satu meja kosong di dekat jendela, menunjukan pemandangan dari orang-orang yang berlalu lalang menikmati dan berbelanja di pusat perbelanjaan tersebut.
Mereka duduk berhadapan dan Ezekiel masih menunggu topik obrolan yang akan keluar dari mulut Aurelian. Dirinya tahu jika temannya itu masih memikirkan mengenai Orion dan Hayden. Makanya, alih-alih membuka suara Ezekiel justru membiarkannya sementara Aurelian menyusun perkataan yang ingin ia ucapkan.
Manik madu itu mulai terangkat menatap pada sosok Ezekiel yang duduk sambil menopang dagu sambil memandang keluar kaca. Jemarinya bermain diatas pangkuan. Kini Aurelian pun juga merasa tidak enak karena terkesan sudah mengacuhkan Ezekiel, padahal pada awalnya ia yang mengajak Ezekiel untuk pergi bermain bersama.
"Eze." Panggilnya pelan disahut deheman dimana Ezekiel langsung mengarahkan fokus padanya.
Terpaku pada bagaimana mata itu menatap kearahnya. Aurelian kembali menunduk. Tatapan lembut Ezekiel membuat hatinya hanyut terbawa ketenangan yang dikeluarkan olehnya. "Maaf. Lian malah memikirkan hal yang lain dan tidak fokus pada mu." Ujarnya.
Ezekiel tersenyum tipis, "kau itu selalu saja." Katanya mendengus pelan, "Lian, tidak apa untuk marah sesekali. Itu adalah hal yang wajar karena kau merasa tidak nyaman akan apa yang terjadi disekitar mu. Ini juga pembelajaran kecil bagi Orion dan Hayden, karena jika dibiarkan itu bisa menjadi sebuah kebiasan buruk bagi mereka."
"Biarkan mereka meng intropeksi diri mereka akan hal tersebut." Jelas Ezekiel memberikan pengertian pada temannya.
"Ini bukan dari apa yang akan terjadi jika kau marah pada mereka, tetapi bagaimana mereka bertindak pada orang lain disekitar mereka. Baik Orion ataupun Hayden, tidak bisa terus menerus berkelahi untuk hal-hal sepele dengan mengedepankan egoisme mereka. Mereka harus belajar untuk mengendalikan emosi saat segala hal berubah tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Kau mengerti?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Hyacinth
Random[Brothership, Familyship, & Bromance Area] [Not BL!] . . . Perlakuan kasar juga sikap acuh tak acuh menjadi landasan penyesalan mereka saat melihat tubuh itu terbaring kaku di ranjang pesakitan setelah sebelumnya di tangani oleh dokter. Satu kali...
