Langkah yang dibawanya berhenti dilorong mengarah pada taman belakang sekolah, matanya melirik dari balik bahu menatap punggungnya yang kosong tanpa seorang pun disana. Tangan itu semakin terkepal dengan erat, rahangnya mengeras tanpa sadar, hatinya berdenyut sakit menghantarkan rasa sesak.
"Apa kini kau membuang ku Lian? Biasanya kau akan berlari mengejarku jika aku marah padamu."
Ada kekecewaan dalam gumaman yang ditunjukan oleh sosok teman manisnya.
Dulu, jika terjadi hal seperti ini biasanya Aurelian akan langsung mengejar dan menjelaskannya, menghibur dirinya agar keadaan diantara mereka mereda dan kembali membaik. Tetapi sekarang, setelah segala hal yang dihadapi mereka berdua selama ini, setelah Aurelian mendapatkan tempat disisi keluarganya, rasanya segala hal mengenai hubungan mereka mulai berubah dan merenggang tanpa sadar.
Aurelian tidak lagi seperti biasanya, tidak ada lagi pembelaan atau rayuan manis dari suara halus anak itu yang mencoba untuk meredakan suasana hatinya yang kacau. Meskipun sikap Aurelian pada dirinya tidak begitu berbeda, namun Ezekiel dapat dengan jelas merasakan suatu perubahan diantara mereka.
Tidak ada lagi Aurelian yang sering mengadu dan bergantung padanya. Tidak ada lagi cerita dimana dirinya akan menenangkan dan memberikan kenyamanan. Bahkan untuk bermanja, biasanya Aurelian juga akan datang padanya. Tetapi sekarang, Aurelian justru nampak lebih fokus pada hubungannya dengan Orion.
Ezekiel seperti dicampakan.
"Ah sialan. Ini sakit."
Ezekiel sering mendengarnya dari Aurelian saat anak itu bercerita jika dirinya seperti tidak dianggap oleh keluarganya sendiri, namun yang tidak disangka adalah kini Ezekiel merasakan sendiri perasaan itu. Rasanya sangat tidak nyaman hingga membuatnya ingin berteriak mengatakan bagian mana yang salah diantara mereka.
Ia menyandar pada bangunan sekolah, membiarkan tubuhnya luruh diatas rerumputan yang halus. Satu tangannya menutup mata kala dirasa ada sesuatu yang perlahan mengalir dari sana. Ia menangis, bukan karena dirinya cengeng, tetapi karena untuk pertama kalinya mereka berdua bertengkar hebat seperti ini.
Ezekiel tidak pernah menyangka bahwa hal ini akan terjadi, ia selalu mengira bahwa semuanya akan terus baik-baik saja. Hubungan dirinya dan Aurelian tidak akan merenggang walaupun sebenarnya dirinya sempat dibuat cemas saat Wilhelm sudah mulai menunjukan afeksi dan memperhatikan Aurelian. Meskipun begitu Ezekiel juga merasa bersyukur disaat bersamaan, karena itu artinya Aurelian tidak akan merasa sedih lagi dengan sikap buruk keluarganya.
Namun apa ini? Yang terjadi sekarang malah menyerang pertemanannya.
Memang apa salahnya? Dirinya hanya khawatir dengan Aurelian, tapi kenapa anak itu malah berbalik marah padanya? Ia hanya tidak ingin jika Aurelian bersedih lagi. Ia hanya ingin menjaga teman satu-satunya.
Aurelian sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri. Melihat Aurelian sedih dan sakit membuat Ezekiel merasakan hal yang sama. Ia hanya ingin melindungi Aurelian dari hal itu saja. Apa itu salah untuk dilakukan?
.
.
.
Aurelian melirik kursi disebelahnya yang kosong, "Eze, pasti marah pada ku sekarang." Gumamnya pelan menatap lamat pada bangku kosong milik Ezekiel.
Pada saat bel yang menunjukan selesainya waktu istirahat berbunyi, dirinya langsung masuk ke kelas dengan diantarkan oleh Orion. Berharap saat sampai disana ia akan menemukan Ezekiel untuk bisa berbicara padanya. Namun nampaknya Aurelian terlalu percaya diri saat mengira bahwa Ezekiel akan menunggunya untuk menjelaskan.
Bahkan saat bel pulang berbunyi Ezekiel masih belum kembali ke kelas. Aurelian khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk pada teman dekatnya itu. Manik madu Aurelian beralih menunduk pada buku catatan yang terbuka, menulis sesuatu diatasnya kemudian menyimpannya diatas meja milik Ezekiel sebelum akhirnya bangkit mengikuti Orion yang menunggu diluar kelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hyacinth
De Todo[Brothership, Familyship, & Bromance Area] [Not BL!] . . . Perlakuan kasar juga sikap acuh tak acuh menjadi landasan penyesalan mereka saat melihat tubuh itu terbaring kaku di ranjang pesakitan setelah sebelumnya di tangani oleh dokter. Satu kali...
