Sudah hampir satu minggu Aurelian pulang dari rumah sakit. Selama itu pula dirinya menjalani pemulihan mandirinya dengan dipantau oleh Frans yang sesekali datang ke kediaman untuk memeriksa kondisi tubuhnya.
Sekarang disinilah ia, berdiri dengan dibantu oleh Lysander. Berdasarkan saran dari Frans, mereka bisa mencoba untuk membantu Aurelian dalam rehabilitasinya. Meskipun seharusnya hal tersebut dilakukan di rumah sakit dengan pantauan langsung, tetapi Aurelian menolak keras akibat sudah terlalu bosan dengan tempat itu. Yah, setelah sembuh entah mengapa anak itu menjadi sedikit pembangkang, mungkin tertular Orion mengingat si bungsu memang lengket sekali pada kakak ketiganya.
Kedua tangannya digenggam oleh Lysander erat, dituntun untuk bisa melangkah lebih stabil diatas lantai marmer putih bersih itu. Sesuai arahan dari Frans, meskipun sempat dibuat khawatir jika Aurelian terjatuh tetapi mereka memutuskan untuk tidak mengalasi lantai dengan karpet agar bisa membantu merangsang saraf sensoriknya.
"Pelan-pelan, Lian. Jangan terburu-buru."
Andreas dengan dua anaknya yang lain mengamati setiap langkah dari kaki Aurelian yang terlihat masih bergetar menopang tubuhnya meskipun sudah dibantu oleh Lysander. Tangan kurus anak itu mencengkeram erat pergelangan sang kakak meskipun dirinya tahu jika Lysander pasti akan menjaga agar tidak terjatuh.
Sudah langkah kelima, dan saat itu pula lah Aurelian menumpukan seluruh tubuhnya pada kakak sulungnya. Ia sudah tidak kuat untuk menopang dirinya sendiri terlalu lama hingga akhirnya ia memeluk Lysander dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang itu. "Lian lelah, kak."
Mengelus kepala adiknya, lantas ia bawa tubuh kurus itu dalam gendongannya lalu berjalan menuju sofa dan duduk disana dengan memangku Aurelian. Calix mendekat secepat kilat, menyodorkan segelas air yang diterima oleh Aurelian bersamaan dengan itu ia mengelap keringat yang ada di pelipis adiknya menggunakan sapu tangan.
Senyuman manis Calix dapatkan sebagai balasan, "terimakasih, kak."
Kakinya yang selonjoran dipijat ringan oleh Lysander. Katanya memberikan pijatan bisa membuat aliran darah menjadi lebih lancar juga. Selain itu Lysander berjaga-jaga jika adiknya merasa pegal sehabis berlatih berjalan tadi.
Menikmati kemanjaan sambil bersandar pada dada bidang Lysander, tatapannya terpaku pada satu titik dari lemari kaca yang ada di ruang utama. Rasanya ada sesuatu baru yang terpajang disana namun Aurelian merasa familiar dengan hal itu.
Andreas turut melihat ke arah pandangan sang anak yang kini menyipitkan matanya. "Itu... piala yang Lian dapatkan dari olimpiade sebelumnya. Papa lupa mengatakan jika papa memindahkannya ke lemari kaca untuk dipajang."
Mata Aurelian berkedip kearah papanya, "bagaimana bisa papa menemukannya? Seingat Lian, Lian menyimpannya di tempat tersembunyi."
Andreas tersenyum tipis, "papa pandai bermain petak umpat." Katanya asal mengundang delikan dari anak manisnya.
"Tidak ada hubungannya, papa."
Terkekeh, Andreas merasa terhibur dengan ekspresi Aurelian saat ini. Apa karena ini juga Calix begitu senang menggodanya? Rasanya sekarang ia juga akan lebih sering untuk melakukan hal yang sama karena merasa candu dengan raut wajah sang anak yang mendelik sinis kearahnya.
Manik madu Aurelian kembali mengarah pada piala yang mana disampinya terdapat piagam juga medali perak miliknya. "Apa ... papa bangga dengan hal itu?" Tanyanya.
Jantung Aurelian berdegup kencang menunggu jawaban Andreas. Ia ingat jika dulu sang papa bahkan tidak melirik sedikit pun kearahnya dan memilih untuk berpaling kala ia menunjukan piala hasil dari kerja kerasnya. Tanggapan dingin Andreas dulu sempat membuat anak itu merasa jatuh dan berpikir jika mungkin apa yang ia berikan tersebut belum lah cukup.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hyacinth
De Todo[Brothership, Familyship, & Bromance Area] [Not BL!] . . . Perlakuan kasar juga sikap acuh tak acuh menjadi landasan penyesalan mereka saat melihat tubuh itu terbaring kaku di ranjang pesakitan setelah sebelumnya di tangani oleh dokter. Satu kali...
