50

6.6K 611 19
                                        

Raymond dan Elaena sedikit berlari dalam langkahnya mengejar sang anak, sedang Hayden tidak menoleh sedikit pun saat orang tuanya memanggil beberapa kali meminta ia berhenti atau setidaknya memelankan laju jalan.

Berhenti tepat disamping motornya, ia mengambil helm. Namun belum sempat ia memakainya, tangan sang ayah menghentikan pergerakannya. "Tunggu, nak! Ayah mohon dengarkan ayah dulu."

"Dengarkan apa lagi ayah?!" Hayden membentak saat menjawabnya, menghempas kasar tangan sang ayah. Mata anak itu nampak memerah dengan genangan air mata yang turun dari sana, rahangnya mengeras.

"Apa lagi yang harus aku dengar kali ini?" Lirihan pilu Hayden meluluh lantakan pertahanan Raymond dan Eleana. Sang nyonya Matarys itu sudah menangis melihat bagaimana kesedihan dimata anaknya yang timbul karena kelalaian mereka.

"Apa lagi yang harus aku mengerti?!"

Suara Hayden kembali mengencang menyentak orang tuanya yang bungkam akan kacaunya sang anak. Mengalihkan pandangan saat matanya melihat kearah sang ibu yang menangis dibelakang ayahnya.

Menarik nafasnya, Hayden mengusap kasar air mata yang turun di pipinya. "Apa selama ini aku belum cukup mendengarkan perkataan kalian? Apa selama ini aku belum patuh kepada kalian? Katakan ayah! Ibu! Katakan dengan jelas agar aku bisa merubahnya!" Hayden berteriak penuh rasa frustasi.

"Aku menunggu saat kalian mengatakan akan pergi untuk berkeja. Aku patuh dan pergi ke kamar saat kalian bilang jika kalian merasa lelah setelah melakukannya. Aku juga mendengarkan saat kalian meminta ku untuk menjadi dewasa dan mengerti akan keadaan yang kalian hadapi. Tapi apa kalian juga melakukan hal yang sama?"

"Apa kalian juga mengerti tentang diriku? Apa kalian mendengarkan keluhan ku? Apa kalian memberikan ku pengertian tentang apa kedewasaan itu rasanya? Kalian bahkan tidak menyadari bahwa aku... " Hayden menunjuk dirinya sendiri, "... Aku kesepian."

"Kalian selalu saja sibuk dengan diri kalian sendiri tanpa mempedulikan aku!"

"Kemana kalian pergi saat aku meminta kalian datang di malam ulang tahun ku? Kemana kalian saat aku terbaring diatas ranjang ku karena sakit saat itu? Kemana?! Jawab aku!"

Raymond dan Elaena tidak bisa mengatakan apapun saat tangis Hayden semakin terdengar mengudara. Bahkan suhu rendah dari musim dingin tidak anak itu hiraukan, karena justru dalam dirinya sekarang api kemarahan dan kekecewaan berkobar lebih besar dari sebelumnya.

Hayden bahkan sesekali memukul dadanya berusaha untuk menghilangkan sesak di dada membuat ia sulit untuk bernafas disela tangisnya yang hebat. Raymond, ia melangkahkan untuk bisa lebih dekat pada sang anak, memeluk tubuh Hayden erat meskipun anaknya memberikan perlawanan yang kuat.

Ia menekan kepala Hayden untuk bersandar pada dadanya, bungkam saat pukulan ia dapatkan dari sang anak yang terlampau kecewa akan sikap egois dirinya. "Maaf kan ayah, nak."

Pada akhirnya hanya kalimat itu yang sanggup Raymond ungkapkan sebagai pengobat kekecewaan sang anak. Sebuah kalimat singkat yang membuat tangis Hayden semakin kencang.

"Aku kesepian, ayah. Aku kesepian dirumah. Kenapa ayah dan ibu selalu saja pergi meninggalkan ku? Apa aku tidak sepenting itu bagi kalian? Atau apa karena kalian sudah tidak menyayangi ku lagi?"

Pertanyaan lirih dari suara parau sang anak menggores luka dalam dihati Raymond. Ia semakin membawa tubuh sang anak dalam rengkuhannya, menepuk punggung bergetar Hayden dan mengelus kepalanya. Ia menggeleng kecil.

"Tidak, nak. Hayden sangat penting untuk ayah dan ibu. Hayden adalah putra yang paling kami sayangi." Sekaligus harta yang lalai kami jaga. Lanjut Raymond dalam hati.

HyacinthTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang