38

7.4K 653 35
                                        

Sudah satu minggu berlalu, dan selama itu pula lah Aurelian mendekam di rumah sakit. Setelah kejadian ia pingsan hari itu, Frans menyarankan untuk tetap disana agar mempermudah dalam pengawasan dan pemantauan mengingat semakin hari tubuh Aurelian semakin lemah.

Piyama putih khas pasien pun terpasang apik ditubuhnya yang lebih kurus, ia menghala nafas saat tangan yang tadi menyeka kepalanya di penuhi oleh helaian rambut. "Aku... harus memotongnya." Ujarnya pelan dengan nada getir.

"Kak, sudah selesai?" Orion bertanya dari balik pintu kamar mandi setelah mengetuknya beberapa kali membuat Aurelian langsung membuang helaian dari rambut miliknya ke dalam tong sampah yang tersedia disana dan mencuci tangannya, setelah itu membuka pintu sambil tangannya yang lain menggiring tiang infusnya.

Ia tersenyum pada adiknya itu, "maaf membuat mu menunggu, Rion."

Tidak menjawab, Orion menuntun kakaknya menuju ranjang dan membatu mendudukannya. Setelah ujian selesai Orion memang menghabiskan waktunya untuk menjaga Aurelian di rumah sakit mengingat papa dan kedua kakaknya memiliki kesibukan yang lain dan hanya dia yang senggang karena sudah memasuki waktu liburan.

Namun, setelah semua kesibukan papa dan kakaknya selesai mereka pasti akan langsung datang ke rumah sakit untuk menemani kesayangan mereka. Secara bergantian menginap meskipun pada awalnya ingin semuanya tetap disana. Tapi mau bagaimana lagi, meskipun menggunakan privilege ruangan VVIP, mereka tidak bisa seenak jidat menggunakan dan menganggu kenyamana dari petugas dan pasien lainnya.

Jadinya setiap hari maksimal hanya ada dua orang dari keempatnya yang berjaga di kamar Aurelian.

Aurelian duduk di tepi ranjang, tubuhnya yang mengarah pada jendela besar dimana cahaya matahari masuk dengan sempurna menyorot masuk kedalam ruangannya. Satu tangannya memainkan rambut yang memang cukup panjang dengan jari, "Rion bisa memotong rambut?" Tanyanya pada sang adik yang duduk di kursi tepat di hadapannya, mengurung Aurelian dengan kedua tangan diantara disisi tubuhnya.

"Tidak." Jawabnya, ia ikut mengulurkan tangan menyentuh pada rambut hitam sang kakak, menyelipkannya pada belakang telinga kala dirasa helaian itu menghalangi wajah Aurelian.

"Rambut ku semakin menipis, rasanya tidak nyaman saat itu terus menerus rontok." Ucap Aurelian dengan senyumannya yang jujur saja Orion tidak suka melihat senyuman itu, karena hatinya terus berdenyut sakit seperti teriris.

Mulutnya diam tidak mengangkat suara membiarkan kakaknya untuk terus berbicara. Ia takut tidak bisa menahan perasaan sesaknya, karena itu ia memilih untuk mendengarkan saja suara halus itu menari di telinganya sambil menatap dalam penuh perhatian pada sang kakak.

Raut wajah berubah kala ia mengingat sesuatu, "ah! Kakak ingat! Papa kan hebat sekali dalam menata rambut. Nanti akan kakak tanyai saja padanya."

Orion berdehem menjawab pelan sembari jemarinya terus bergerak membelai lembut bingkai indah dari rupa kakaknya. Turut tersenyum saat melihat bibir pucat itu mengangkat kedua sudutnya dengan lebar. Tatapannya begitu lembut yang mana Orion tidak pernah menampakan hal itu pada siapapun sebelumnya.

Ditengah keheningan yang nyaman itu ketukan brutal dari arah pintu membuat Orion berdecak sebal, merutuki orang yang berani menganggu waktunya dengan sang kakak.

"Kak Lian! Lio yang tampan ini datang untuk menjenguk!" Teriakan membahana terdengar, Orion didalam sana sontak memutar bola matanya malas. Siapa yang memberitahu teman-temannya itu tentang keberadaan sang kakak yang ada disini? Batinnya.

Aurelian terkekeh, ia menepuk bahu Orion beberapa kali, "sudah. Buka saja pintunya. Kakak juga tengah merasa bosan sekarang."

"Kau bosan disaat aku dengan mu?" Tanya sang adik sembari bangkit membuat Aurelian melambaikan tangannya menunjukan kata tidak.

HyacinthTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang