37

6.7K 660 20
                                        

Suapan demi suapan masuk kedalam mulutnya, lalu berhenti pada yang keempat. Aurelian menutup mulutnya merasa pahit dengan makanan yang masuk kesana. Manik madunya beralih pada potongan brownies kesukaannya, dengan menggunakan garpu kecil ia membawa kue itu bisa dinikmati.

Mulutnya mengunyah dengan perlahan, rasa manis yang seharusnya ia rasakan dari brownies itu berubah menjadi rasa pahit yang begitu kental di lidahnya sampe pada saat ia menelannya, Aurelian langsung menegak air minum di gelasnya.

Kini matanya menatap lamat pada semangka yang sudah dipotong dadu. Ada keraguan saat ia ingin memakannya, takut jika rasa pahit itu juga akan kembali datang mengganti manis dari buah kesukaannya.

Tingkahnya itu tidak lepas dari mata papa dan saudaranya. Lysander maju dan duduk di sisi ranjang Aurelian, menatap adiknya dengan senyuman lembut. "Buah bagus untuk meningkatkan nafsu makan." Ujarnya sembari mengambil potongan semangka itu dan memakannya.

Mengunyahnya kemudian mengambil potongan lain untuk ia sodorkan pada Aurelian, "cobalah. Semangkanya sangat manis dan segar." Lanjut Lysander.

Meskipun nampak ragu, Aurelian memakan suapan kecil dari sang kakak. Menggerakan giginya untuk mengunyah, kandungan air dari buah merah itu menyebar memenuhi rongga mulutnya. Benar kata Lysander, buahnya terasa lebih enak jika dibandingkan dengan makanan yang ia makan sebelumnya. Rasa pahitnya tidak begitu ketara hingga tangan Aurelian mencomot potongan lain untuk bisa ia nikmati.

Lysander yang melihat itu semakin mengembangkan senyumnya, tangan besar miliknya terulur ingin mengusak kepala adiknya yang begitu menggemaskan. Namun Aurelian malah menghindar dengan cara memundurkan tubuhnya, "maaf kak, Lian takut nanti rambutnya jatuh ke makanan." Katanya tersenyum sendu menunduk melihat pada potongan semangka di tangannya.

Lysander tertegun, tanpa dijelaskan lebih lanjut pun ia sudah mengerti dengan jelas maksud dari perkataan Aurelian. Tetapi bukannya mengurungkan niat, dirinya justru mendekatkan wajahnya pada sang adik, mengarahkan wajah itu untuk mendongak, setelah itu ia membubuhkan kecupan ringan di dahi Aurelian dan mengelus pipi pucatnya.

Ia berharap dengan melakukan hal itu, dirinya bisa memberikan sedikit ketenangan pada Aurelian juga caranya untuk memberikan semangat pada sang adik yang tengah berjuang, karena seperti yang dikatakan Lysander bukan seorang yang bisa mengungkapkan perasaannya melalui ucapan.

Mendapatkan perlakuan manis dari kakak sulungnya lantas senyuman manis di bibir Aurelian terbit dengan lebarnya nyaris membuat matanya tenggelam. Ia mengarahkan semangka ditangannya pada Lysander, "buka mulut mu, kak."

Kembali mengingat pada perkataan sang papa yang mengatakan jika kini dirinya tidak sendiri lagi. Aurelian tidak bisa membayangkan jika sekarang ia masihlah diabaikan oleh mereka. Rasa sakitnya mungkin akan berkali-kali lipat.

Sayang sekali Aurelian, jika kau tahu bahwa di timeline waktu pertama kau sendirian hingga kematian mu, apakah kau akan tetap tersenyum dengan bahagia bersama keluarga mu? Apakah rasa sakit dari kesepian mu itu akan tetap ada? Apakah kau bisa memaafkan mereka seperti sekarang?

Andreas yang melihat itu dari kejauhan terdiam. Rasa bersalah dihatinya kembali menyerang hingga ia memilih untuk mengalihkan pandangannya pada layar tab ditangannya dengan pikiran berkecamuk dan hal itu tidak lepas dari pandangan Calix yang memperhatikan tingkah aneh papanya sedari tadi.

Sebenarnya sejak awal perubahan Andreas sendiri sudah memberikan tanda tanya besar dibenaknya. Mungkin awalnya ia berpikir jika perubahan Andreas memang didasari oleh perasaan bersalah dibarengi kecemasan berlebihnya pada Aurelian dan berakhir dengan timbulnya kasih sayang diantara mereka. Namun, Calix merasa bahwa ayahnya seperti menyembunyikan hal yang lebih besar.

HyacinthTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang