Keadaan diruang rawat Aurelian menjadi hening, Orion yang sebelumnya menolak saat sang kakak memberikan ketenangan pada musuhnya pun kini terdiam kala Hayden meringsut masuk di pelukan Aurelian dan menangis disana.
Baik Andreas, putra-putranya, ataupun mereka yang ada disana kembali terpaku pada pikiran masing-masing setelah mendengar cerita Hayden yang terasa sangat familiar dengan seseorang. Meliri pada Aurelian yang tengah mengelus lembut kepala Hayden di bahunya, tangan Andreas terkepal erat.
Ia bangkit dan berjalan keluar meninggalkan ruangan tanpa sempat untuk meninggalkan sebuah pesan kemana ia akan pergi. Wajahnya dingin tanpa emosi menyembunyikan keadaan sebenarnya dari apa yang tengah ia rasakan. Langkah yang ia bawa pun cenderung terburu seolah Andreas tidak ingin membuang banyak waktu.
Masuk kedalam mobil, telepon yang tersambung itu menampilkan nama Raymond Matarys sebagai penerima panggilan. Seseorang paling menyebalkan yang sebenarnya sangat Andreas hindari dikarenakan sifat keras kepala dan ambisiusnya.
"Dimana kau sekarang?" Tanyanya cepat tanpa basa basi ataupun sekedar sapaan kecil.
Raymond disebrang sana mengernyit kan dahinya merasa penasaran kenapa rival bisnisnya mencarinya. "Rumah ku. Ada apa?"
Setelah mendengar jawaban itu, Andreas langsung menutup telepon. Kakinya menekan pedal gas mobil bersamaan dengan tangannya yang mengalihkan persneling membuat laju kecepatannya semakin tinggi hingga Andreas bisa sampai di kediaman Matarys lebih cepat.
Ia keluar dari mobil dengan membanting pintu menimbulkan bunyi yang cukup keras. Raut wajahnya yang tidak bersahabat membuat dua penjaga didepan pintu utama saling melirik satu sama lain akan kedatangan tiba-tiba dari sang kepala keluarga Wilhelm yang terkenal.
"Panggil tuan kalian, aku ingin bertemu dengannya sekarang juga!" Katanya tegas.
Salah satu orang kemudian pergi menemui Raymond untuk menyampaikan perkataan Andreas sedang satu lainnya tetap berjaga didepan pintu sembari memperhatikan Andreas sesekali. Punggungnya terasa dingin saat Andreas menatapnya tajam, meskipun hanya sekilas tetapi ia bisa merasakan dengan jelas jika terjadi sesuatu hal yang tidak bagus antara sang tuan dengan Andreas.
Kedua bilah pintu besar kediaman terbuka menampilkan sosok Raymond dan penjaga yang tadi memanggilnya. Mereka berhadapan dengan Raymond yang kebingungan dan Andreas yang menatap datar kearahnya. Saat mulut Raymond terbuka untuk bertanya, tubuhnya lebih dulu didorong oleh Andreas. Sang kepala keluarga Wilhelm tanpa menunggu dipersilahkan masuk kedalam kediaman Matarys dan membawa langkahnya menuju ruang utama lalu duduk disana. Terkesan tidak tahu diri tetapi Andreas tidak peduli dengan hal itu.
Raymond dibelakangnya menghela nafas. Ia duduk berhadapan dengan Andreas yang terlihat serius, "apa yang ingin kau bicarakan hingga kau datang tiba-tiba kemari?"
Andreas tidak langsung menjawab, ia menatap dalam kearah rivalnya itu. "Raymond, sebenarnya kenapa kau sangat ingin bersaing dengan ku?"
Kerutan halus tercetak di dahi Raymond, "kau datang kemari hanya untuk mempertanyakan hal itu?"
"Jawab pertanyaan ku, Raymond! Untuk apa sebenarnya persaingan yang kau ciptakan ini?" Andreas berujar tegas.
Kini raut wajah Raymond nampak lebih serius, "lalu, apa yang akan kau lakukan saat mengetahui alasannya? Apa kau akan menggunakannya untuk menjatuhkan ku?"
"Aku tidak memakai cara rendahan seperti itu untuk mempertahankan apa yang aku miliki." Tutur Andreas.
"Aku hanya ingin menjadi salah satu orang yang berhasil menjatuhkan mu, Andreas. Orang tua ku, bahkan sampai akhir hayatnya selalu membandingkan ku dengan dirimu, mengatakan bahwa kau terlahir berbakat sedang aku hanyalah seonggok sampah tidak berguna. Karena itulah sekarang, aku ingin membuktikan pada mereka yang sudah mati jika aku, orang yang mereka sebut sebagai sampah ini bisa menjadi lebih baik dari sebuah berlian yang selalu mereka banggakan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Hyacinth
De Todo[Brothership, Familyship, & Bromance Area] [Not BL!] . . . Perlakuan kasar juga sikap acuh tak acuh menjadi landasan penyesalan mereka saat melihat tubuh itu terbaring kaku di ranjang pesakitan setelah sebelumnya di tangani oleh dokter. Satu kali...
