48

5.6K 616 15
                                        

Hayden berdiri dihadapan orang tuanya dengan tangan terkepal erat dan kepala yang menunduk dalam. Rahangnya mengeras, bibir bawahnya ia gigit kuat menahan rasa kecewa dan kesal memenuhi dada.

"Hayden, kami melakukan ini juga untuk mu! Apa hal seperti ini saja kau tidak mengerti?! Kau sudah dewasa!" Ujar ibunya membentak, Elaena Matarys.

Ia dan suaminya baru saja pulang dari perjalanan bisnis mereka dan ketika sampai langsung disuguhi dengan Hayden yang menunggu untuk berbicara di ruang utama. Sebuah hal yang tidak pernah terjadi karena jika mereka pulang Hayden selalu pergi keluar. Meskipun awalnya ingin menolak karena lelah sehabis bekerja, mereka akhirnya memberikan sedikit waktu pada Hayden untuk menyampaikan perkataannya.

Namun saat pembicaraan berlangsung mereka justru dibuat kesal dengan apa yang Hayden utarakan. Rasa lelah yang tadi sempat hilang karena putra semata wayang menunggu untuk bicara seketika itu kembali mendominasi, membuat suasana hati keduanya jadi buruk.

"Kembali lah ke kamar mu, kami lelah!" Ujar sang kepala keluarga, Raymond Matarys sembari mengurut pelipis menghilangkan rasa sakit di kepalanya akibat dari aktivitas tiada henti yang mereka lakukan selama pergi.

Menarik nafas kemudian menghembuskannya, emosi yang Hayden tahan selama ini membungbung tinggi didada hingga membuatnya sesak. Ia ingin berteriak mengatakan segala hal yang ia rasakan pada orang tuanya sekarang. Namun Hayden, meskipun dia suka membuat masalah sana sini untuk menarik perhatian mereka pada akhirnya kala dihadapkan di situasi seperti ini mulutnya berubah kelu.

Bungkam, dan membiarkan semuanya bergejolak didalam dirinya.

Ia berbalik dengan rasa kecewa yang dalam pada sosok ibu dan ayahnya, "pada kenyataannya, aku tidak pernah meminta hal itu pada kalian. Aku hanya ingin waktu kalian, bukannya harta juga kejayaan yang kalian perjuangkan selama ini." Ujarnya sebelum pergi keluar dari keadiaman besar Matarys. Meninggal orang tuanya yang membeku ditempat tersentak akan pernyataan sang anak.

Tersadar oleh deru suara motor yang nyaring, Hayden memilih untuk pergi daripada memancing permasalahan yang mungkin akan dianggap hal sepele oleh orang tuanya.

Pikirannya kalut, Hayden mengendarai motornya dengan kecepatan diatas rata-rata. Matanya memerah dengan bingkai bening yang siap luruh kala ia mengedip sedikit saja. Inilah sifat sebenarnya dari seorang Hayden Matarys, pemuda lemah yang tengah berpura-pura untuk bisa menjadi kuat dan mandiri seperti apa yang diharapkan oleh orang tuanya.

Berusaha untuk mengerti setiap hal yang mereka lakukan dan mengobati dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa mereka tengah berjuang untuknya yang kesepian, menunggu dirumah besar untuk sebuah kepulangan sesaat sebelum mereka kembali pergi.

Menulikan pendengarkan saat beberapa orang yang ditabrak mengatai dirinya kala ia berjalan rusuh. Kini Hayden berdiri didepan sebuah kamar inap setelah ia menanyakan keberadaan orang yang dicarinya pada perawat dibagian administrasi.

Suara tawa juga perbincangan yang hangat bisa ia dengar dari dalam sana. Tangannya tanpa pikir panjang menekan knop pintu dan membukanya. Matanya meliar dan terpaku pada sosok kurus diantara mereka yang duduk di samping Ezekiel.

Kehadirannya membuat orang yang ada didalam ruangan terpaku diam, Orion yang ingin bangkit menghadang saat Hayden mendekat pada kakaknya dihentikan oleh Emilio dan Mikhael kala mereka melihat sesuatu yang aneh dan tidak biasa dari gerak gerik sang pembuat masalah. Memberontak saat Hayden dengan seenaknya bersimpuh dan menumpukan kepalanya pada pangkuan Aurelian.

Tangis yang Hayden coba ia kendalikan sedari tadi lepas, air matanya secara perlahan turun membasahi celana Aurelian yang membeku bingung. Tetapi tangannya kemudian terangkat dan mengelus kepala Hayden, memberikan sebuah kenyamanan bagi anak itu hingga tangisnya semakin terdengar di ruangan yang mendadak hening.

HyacinthTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang