Setelah Orion melihat kakaknya berbincang dengan Hayden, tanpa menunggu lama lagi ia membawa masuk Aurelian kedalam. Raut wajahnya sungguh tidak enak dipandang, membuat beberapa orang merinding dibuatnya. Sedang Aurelian juga merasakan ketakutan yang sama dalam hati merutuki Hayden karena membuat ia dalam masalah besar.
Saat ia mengakui Emilio dan Mikhael sebagai adiknya saja Orion tidak terima padahal notabenenya mereka berdua adalah temannya sendiri, apalagi saat Hayden datang mengakui Aurelian sebagai kakaknya. Apa kabar dengan Orion dan sisi posesifnya terhadap Aurelian?
Masuk kedalam lift, aura menekan yang dikeluarkan adiknya sungguh membuat tidak nyaman. Melirik bayangan yang dihasilkan oleh pantulan lift, Aurelian meneguk ludah kasar saat mata Orion terlihat tajam mengarah padanya hingga spontan ia mengalihkan pandangan. Tangannya saling bertaut gelisah menunggu kapan ia akan sampai di lantai tempatnya dirawat saat waktu berjalan begitu lambat dalam lift yang secara kebetulan hanya dinaiki oleh mereka berdua.
Mulutnya saja yang tadi ingin mengeluarkan suara memilih bungkam. Orion terlalu mengintimidasinya sampai Aurelian berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sekecil apapun itu.
Dentingan lift disusul oleh pintu yang terbuka, Orion mendorong kursi roda kakaknya untuk masuk kedalam ruang inap. Tanpa kata membantu Aurelian keatas ranjang, tetapi saat ia ingin berpaling duduk di sofa, tangan kakaknya menahan pergelangannya.
"Rion." Panggilan pelan itu tidak membuat Orion menoleh ataupun menjawab.
Jemarinya terasa dimainkan, tatapan Aurelian mengarah pada adiknya yang berpaling, "ini tidak seperti apa yang kau pikirkan. Kakak hanya-"
"Aku tidak ingin mendengar alasan apapun dari mu, kak." Potong Orion.
"Tapi kau harus mendengarnya!" Tegas Aurelian. Ia menarik tangan Orion agar bisa bertatapan langsung dengan adiknya, namun meskipun tubuh itu sudah mengarah padanya tetapi pandangan Orion masih tertoleh kearah lain.
"Kakak tidak sengaja melihatnya lalu Hayden mendekat saat tatapan kami bertemu, itu sungguh diluar perkiraan ku. Kami hanya berbincang kecil saat kau pergi. Itu saja, sungguh!" Jelas Aurelian berusaha untuk meluruskan kesalahan pahaman ini kepada adiknya.
Yah, ia tahu jika Orion marah karena ia berbincang dengan musuhnya itu, tetapi apa harus sampai mendiamkannya begini? Lagian tidak ada hal yang spesial dari perbincangan mereka.
Menggigit bibir bawahnya saat Orion tetap tidak bergeming, "Rion, apa kau mendengarkan penjelasan kakak? Katakan sesuatu! Jangan mendiamkan kakak seperti ini. Kakak minta maaf, kakak tahu jika seharusnya kakak tidak melakukan hal itu. Seharusnya kita tidak perlu keluar saja dari ruangan ini." Ujar Aurelian yang terlihat semakin tidak tenang. Anak itu bahkan sudah terlihat akan menangis sekarang.
Aurelian sudah ketergantungan akan dekatnya hubungan ia dan keluarganya. Melihat Orion yang marah seperti ini membuat ia ketakutan sekaligus gelisah jika saja adiknya itu kembali menjauh. Memikirkannya saja sudah membuat Aurelian frustasi, apalagi jika hal itu benar-benar terjadi. Aurelian mungkin akan memilih untuk membiarkan penyakitnya sekarang dan mati.
Sudah dikatakan, rasa kesepian adalah hal yang dibencinya. Aurelian tidak akan sanggup merasakan hal itu untuk kedua kalinya.
"Kakak mohon jangan marah Rion. Jangan menjauh dari kakak."
Baru setelah lirihan kecil kakaknya, Orion menghela nafas pelan dan menunduk kearah Aurelian yang sudah menangis. Wajah yang tadinya berseri karena sebuah hadiah dari sang papa kini basah akibat air mata membuat Orion tidak tega dan merasa bersalah kala ia mengangkat kepala sang kakak untuk melihat kearahnya.
Ibu jarinya mengusap jejak yang ditinggalkan dari air yang mengalir di mata Aurelian dengan lembut, "aku tidak marah pada mu kak. Aku marah pada diriku yang meninggalkan mu sendirian di taman hingga Hayden bisa mendekat kearah mu. Aku juga tidak akan pernah menjauhimu kak, disaat kau sudah menjadi bagian terpenting dari hidup ku."
KAMU SEDANG MEMBACA
Hyacinth
Diversos[Brothership, Familyship, & Bromance Area] [Not BL!] . . . Perlakuan kasar juga sikap acuh tak acuh menjadi landasan penyesalan mereka saat melihat tubuh itu terbaring kaku di ranjang pesakitan setelah sebelumnya di tangani oleh dokter. Satu kali...
