41

6.3K 685 21
                                        

Aurelian menyantap makanan yang dibawa oleh Andreas dari rumah, sayang yang habis dimakan hanyalah buah-buahannya saja. Bahkan makanan kesukaannya, tumis udang saus mentega pun hampir tidak Aurelian sentuh karena mulutnya masih terasa tidak enak membuat setiap suapan yang masuk jadi pahit.

Andreas dan yang lainnya yang melihat itu pun terdiam dengan pikiran mereka masing-masing, tersadar saat Lysander mengambil langkah untuk mendekat pada adiknya itu. "Kenapa tidak dihabiskan juga udangnya, hm?" Tangan besarnya menyelipkan rambut Aurelian ke belakang telinganya.

"Pahit." Suara Aurelian mencicit, kepalanya menunduk menghindari mata sang kakak takut jika dirinya dimarahi. Senyuman tipis di bibir Lysander mengembang, membuat mata tajamnya melembut.

Tangan yang tadi dipipi tirus itu turun pada dagu lancip Aurelian, mengarahkan wajah sang adik untuk bisa melihat kearahnya, "kalau begitu ada makanan yang kau ingin kan? Kakak akan minta pelayan untuk membuatnya."

Aurelian nampak berpikir, lagian mau makanan apapun yang masuk kedalam mulutnya selalu saja terasa pahit, hanya buah-buahan saja yang rasanya masih bisa diselamatkan, dan ia bisa menikmatinya. Namun satu makanan tiba-tiba saja terlintas di kepalanya membuat mata madu itu mengarah pada Lysander nampak memelas.

"Sosis bakar yang waktu itu." Katanya mengedipkan mata beberapa kali sebagai usaha merayu sang kakak untuk memenuhi keinginannya.

Lysander terdiam mengingatnya, raut wajahnya berubah kala ia sadar apa yang Aurelian maksud. "Itu tidak sehat." Bantahnya tegas menolak, ia tidak akan membiarkan makanan itu masuk kedalam mulut adiknya.

"Tapi kakak sudah bertanya loh dan Lian sudah menjawabnya. Itu yang Lian ingin kan sekarang." Aurelian mendebat, mengambil satu tangan Lysander untuk bisa ia genggam erat, "ayolah kak. Satu saja. Minta koki di rumah saja untuk membuatnya, um? Lian mohon."

Sang kakak nampak berpikir sebentar sebelum melirik pada Andreas untuk meminta persetujuan hingga anggukan pelan ia dapatkan, "baiklah. Kakak akan minta koki membuatkannya untuk cemilan makan siang mu besok."

Perkataan sang kakak tentu mengundang binar kesenangan di manik madu Aurelian, mencium punggung tangan Lysander yang tadi digenggamnya, anak itu lantas berujar, "terimakasih!"

Baiklah, untuk kali ini Lysander akan membiarkannya. Bukannya tidak khawatir, tetapi karena koki kediaman yang akan membuatkannya secara khusus setidaknya ia sedikit lega, mengingat ada juga ahli gizi yang akan memantau penggunaan bahan-bahannya, dan tentu Lysander juga akan ikut turun tangan melihat pembuatan makanan itu.

Orion berdiri disamping ranjang menatap kedua kakaknya tanpa ekspresi, "sudahkan? Sekarang minggir, aku mau tidur dengannya." Katanya tidak tahu sopan santun mengusir Lysander yang masih berbincang kecil dengan Aurelian.

Menatap sengit si bungsu, Lysander lantas bangkit. Namun sebelum ia berlalu menuju sofa, jitakan mendarat di dahi Orion membuat anak itu meringis akibat rasa sakit berdenyut yang dihasilkan oleh jari besar kakak sulungnya, "sudah aku bilang, jaga ucapan mu pada kakak mu, Orion."

Orion mendelik, "kau berbicara dengan Lian terlalu lama. Aku juga mau bermanja." Ujarnya memelankan suara saat kalimat terakhir diucapkan. Membuang pandangan saat dirasa pipinya panas dan memerah.

Hal itu mengundang kekehan kecil dari Aurelian yang senang dengan tingkah menggemaskan Orion. Meja makan portabel yang tadi digunakan sudah di rapihkan oleh Lysander, jadinya ia bisa dengan leluasa menggeser tubuhnya dan menepuk sisi kosong memberikan kode pada Orion untuk naik dan tidur bersama.

Mengangkat selimut, dengan malu-malu Orion pun naik keatas ranjang menghiraukan kekehan kecil Aurelian serta beberapa reaksi dari papa dan kakaknya yang lain. "Rion kita ini memang masih kecil dan menggemaskan." Ujar Aurelian menggodanya sambil jari telunjuk menoel beberapa kali pipi Orion yang cemberut.

HyacinthTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang