Chapter ini update-an sebelumnya.
Jadi bagi kalian yang sudah baca, boleh di skip. Tapi kalau mau dibaca ulang juga boleh, saya akan senang jika begitu. ♡
.
.
.
Ruangan itu dipenuhi oleh kabungan dari mereka yang ditinggalkan. Mulut mereka mungkin terkatup rapat namun mata basah oleh air mata itu tidak dapat disembunyikan. Pandangan kosong mereka menatap pada sebuah peti yang terbuka menampilkan sosok pucat dari dia yang pergi tanpa meninggalkan sebuah kata ataupun tanda hingga membuat mereka tidak berkutik kebingungan dengan kebenaran dari yang terjadi sekarang.
Bagaimana dan kenapa hal ini bisa terjadi secara tiba-tiba? Dia bahkan terlihat sehat dan baik-baik saja sebelumnya, tetapi kenapa sekarang dirinya malah terbaring kaku dikelilingi oleh banyakn orang yang berduka?
Otak cerdas mereka tidak bisa berfungsi bahkan saat gebrakan dari pintu memekakkan telinga membuat orang-orang teralih pada seorang pemuda jangkung yang terlihat marah. Matanya memerah sedang tangannya terkepal erat akibat emosi didada yang membungbung tinggi. Setiap langkahnya menggema di ruang besar yang kini menjadi hening akibat dari kedatangannya yang nampak penuh tekanan.
Tanpa diduga kepalan tangan langsung mendarat di rahang sang tuan besar Wilhelm membuat tubuh itu limbung seketika diatas lantai. Beberapa orang menjerit sedang penjaga langsung menahan tubuh Ezekiel yang dilanda amarah ingin kembali menghajar tuan besarnya.
"Brengsek! Apa yang kau lakukan pada teman ku hingga dia jadi seperti ini?! Apa salahnya padamu, hah?!" Ezekiel berteriak memberontak berusaha melepaskan diri dari cengkeraman dua penjaga yang menahan tangannya.
Matanya memerah dengan nafas memburu menyorot tajam pada Andreas yang masih bersimpuh diatas lantai. Tatapan kosong yang dinamakan oleh pria paruh baya itu tidak membuat Ezekiel iba sekali pun. "Jika kau memang tidak menginginkannya maka berikan dia padaku! Berikan adik ku pada ku! Jangan malah membuatnya menderita!"
Matanya mulai basah, cairan bening itu turun melewati pipi disaat mulutnya terus berteriak kearah Andreas. "Sebenarnya apa masalah mu sampai kau tega membuatnya seperti ini?! Dia itu- adik ku itu bahkan selalu memikirkan mu. Memikirkan anak-anak mu! Tapi apa yang kalian berikan sebagai balasan dari kekhawatirannya? Apa?! Hanya derita!"
"Setelah semua itu, kalian semua bahkan tidak pantas untuk merasa sedih atas kematiannya. Pergi! Dan jalani kehidupan kalian! Aku sendiri yang akan mengurus Aurelian setelah ini."
Ezekiel menghempas paksa tangan yang menahan tubuhnya lalu berbalik menuju peti mati yang berisi tubuh temannya. Mendorong tubuh dari penjaga yang berusaha menghentikannya hingga terjungkal. Terkadang saat emosi menguasai kekuatan dari manusia akan bertambah berkali-kali lipat dan akan sulit sekali untuk dihadang.
Sampai tarikan kasar ditangannya membuat Ezekiel berbalik. "Jangan mendekati adik ku!" Itu adalah Calix. Sosok kakak kedua yang menjadi salah satu alasan dari derita Aurelian.
Ezekiel itu adalah tempat bagi Aurelian mengadu dan mengeluh. Meskipun saat di rumah anak itu selalu berusaha untuk kuat akan penolakan dan sikap abai dari keluarganya, tetapi saat bertemu Ezekiel semua pertahanan itu akan runtuh. Senyuman pedih yang ditunjukan oleh temannya dan suara lirih kala ia berujar akan selalu teringat dibenak Ezekiel, karena bersamaan dengan itu hatinya pun ikut teriris.
Saat kepala dari sosok yang sudah ia anggap adiknya itu beristirahat di bahunya, dan bagaimana tubuh Aurelian mulai bergetar serta tangan memegang erat baju yang ia kenakan. Berkali-kali ia mengajak Aurelian untuk ikut bersamanya, dan sebanyak itu pula Aurelian menolak dengan alasan khawatir. Padahal sejatinya, untuk apa ia merasa khawatir disaat orang yang ia khawatirkan bahkan tidak peduli sedikit pun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hyacinth
Random[Brothership, Familyship, & Bromance Area] [Not BL!] . . . Perlakuan kasar juga sikap acuh tak acuh menjadi landasan penyesalan mereka saat melihat tubuh itu terbaring kaku di ranjang pesakitan setelah sebelumnya di tangani oleh dokter. Satu kali...
