Epilog

7.1K 562 33
                                        

Cuacanya cukup cerah hari ini meskipun angin masih bertiup dengan kencang seolah berusaha untuk merontokkan setiap tulang saking dinginnya. Memeluk erat leher Andreas, Aurelian melusupkan wajahnya mencari kehangatan dari sana yang berbaur dengan aroma menenangkan dari bau parfum yang dikenakan sang papa.

Tubuhnya digendong karena rasa lemas masih bertumpu di kakinya hingga membuat ia tidak kuat berdiri. Sebenarnya, Frans menyarankan untuk melakukan pemulihan di rumah sakit, tetapi karena Aurelian sudah terlalu sumpek berada disana selama berminggu-minggu lamanya, ia akhirnya memaksa untuk langsung pulang saja dan melakukannya dirumah dengan sesekali dikontrol oleh Frans nantinya.

Mengintip dari bawah, rahang Andreas ia belai pelan membuat sang papa menunduk menatap kearahnya dengan senyuman dibibir. "Kenapa, hm?"

"Papa nampak lebih kurus. Pasti karena papa terus menerus menjaga Lian selama ini." Katanya saat menyadari jika rahang itu semakin terlihat tajam.

"Papa sudah berjanji untuk menemani Lian sampai akhir, ingat? Selain itu, menjaga mu adalah kewajiban papa sebagai orang tua."

Aurelian rasanya terharu mendengar hal tersebut. Ia kembali melingkarkan tangannya memeluk sang papa, "kalau begitu, saat pulang nanti papa harus banyak makan dan istirahat."

Andreas tersenyum, "begitu juga dengan mu." Katanya mengecup puncak kepala sang anak.

Mengamati jalanan melalui kaca depan mobil, Aurelian duduk dengan menyandar pada bahu papanya, satu tangannya dimainkan oleh Orion yang duduk disisi lain. Si bungsu Wilhelm menempelkan tangannya dengan tangan kakaknya, mengukur besar dari keduanya. Hm, kurus dan pendek. Jika Orion memberikan tekanan berlebih saat menekuknya mungkin jemari Aurelian akan patah saat itu juga, karena itu si adik memilih untuk menggenggamnya.

"Leo tidak pergi ke kantor?" Tanya Aurelian pada asisten kepercayaan papanya yang tengah menyetir.

Melirik sekilas dari kaca spion dalam, Leo pun menjawab, "tidak tuan muda. Khusus untuk tiga hari kedepan perusahaan diliburkan."

"Oh! Apa ada perayaan?"

"Mungkin bisa dikatakan seperti itu."

Jawaban Leo sedikit membuat Aurelian mengangguk mengerti. Dia tidak tahu saja jika sebenarnya Andreas sengaja meliburkan perusahaan selama tiga hari sebagai bentuk perayaan untuk kepulangan dirinya ke rumah. Sedikit berlebihan sebenarnya, tetapi Andreas harus melakukannya karena ia ingin menghabiskan banyak waktu untuk bisa bersama Aurelian tanpa harus memikirkan pekerjaan.

Jadi, hanya dengan menyimpulkan itu seharusnya kalian sadar jika Lysander tidaklah berangkat ke kantor melainkan pulang ke kediaman untuk menyiapkan kepulangan adiknya bersama dengan Calix. Yaps, Calix juga berbohong menganai ia yang pergi mengerjakan tugas, karena tugas itu sudah ia selesaikan semalam hingga membuatnya bergadang.

Berdiri di depan pintu dengan raut kegembiraan kala mendengar jika sosok yang ditunggu sudah sampai. Di masing-masing tangan mereka sudah terdapat confetti yang siap untuk diledakan saat pintu terbuka. Sebuah cara kekanakan yang tidak pernah terpikir akan mereka lakukan, terimakasih kepada Calix yang sudah menyarakan ide brilian itu.

Menunggu dengan tidak sabar, tangan Calix dan Lysander sudah pada posisi. Para pelayan juga diminta untuk ikut memeriahkan suasana dan beruntungnya mereka tidak menolak, justru para pelayan juga turut merasa senang dengan kepulangan sang tuan muda ketiga yang baik itu setelah mendekam di rumah sakit begitu lama. 

Pintu secara perlahan terbuka diikuti masuknya tuan dan dua tuan muda termuda. Aurelian dipapah oleh papa dan adiknya untuk masuk, tersentak saat suara confetti terdengar hingga membuat pegangannya pada tangan Andreas dan Orion menguat.

HyacinthTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang