Hai dear!
Sesuai janji, saya up lagi sekarang.
Saya mengerjakan chapter ini di kebut loh, jadi sebagai bayaran kalian harus vote dan komen. Awas aja kalau nggak saya ngambek. Hump 😤!
Ga deng.
Haha, bercanda guys!
Author ini kan baik hati dan tidak sombong, jadi nggak bakalan marah. // Cuman lagi ngasah pisau aja 🔪.
Dan meskipun terlambat saya ucapkan selamat Natal bagi kalian yang merayakan, lalu selamat liburan juga.
Ah sebagai info, kalau misal drafnya ada, nanti tahun baru saya bakalan double up deh.
Jadi, sampai jumpa di chapter selanjutnya bae~
Bye bye!
***
Note: tulisan miring = masa lalu atau penceritaan alur mundur.
.
.
.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan, tuan Andreas?"
Andreas duduk disamping Ezekiel menghiraukan tatapan dari anak itu yang menajam seperti tengah mengulitinya. Ezekiel menunjukan secara terang-terangan rasa tidak sukanya pada sang kepala keluarga Wilhelm sekaligus ayah dari temannya itu. Yah, dia bukan tipe orang munafik yang akan berpura-pura baik dihadapan orang yang jelas tidak disukainya.
Untuk beberapa saat tidak ada percakapan diantara mereka, membuat Ezekiel jengah dan berdecak kesal, "jika kau memintaku datang kemari hanya untuk membuang-buang waktu, maka aku akan pergi sekarang." Gertaknya.
Andreas menghela nafas pelan, "aku dengar kau bertengkar dengan putraku." Katanya membuka percakapan.
Kerutan samar tercetak didahi Ezekiel, "putramu? Yang mana?"
"Keduanya. Baik itu dengan Orion atau pun Aurelian. Tapi untuk sekarang aku berbicara tentang Aurelian."
Pria yang lebih muda darinya itu mendengus sinis, "setelah tidak berhasil berbicara dengan ku, kini dia meminta mu untuk ikut campur?"
"Anak muda, perhatikan cara bicara mu. Terlalu arogan tidak terlalu bagus, aku sudah merasakan sendiri akibatnya. Dan lagi, aku kira kau mengetahui sifat sebenarnya dari putra ku mengingat kalian berteman lama, namun nampaknya tidak seperti itu juga."
"Hah? Apa maksud mu?"
Manik kelam Andreas kini menyorot lurus pada Ezekiel, "Aurelian tidak akan meminta ku untuk melakukan hal seperti itu. Tapi mungkin ya, jika itu Orion maka bisa saja."
Tidak ada ekspresi berarti diwajah Ezekiel, matanya membalas dingin Andreas tanpa merasa takut atau tertekan sedikit pun dengan rentang usia diantara mereka, "jadi kau ingin mengatakan jika Orion mengadu pada mu? Tuduhan apa yang ia katakan hingga kau mengajakku untuk bertemu hari ini?"
"Aku juga tidak mengatakan jika Orion lah yang mengadu pada ku."
Ezekiel kembali berdecak, "kau terlalu bertele-tele. Langsung saja katakan apa maksud dari ajakan mu?"
Andreas nampak menyamankan dirinya punggungnya ia sandarkan pada sandaran kursi. Tatapannya beralih pada danau didepannya, "kau benar. Jadi, dari mana harus aku mulai?"
.
.
.
"Sudah selesai membelinya?"
Lysander mengangguk. Menghampiri papanya yang berdiri disamping mobil dengan seorang pemuda, ditangannya sudah ada kemasan box berisikan brownies seperti janjinya pada sang adik. Dahinya mengernyit kala melihat luka lebam di tulang pipi dan luka kecil sudut bibir Andreas. "Ada apa dengan wajah mu, papa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Hyacinth
Aléatoire[Brothership, Familyship, & Bromance Area] [Not BL!] . . . Perlakuan kasar juga sikap acuh tak acuh menjadi landasan penyesalan mereka saat melihat tubuh itu terbaring kaku di ranjang pesakitan setelah sebelumnya di tangani oleh dokter. Satu kali...
