31

11.6K 1K 51
                                        

Hai dear!
Mein is here!

Sebelumnya saya minta maaf karena kayaknya double up yang saya janjikan sebelumnya ga bakalan bisa terlaksana, karena saya baru ingat ada acara untuk tahun baru nanti.

Mungkin ada yang kecewa dengan hal ini, karena itu sebagai gantinya saya up sekarang saja ya. Meskipun tidak double, tapi chapter kali ini cukup panjang. Jadi semoga kalian puas.

Saya beneran lupa dear.
Lain kali ga bakalan lagi deh janjiin kayak gitu. Jatuhnya malah nge php in, huhu. Maaf ya sayang...

Oh ya, cuaca sekarang juga cukup ekstrem, jadi saya harap kalian menjaga kesehatan dengan baik.

So, enjoy your read!
And i hope to see you again, bae!
Luv you all!






***

Di dalam ruangan itu, kini hanya ada Ezekiel dan Aurelian. Terdiam dalam pikirannya masing-masing tanpa ada yang mau membuka suara. Kecanggungan memenuhi atmosfir disana membuat Aurelian mencuri pandangan kearah Ezekiel yang nampak tidak dalam suasana hati yang baik.

Menghela nafas untuk mengenyahkan rasa gugupnya. Tangannya yang bertaut menunjukan perasaan yang tercermin kan sekarang akan keadaan keduanya, "Eze-"

"Apa aku sudah tidak penting lagi bagi mu, Lian?"

Belum sempat berucap, kalimatnya dipotong oleh Ezekiel yang melihat kearah depan tanpa mau menatapnya. "Bagaimana bisa kau menyembunyikan hal sebesar ini dari ku? Membuatku mengetahuinya dari mulut orang lain."

Kepalanya menoleh lirih pada Aurelian yang terpaku ditempat, "apa sekarang pertemanan kita sudah tidak berarti lagi?"

Nafas Aurelian tercekat saat mata itu menunjukan terluka yang dalam. Maniknya bergetar, ia mengambil gerakan mendekat pada Ezekiel yang duduk di sisi ranjangnya. "Bukan. Lian tidak bermaksud seperti itu. Lian minta maaf. " Katanya lirih.

Tangan yang tadinya ingin meraih Ezekiel terhenti di udara saat temannya itu nampak acuh dan menjaga jarak. "Iya, kau bermaksud seperti itu. Karena jika tidak, kau pasti akan memberitahukannya pada ku, dan tidak akan membiarkan aku mengetahuinya dari orang lain."

Aurelian terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa disaat Ezekiel mengatakan hal tersebut. Dirinya mengakui kesalahannya yang berasal dari rasa takutnya itu. Oleh sebab itu, kini kepalanya menunduk tidak sanggup untuk sekedar menatap wajah temannya yang nampak kosong.

Duduk diatas ranjang dengan kaki terlipat sedang jemari tangannya saling meremat dan bermain disana, "Lian..." Lontaran perkataannya terdengar ragu, namun Aurelian memantapkan hati untuk mengatakan segalanya pada Ezekiel, seperti apa yang Calix sarankan padanya.

"... Lian hanya bingung bagaimana caranya untuk mengatakan hal ini pada Eze. Lian juga tidak ingin membuat Eze khawatir. Sudah cukup selama ini Lian selalu merepotkan Eze, karena itu... Lian menyembunyikannya. Maaf."

Ezekiel diam ditempatnya, matanya tertutup secara perlahan berusaha meredam emosi yang mulai naik kembali. Tangan yang terkepal erat pun ia simpan diatas pahanya. "Justru dengan kau menyembunyikannya dari ku, kau membuatku semakin khawatir Lian! Dan apa itu, Merepotkan? Apa maksud mu dengan itu? Apa aku terlihat kerepotan saat membantu mu?"

"Tidak sedikit pun! Aku bahkan akan melakukan apapun jika itu untuk mu Lian. Tidak bisakah kau menyadari hal itu?!"

Kepala Aurelian semakin menunduk dalam kala suara Ezekiel terdengar semakin keras. Maniknya mulai berkaca-kaca, bibir bawahnya ia gigit pelan saat isakan terasa akan keluar dari mulutnya.

HyacinthTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang