Calix masuk kedalam kamar mandi, melihat bahwa adiknya telah berada dalam gendongan sang papa. Tangan kurus itu melingkari leher jenjang Andreas, memeluknya erat dengan kepala menyelusup di ceruk leher papanya.
"Papa akan menggendong Lian. Kau tolong bawa tiang infusnya." Tutur Andreas yang di angguki oleh Calix.
Dengan satu tangan menopang tubuh ringan anaknya sedang tangan lain ada diposisi menahan punggung Aurelian untuk tetap bersandar, Andreas keluar dibarengi oleh Calix yang menggiring tiang infus adiknya. Tatapan mata pria empat anak itu terlihat redup mengarah pada Aurelian, sebuah kecupan ringan mendarat di puncak kepala sang anak.
Orion menunggu di depan pintu kamar mandi dengan wajah sendu, "panggilkan Frans. Jarum infus di tangan kakak mu sedikit tertarik yang membuat darahnya masuk kedalam selang infus." Titah Andreas. Dan sama seperti Calix, Orion hanya mengangguk dan keluar dari ruang inap itu.
Mendudukan tubuhnya, Andreas memangku Aurelian yang enggan melepaskan pelukannya. Ia mengelus punggung kecil yang terasa kurus itu, sesekali menepuknya pelan, sedang Calix yang sudah memposisikan kembali tiang infus itu disamping ranjang mengambil tempat di sofa dengan pandangan yang tidak lepas dari adiknya.
Sebuah alunan lullaby mulai mengisi ruangan hening itu. Mulut Andreas yang terkatup mengeluarkan sebuah suara senandung untuk bisa menenangkan kembali pikiran dan jiwa sang anak yang terguncang. Meskipun terdengar begitu maskulin, tetapi bagi Calix dan Aurelian suara itu begitu lembut.
Bahkan tepukan ringan itu benar-benar membuat Aurelian rileks. Ia semakin menyandarkan dirinya pada tubuh kokoh sang papa. Tangan yang melingkari leher jenjang Andreas pun semakin erat, hingga mata itu Aurelian biarkan untuk menutup saat tangan sang papa membelai kasih kepalanya.
"Jika Lian merasa lelah, bersandar lah pada papa. Papa akan selalu ada disini."
Dapat Andreas rasakan gerakan dari anggukan pelan yang diberikan Aurelian sebagai jawaban perkataannya. "Jangan pernah berpikir untuk menyerah, nak. Kita berjanji untuk melalui ini bersama. Lian ingat itu?"
Kembali, Aurelian mengangguk.
"Papa tidak bisa jika tanpa mu, sayang."
Andreas akan lemah. Sangat lemah hingga sebuah guncangan kecil akan membuatnya hancur. Kematian Aurelian di lini waktu yang lalu berhasil membuat Andreas sadar jika putranya itu adalah segalanya.
Nafas, serta detak jantungnya.
Rasa sesak yang ia rasakan saat kematian Aurelian masihlah terasa sampai saat ini. Sentuhan lembut dari buaian tangan kurus yang menggenggamnya kala ia terbaring sakit saat itu. Suara Aurelian yang bergetar kala mengatakan jika dirinya khawatir. Andreas masih bisa merasakannya seolah hal itu baru saja terjadi.
Tegakan dari setiap botol alkohol yang diminumnya, Andreas benar-benar gila saat ia sadar jika semuanya terlambat. Ia yang meliaht bagaimana kacaunya keadaan anak-anaknya yang lain.
Lysander yang memilih menyibukan diri dengan tumpukan dokumen di kantornya, membuat si sulung di juluki sebagai workaholic karena begitu jarang terlihat dirumah. Calix yang depresi berhenti melanjutkan kuliah kedokterannya, dan malah menjalani pengobatan mental ke psikiater hampir setiap minggu. Dan Orion, dia berubah menjadi liar, beberapa kali berkelahi dengan anak sebayanya hingga hampir dijebloskan ke penjara.
Keluarganya menjadi sehancur itu pasca kepergian Aurelian.
Bak bulan yang mengelilingi bumi, saat tiba-tiba saja bulan itu menghilang menyebabkan banyak kerusakan dan ketidakseimbangan. Begitulah sosok Aurelian.
Kepergian anak itu menyebabkan luka dalam yang selalu basah dan semakin memburuk setiap harinya. Beban dari rasa bersalah yang ditanggung membuat Andreas sadar akan kelalaiannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hyacinth
Aléatoire[Brothership, Familyship, & Bromance Area] [Not BL!] . . . Perlakuan kasar juga sikap acuh tak acuh menjadi landasan penyesalan mereka saat melihat tubuh itu terbaring kaku di ranjang pesakitan setelah sebelumnya di tangani oleh dokter. Satu kali...
