"Leo!" Teriakan disusul oleh langkah kaki yang mendekat membuat si empu nama menghembuskan nafas berat sebelum berbalik pada tuan mudanya.
"Ada apa, tuan muda? Anda membutuhkan sesuatu?" Tanya Leo ramah berusaha terlihat biasa saja meskipun kini hatinya mengatakan jika sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi sebentar lagi.
Aurelian yang sampai dihadapan Leo menggeleng kecil, dibelakang anak itu ada Calix yang memperhatikan tingkah adiknya itu, "Lian, sudah bilang akan mengajari Leo tersenyum bukan? Ayo, lebih cepat lebih baik. Ada kak Cal juga yang nantinya akan ikut menilainya."
Calix yang mendengar itu dibuat tertegun sejenak, ia kira jika adiknya itu tengah bercanda, namun nampaknya Aurelian serius sekarang dan hal itu terlihat langsung dari wajahnya yang bersemangat. Melirik Leo yang seperti biasa, asisten papanya itu selalu tampil dengan wajah lempengnya, tetapi ada yang berbeda sekarang, Calix bisa melihat bagaimana raut tertekan ikut terlihat disana.
Menahan tawa, adiknya itu baru saja sembuh sudah merusuhi Leo, tapi ya, bukankah menarik melihat adanya perubahan lain diwajah datar Leo? Calix menantikannya hingga seringaian tersemat dibibirnya, ia semakin mendekati Aurelian, memeluk tubuh itu dari belakang dan menumpukan dagunya dikepala sang adik.
Matanya menyipit membuat batin Leo semakin tidak nyaman, "iya Leo. Ayo, aku juga akan membantu mu."
Wah, nampaknya yang menemukan mainan baru bukan hanya Aurelian, tapi Calix juga. Ingat jika Calix itu tingkat kejahilannya berada dilevel yang sangat berbahaya cenderung menyebalkan. Saat ia menemukan sesuatu yang menarik seperti ini, bagaimana mungkin tuan muda kedua Wilhelm itu melepaskannya. Calix tidak tahu saja jika kini dalam hati Leo, ia tengah merutukinya.
'Sekarang yang paling menyebalkan juga malah ikut turun tangan. Yang benar saja?!' Batin Leo berteriak.
Sorot penuh harap yang di lihat dari Aurelian membuat Leo tidak berkutik, apalagi jika ia melirik Calix yang tersenyum sarkas dan menekannya untuk patuh. Akhirnya, asisten Andreas itu menundukan tubuhnya sedikit, "baik, mohon bantuannya tuan muda."
.
.
.
Orion menghentikan motornya, dan turun setelah membuka helm yang melindungi kepalanya menyerahkan benda itu dan kunci motornya pada pengawal yang berjaga. Langkahnya ia bawa masuk kedalam, samar-samar ia dapat mendengar suara orang yang tengah berbincang dari dalam sana. Sepertinya dari ruang utama, pikir anak itu.
"Bukan begitu Leo. Tapi seperti ini. Lihat, seperti ini!"
Suara yang sangat dikenalnya, namun entah mengapa Orion bisa merasakan kekesalan dari bagaimana nada suara itu terdengar. Sedang ada satu suara lain yang dapat Orion dengar, sebuah tawa yang menyembur keluar seolah puas mengejek sesuatu. Ah, suara menyebalkan dari kakak keduanya, siapa lagi jika bukan Calix.
"Kak Cal, jangan hanya tertawa dong! Katanya mau bantuin, tapi malah mengejek saja dari tadi."
"Tidak, hanya saja wajah Leo- pftt" Tawa Calix kembali menyembur, sudut matanya ia usap kala itu terasa basah, "Leo, kau itu belajar tersenyum manis dan lembut, bukannya cosplay jadi seorang psikopat." Lanjutnya sembari menahan tawa.
Raut wajah Leo benar-benar menjadi hiburan baginya sekarang. Perutnya terus tergelitik hingga terasa sakit akibat melihatnya, menggelikan sekali melihat wajah lempeng asisten papanya itu berusaha untuk tersenyum seperti apa yang tengah adiknya ajarkan.
Sedang Aurelian mendudukan tubuhnya di sofa kasar, helaan nafas yang dikeluarkan oleh anak itu juga terdengar berat. Ia menyandarkan tubuhnya dengan rasa frustasi dan kekesalan pada Leo dan kakak keduanya, yah meskipun sebenarnya yang paling menguji kesabarannya disini adalah Calix.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hyacinth
عشوائي[Brothership, Familyship, & Bromance Area] [Not BL!] . . . Perlakuan kasar juga sikap acuh tak acuh menjadi landasan penyesalan mereka saat melihat tubuh itu terbaring kaku di ranjang pesakitan setelah sebelumnya di tangani oleh dokter. Satu kali...
