Orion mengetuk pintu kelas, dirinya datang untuk menjemput Aurelian pergi ke kantin bersama. Matanya terlihat tajam kala bertemu dengan milik Ezekiel, aura permusuhan si bungsu Wilhelm akan langsung berkobar jika sudah dihadapkan dengan teman dekat kakaknya itu semenjak kesalahan pahaman saat itu.
Sedang Ezekiel justru terlihat tidak terganggu dengan hal itu, memilih cuek menggenggam tangan Aurelian meskipun tahu Orion seperti akan menerkamnya saat itu juga, bahkan senyuman Ezekiel tersemat dibibirnya dengan begitu lebar menyapa Orion yang menggeram rendah langsung melepaskan tangan itu dari kakaknya.
Ezekiel menatap datar, "tenang saja, aku tidak akan mencium kakak mu itu. Ah, mungkin saja belum."
Manik kelam Orion menyorot tajam, "mendekat sedikit saja, akan ku pastikan kepalan tangan mendarat diwajah menyebalkan milik mu." Desis Orion mengancam.
Sedang Aurelian menatap Ezekiel dan Orion bergantian, ia menarik tangan adiknya dan berjalan santai dengan senyuman diwajahnya, "kalian nampak akrab ya." Celetuknya langsung mendapat tatapan berbeda dari Orion dan Ezekiel yang memang mengintili.
"Yang seperti ini kau sebut akrab, Lian?"
"Buka mata mu baik-baik, kak."
Sahut keduanya bersamaan. Aurelian terkekeh saat mendengarnya, "lihat. Kalian saja berujar bersamaan."
Keduanya memutar bola mata. Malas sekali dikatakan akrab oleh Aurelian disaat untuk saling bertemu saja keduanya tidak sudi. Jika saja Ezekiel bukan teman dekat kakaknya, dapat dipastikan Orion akan menendang jauh-jauh pemuda itu. Sebaliknya, jika Orion bukan adiknya Aurelian, Ezekiel pasti akan menghajar wajah songong anak itu.
Intinya, keduanya selamat dari adegan baku hantam karena keberadaan Aurelian ditengah-tengah mereka.
"Oh ya, dimana Emilio dan Mikhael?" Tanya Aurelian saat tidak melihat kehadiran kedua orang yang selalu mengintili Orion itu.
"Mereka sudah di kantin untuk mengamankan meja." Sahut Orion, tangan yang tadinya hanya menggenggam tangan Aurelian kini beralih merangkul posesif kakaknya. Berusaha keras untuk menjauhkan lintah darat bernama Ezekiel Percival.
Kedua teman Orion itu memang sengaja langsung pergi ke kantin saat bel istirahat berbunyi. Meskipun kantin disekolah sangatlah luas, tapi dengan mempertimbangkan banyaknya juga siswa/i disana tidak menutup kemungkinan jika kursi dengan spot paling bagus menjadi sasaran utama dan bisa saja ditempati oleh orang lain.
Disini tidak ada sistem meja dikuasai oleh satu orang atau circle saja. Murid-murid disana bebas memilih duduk dimana saja yang intinya bermain siapa cepat dia dapat. Jadinya untuk mendapatkan spot ternyaman di kantin, Emilio dan Mikhael mengambil tindakan disaat Orion menjemput Aurelian ke kelasnya.
Sampai di kantin, mereka sudah disambut dengan lambaian tangan heboh dari kedua teman Orion itu yang membuat si bungsu Wilhelm menutup matanya sejenak merasa malu akan tingkah keduanya.
Disampingnya Ezekiel menahan tawa, "ada dua monyet yang melambai kearah kita seperti orang gila." Katanya mendapat pukulan ringan di bahunya dari Aurelian.
"Eze, mulut mu!" Tegur si manis dengan menatap tajam temannya itu.
"Maaf Lian. Aku hanya tidak bisa menahan diri jika sudah berurusan dengan trio rusuh itu." Yang dimaksud Ezekiel dengan trio disini adalah Orion, Emilio dan Mikhael. Yah, hubungan mereka dengannya semenjak kejadian kesalahpahaman itu memang buruk, bahkan sangat buruk.
"Sudahlah, ayo cepat kita duduk." Ujar Aurelian meninggalkan Ezekiel dan Orion diambang pintu masuk kantin.
Duduk di kursi kosong berhadapan dengan Emilio dan Mikhael, ia tersenyum menyapa teman-teman adiknya itu, "sudah pesan makanannya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Hyacinth
Random[Brothership, Familyship, & Bromance Area] [Not BL!] . . . Perlakuan kasar juga sikap acuh tak acuh menjadi landasan penyesalan mereka saat melihat tubuh itu terbaring kaku di ranjang pesakitan setelah sebelumnya di tangani oleh dokter. Satu kali...
