Lysander menunggu di ruang utama sambil sesekali melirik jam tangannya bergantian menatap keatas, tepatnya pada lantai dua kediaman Wilhelm. Menghela nafas saat sosok yang ditunggu tidak menunjukan batang hidungnya sedari tadi, padahal sekarang ia harus mengantarkan kotak sarapan terlebih dahulu ke rumah sakit.
"Dimana papa?" Ia bertanya pada Leo yang baru saja masuk setelah menyiapkan mobil untuk mengantar tuan dan tuan muda pertama.
Leo terdiam sejenak dan tidak langsung menjawab karena dirinya juga tidak melihat Andreas sejak pagi. "Mungkin tuan ada di kamar lama tuan muda Aurelian." Jawabnya setelah menganalisis jika memang semenjak Aurelian dirawat di rumah sakit, sang tuan besar kerap kali menggunakan kamar lama itu untuk beristirahat.
Menghela nafas, ia menyerahkan kotak bekal ditangannya pada Leo. "Bawa ini. Aku akan memanggil papa terlebih dahulu."
Dengan menggunakan lift agar lebih cepat, Lysander membawa langkahnya menuju sebuah kamar yang letaknya berada paling ujung dan terpisah dengan yang lainnya. Mengetuk pintu beberapa kali namun tidak mendapatkan jawaban, ia memutuskan untuk masuk kedalam yang untung pintu itu tidak terkunci.
Cahaya matahari yang masuk terhalang oleh gorden membuat ruangan itu cukup gelap. Ventilasi udara yang tertutup juga turut membuat ruangan terasa pengap, karenanya Lysander memutuskan untuk membuka jendela kamar itu terlebih dahulu sebelum membangunkan papanya yang terbaring di tempat tidur.
Udara segar dipagi hari cukup untuk membuat Lysander mendesah lega kala oksigen berhamburan masuk kedalam. Ia lantas berbalik mendekat pada sisi ranjang. Dahinya dibuat mengernyit halus saat sang papa nampak gelisah dalam tidurnya dengan keringat dingin membasahi kening.
Air mata yang turut ikut serta turun melewati pelipis dan jatuh diatas bantal meninggalkan jejak basah disana. Andreas juga bergumam tidak jelas, "papa mohon, Lian. Tolong bangun." Setidaknya itu yang bisa Lysander tangkap.
"Papa?" Panggilnya tidak mendapatkan respon apapun.
Kerutan di dahi Andreas semakin dalam, Lysander pun menepuk bahu papanya berusaha untuk menyadarkan Andreas. "Pa?" Ujarnya lagi namun tetap tidak mendapatkan jawaban.
Akhirnya ia menggoncang keras bahu Andreas membuat papanya spontan membuka mata, tersentak dalam tidurnya yang dihantui oleh mimpi buruk. Nafas Andreas memburu seolah ia habis berlari jauh sekali. Bangun dari posisi berbaringnya, ia lantas menatap sulungnya dengan mata memerah khas bangun tidur dan meneguk ludah kasar.
"Lian. Dimana Aurelian sekarang?" Katanya terdengar gelisah sekaligus panik.
Lysander semakin dibuat keheranan akan tingkah papanya. Tetapi berbanding terbalik dengan Andreas yang menunggu jawabannya dengan jantung berdegup kencang. "Dimana Aurelian sekarang, Lysander?!" Ia membentak tak sabaran melihat si sulung malah hanya menatapnya.
Tersentak, Lysander pun menjawab. "Dia di rumah sakit, pa. Aurelian tengah menjalani pengobatannya sekarang."
"Apa dia baik-baik saja? Adik mu itu masih hidup kan?"
Kembali, Lysander dibuat mengerutkan dahinya. "Iya, dia baik-baik saja. Setidaknya Frans mengatakan bahwa kondisi adik ku itu sudah jauh lebih baik dari sebelumnya."
Terdengar hembusan nafas lega dari Andreas kala mendengar hal itu. Ia menutup matanya sekejap menetralkan nafasnya yang berderu keras. "Syukurlah." Ucapnya pelan.
Andreas lalu berdiri, "ayo. Kita harus segera menemuinya." Katanya sembari berjalan keluar dari kamar.
Sebenarnya Lysander penasaran dengan apa yang terjadi pada papanya hingga membuat Andreas secemas itu, namun menilik akan apa yang terjadi barusan, Lysander menyimpulkan bahwa Andreas bermimpi buruk mengenai adiknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hyacinth
Diversos[Brothership, Familyship, & Bromance Area] [Not BL!] . . . Perlakuan kasar juga sikap acuh tak acuh menjadi landasan penyesalan mereka saat melihat tubuh itu terbaring kaku di ranjang pesakitan setelah sebelumnya di tangani oleh dokter. Satu kali...
