Aurelian bangkit setelah Ezekiel bangun dari tidur di pangkuannya. Dengan menggeret tiang infus ia menuju pintu berniat untuk menyusul Orion yang sedari tadi belum juga masuk dengan kedua kakaknya. Mengintip dari balik kaca, bibirnya menjadi cemberut saat melihat Calix tengah merangkul leher Orion dengan Lysander yang menggeleng pelan sembari tersenyum tipis.
Membuka pintu pintu dan mengintip kan kepalanya, raut waja cemberut itu menatap kearah ketiga saudaranya, yang kompak menghentikan aktivitas mereka. "Kalian bersenang-senang tanpa Lian? Hati Lian jadi sakit melihatnya."
Mereka terdiam, saat Orion mendekat pada Aurelian dan merangkul bahunya, Calix mengalihkan pandangan. Sudah dikatakan bukan, jika ia masih belum memiliki keberanian untuk menatap kearahnya. Namun nampaknya hal itu justru disalahpahami oleh Aurelian yang menyadarinya.
"Kak Cal? Apa ada yang menganggu mu? Apa Lian melakukan kesalahan? Kenapa tiba-tiba mengalihkan pandangan begitu?" Tidak mau berakhir dengan pikiran buruknya, Aurelian secara blak-blakan langsung menanyakan perihal itu pada Calix.
Pertanyaan yang dilontarkan pun turut membuat perhatian Orion dan Lysander mengarah pada Calix. Jika Orion dipenuhi dengan rasa penasarannya karena sebelumnya ia juga sempat menanyakan hal tersebut namun tidak dibalas, maka lain hal dengan Lysander yang memang sudah mengetahuinya.
Si sulung itu menatap lamat pada Calix, menunggu balasan apa yang akan diberikan olehnya. Ada rasa was-was di hatinya, takut jika adik tertuanya itu mengatakan hal yang tidak-tidak.
Terlihat Calix menarik nafasnya membuat Aurelian semakin bertanya-tanya dengan kepala memiring sedikit menatap lurus pada kakak keduanya. Sebuah senyuman tipis nampak di bibir Calix, "tidak ada, adik. Kakak baik-baik saja. Maaf sudah membuat mu khawatir." Katanya menenangkan. Tetapi Aurelian tahu jelas jika ada yang berusaha Calix tutupi darinya.
Orion menghembuskan nafasnya kasar, "sudah lah kak, ayo kita masuk saja. Baik kak Cal dan kak Sander juga seperti itu saat aku tanyai tadi." Katanya membawa Aurelian masuk kedalam kamar inapnya, meskipun mata madu itu masih menyorot kearah Calix yang tersenyum sendu? Lalu beralih pada Lysander yang mengangguk seperti membenarkan perkataan Orion.
Saat tubuh kedua adik mereka itu masuk, Lysander mendekat pada Calix, menyentuh bahunya membuat tatapan mereka bertamu. "Cal, aku tahu dan mengerti apa yang kau rasakan sekarang. Namun melihat Aurelian yang tidak menjauh dari kita, mungkin itu bisa menjadi bukti bahwa ia tidak mengetahuinya. Karena itu, bersikaplah seperti biasa. Jangan membuat Aurelian tertekan dengan perubahan sikap mu yang menurutnya berbeda."
"Ingat apa yang papa katakan? Kita akan berusaha untuk memperbaikinya, membuat ia melupakan masa lalunya dan memenuhinya dengan kebahagiaan."
Lysander mengguncang bahu Calix seolah tengah melakukan transfer energi agar Calix tidak terlalu memikirkannya. Ia tersenyum tipis, "sudah, ayo kita masuk. Kau tidak lihat tadi ekspresi Aurelian yang khawatir pada mu?"
"Tapi bagaimana jika dia ingat, kak?" Calix menyanggah dengan raut wajah yang masih gelisah.
"Calix, kemungkinan itu sangat kecil. Baik kau, aku, atau Orion sendiri bahkan tidak mengetahui dan tidak mengingat apapun tentang apa yang papa ceritakan. Jika memang pada akhirnya Aurelian mengingatnya, maka kita akan berusaha untuk meyakinkan dirinya kembali jika semua hal itu tidak akan pernah terjadi. Bahwa kita... Tidak akan meninggalkannya lagi."
Calix terdiam sejenak dengan tangannya yang terkepal masih dengan posisi menunduk, "apa kau yakin Lian akan percaya cukup dengan hal itu?"
"Iya."
Keduanya berbalik saat mendengar sahutan dari belakang mereka, dimana Andreas kini berdiri disana. Pria itu mendekat pada kedua anaknya dan berdiri di hadapan mereka. "Terdengar menyepelekan, bukan? Tetapi Aurelian bukankah anak yang akan menaruh dendam dihatinya. Papa percaya itu. Dan karena itulah papa berani untuk mengambil tindakan mendekat padanya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Hyacinth
Random[Brothership, Familyship, & Bromance Area] [Not BL!] . . . Perlakuan kasar juga sikap acuh tak acuh menjadi landasan penyesalan mereka saat melihat tubuh itu terbaring kaku di ranjang pesakitan setelah sebelumnya di tangani oleh dokter. Satu kali...
