RIVER'S POV
Setelah obrolan malam itu, aku dan Kiara menjadi sedikit dekat. Dekat dalam artian menjadi teman, tidak lebih. Melihat caranya berbicara kemarin, aku bisa sedikit merubah perspektifku padanya. Catat, hanya sedikit.
Meskipun dia mulai bersikap kalem tidak seperti awal-awal pertemuan kami, Kiara terlihat seperti sosok pribadi yang lepas. Dia seakan begitu bebas mengekspresikan kehidupannya.
Hari ini seperti biasa, aku berdiri mengawasi para pekerja, mencatat beberapa hal di clipboard, dan memberikan instruksi. Suasana berjalan lancar sampai suara langkah kaki kecil mendekat, cepat dan penuh semangat.
Aku sudah tahu siapa orang itu. Sudah pasti Kiara.
Akhir-akhir ini, Kiara lebih sering muncul di sini dibandingkan Gia, padahal ini kantor mereka berdua. Entah apa yang membawanya kemari setiap hari, tapi yang pasti, kehadirannya hampir selalu diiringi dengan niat mengganggu pekerjaanku.
"Jangan nanya gue ngapain kesini," katanya sebelum aku sempat membuka mulut.
Aku hanya tersenyum tipis lalu kembali fokus ke area konstruksi, mencoba mengabaikannya.
"Riv, lo lagi sibuk banget, ya?" tanyanya sambil duduk seenaknya di atas tumpukan batu bata.
"Kamu bisa lihat sendiri, kan?" jawabku singkat tanpa menoleh.
"Gue punya ide..."
"Gak tertarik," potongku sebelum dia melanjutkan.
"Gue belum ngomong, Es Kutub."
"Apa?" aku menatapnya sejenak, lalu kembali mencatat di clipboardku.
"Gimana kalau lo nemenin gue ke Dufan?"
"Gak bisa, aku sibuk." jawabku sambil tetap mencatat.
"Ayolah, Riv... please. Gue gak ada temen lain. Kalau gue ngajak Gia, dia pasti bawa Orlando. Yang ada gue malah jadi nyamuk di antara mereka."
"Kamu bisa pergi sendiri."
"Tapi gue gak mau sendirian," protesnya dengan nada seperti anak kecil.
"Itu bukan urusanku."
"Riv, please..."
Aku meliriknya dari sudut mata, dan dia kini sedang memamerkan wajah memelas terbaiknya—dagu ditekuk, mata berbinar, bibir sedikit mencucu. Kalau orang lain mungkin luluh, tapi sayangnya, itu bukan aku.
"Aku sibuk, Kiara."
"Ya gue juga sibuk... tapi gue perlu hiburan." ucapnya dramatis.
Aku hanya menghela napas. Sungguh, Kiara adalah paket lengkap gangguan harian—tapi entah kenapa, aku tidak sepenuhnya keberatan.
Sudah hampir 20 menit, Kiara masih saja merengek agar aku bisa ikut bersamanya. Bahkan Pak Wardi salah satu pekerja disini mulai berbicara padaku.
"Udah Mbak, itu ditemenin aja. Kali aja nanti dapet bonus dari Mbak Kiara, terus kita-kita disini kebagian." ucapnya yang seketika membuat Kiara tersenyum lebar.
"Tuh Riv, ayo lo temenin gue aja, nanti gue kasih bonus deh."
Aku hanya bisa menghela napas pelan sambil menatapnya dengan pasrah.
"Sekali ini aja." ucapku yang diiringi teriakan kemenangan dari Kiara.
*****
Aku berjalan di belakang Kiara yang terlihat seperti anak kecil baru dilepas di taman bermain. Semangatnya membuatku berpikir dia lebih cocok jadi pemandu wahana daripada pengunjung. Dia melompat kecil saat melihat roller coaster yang meluncur dengan kecepatan diluar nalar. Matanya berbinar seolah-olah dia baru saja menemukan tambang emas.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Icy Girl (COMPLETED)
RandomSiapa sangka, pertemuanku dengan seorang perempuan berwajah dingin justru membuat hatiku terasa hangat? Aku selalu percaya bahwa kebahagiaan bisa diraih jika aku terus mempertahankan orang yang kucintai. Tapi tak kusangka, seseorang yang selama ini...
