KIARA'S POV
"Apa yang udah gue lewatin?" tanya Gia sambil menatap ke arahku dan River secara bergantian.
Gia terlihat sangat ingin tahu, sedangkan River masih asyik sendiri dengan pancake di depannya. Akhirnya aku menarik Gia menuju kamarku dan meninggalkan River sendiri di meja makan.
"What is going on?" tanya Gia mulai mencercaku.
"Gue sama River..." aku menjeda ucapanku yang membuat Gia seakan kehabisan kesabaran, "Jadian."
"What?! Ki, lo bercanda kan? Kemarin lo masih nangis-nangis di rumah gue karena River nolak lo, dan sekarang lo bilang kalau lo udah jadian."
"Ya emang itu kenyataannya." jawabku enteng.
Gia menarik napasnya panjang lalu menghembuskannya perlahan. Seolah apa yang aku lakukan ini sudah membuatnya kehilangan akal sehat
"Jadi kemarin lo pergi kemana, hah?" tanyanya lagi. Kali ini dengan suara lebih ketus.
"Gue mau pulang, tapi di jalan gue kecelakaan, Gi."
"Kecelakaan?" Gia langsung menarik tubuhku, memutar-mutar seolah mencari luka tersembunyi. "Lo nggak apa-apa kan? Gak ada luka serius?"
"Gue baik-baik aja. Cuma ya gitu, mobil gue ringsek."
Gia mendengus, jelas tidak peduli pada mobil itu. "Ya bodo amat sama mobil lo! Yang penting lo baik-baik aja." Dia menghela napas lega, tapi matanya kembali menatapku tajam. "Oke, back to the topic. Tadi lo bilang lo JADIAN sama River?"
"Yep."
Gia menatapku dengan mulut terbuka, lalu berteriak, "CERITAIN KE GUE SEKARANG JUGA!"
Aku tertawa kecil melihat reaksinya yang berlebihan. "Iya, iya. Sabar dong sayang."
Aku mulai menceritakan semuanya—dari aku yang menghindari kucing sampai menabrak pembatas jalan, hingga bagaimana River mengira aku meninggal karena kecelakaan itu.
Gia mendengarkan dengan ekspresi tak percaya, lalu memotong, "Lo ngindarin kucing sampe bikin nyawa lo hampir melayang? Seriusan, Ki?"
"Ya masa gue tabrak kucingnya, Gi? Gue gak sekejam itu. Tapi lo nggak usah lebay, gue baik-baik aja kok."
Gia mendesah panjang, lalu duduk di pinggir tempat tidurku sambil menggeleng pelan. "Tapi tetep aja, Ki. Lo gila banget."
"Udah, jangan drama. Gue gak apa-apa."
Gia menatapku lama, lalu menyipitkan matanya. "Oke, sekarang gue tanya. Lo yakin River serius sama lo? Jangan-jangan dia cuma merasa bersalah karena sempet ngira lo meninggal."
Aku menghela napas, lalu menjawab tegas, "Gue yakin dia serius. Gue tahu dia punya perasaan yang sama kayak gue. Dia cuma... takut gue bakal ninggalin dia kayak Davina."
Gia terdiam sejenak, mencerna jawabanku, sebelum bertanya lagi, "Lo yakin River udah bener-bener move on dari Davina?"
Aku mengangguk pelan. "Iya, gue yakin."
Gia mendekat, lalu memelukku erat. "Gue harap lo bener-bener yakin sama keputusan lo kali ini, Ki. Gue cuma mau lo bahagia. Dan kalau sampe River bikin lo nangis, sumpah, gue sendiri yang bakal bikin dia menyesal."
Aku terkekeh kecil. "Lo jangan galak-galak sama pacar gue."
Gia melepaskan pelukannya sambil tertawa geli. "Yaudah deh, gue balik dulu. Lo ke kantor nggak hari ini?"
Aku berpikir sebentar sebelum menggeleng. "Nggak deh, Gi. Gue mau pacaran sama pacar baru gue."
Gia memutar matanya. "Ih, nyebelin banget. Awas aja ya lo lupa sama gue gara-gara River."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Icy Girl (COMPLETED)
De TodoSiapa sangka, pertemuanku dengan seorang perempuan berwajah dingin justru membuat hatiku terasa hangat? Aku selalu percaya bahwa kebahagiaan bisa diraih jika aku terus mempertahankan orang yang kucintai. Tapi tak kusangka, seseorang yang selama ini...
