18

4.4K 332 11
                                        

KIARA'S POV

Siapa bilang aku tidak cemburu dengan Mona, seorang supermodel yang secara terang-terangan mencoba untuk mendekati pacarku. Aku tahu River mungkin tidak akan semudah itu untuk luluh dan jatuh cinta pada Mona, tapi tetap saja aku cemburu.

"Lo kalau cemburu samperin aja sih, Ki. Bukannya malah misuh-misuh disini." ucap Gia yang sejak tadi ikut gelisah melihat kegelisahanku.

"Gue gak bisa, Gi. River itu lagi kerja dan dia harus profesional. Gue gak mungkin ngekang dia hanya karena gue gak suka sama Mona. Lagipula apa bedanya gue sama Davina kalau gue ngekang dia sekarang."

"Nah itu lo tahu. Lo percaya kan kalau River gak akan macem-macem?" Aku mengangguk pelan. "Mending sekarang lo awasin jadwal acara. Daripada nanti semua berantakan. Gue gak mau ya, usaha EO kita jadi jelek gara-gara lo galau disini."

"Yeee, gue juga profesional kali, Gi."

Aku kembali melanjutkan pekerjaanku untuk mengawasi kelangsungan acara sesuai rundown yang telah disusun. Sedangkan Gia mengawasi katering agar tidak terlewat satu pun.

Hingga acara berakhir dengan sempurna dan klien kami sangat puas dengan kelancaran acara hari ini. Yup, tentu saja kepuasan pelanggan adalah prioritas utama.

Aku dan Gia bersama semua tim kembali ke kantor dengan perasaan yang puas. Perasaan lelahku mendadak hilang karena acara ini berjalan dengan lancar. Terlebih lagi setelah aku tiba di kantor, aku melihat mobil River terparkir disana.

Saat melihatku kembali, River keluar dari mobilnya dan menghampiriku.

"Capek ya? Sini aku bantu." ujarnya sambil meraih tasku yang sebenarnya tidak berat. 

"Duuhh gini ya rasanya jadi topping kehidupan." ucap Gia sambil tertawa lalu berjalan meninggalkan kami berdua.

River hanya tersenyum tipis sebelum kembali menoleh ke arahku.

"Mau pulang sekarang?" tanya River lagi dan aku hanya mengangguk.

River berjalan di depanku dan membuka pintu mobil untukku. Ya, dia selalu memperlakukanku selayaknya seorang putri.

"Sebentar ya," ujarnya sambil berjalan ke arah belakang mobil. Ia membuka bagasi, lalu kembali menghampiriku dengan sepasang sandal di tangannya.

"Kaki kamu pasti capek pakai ini seharian," katanya lembut. Dengan penuh perhatian, ia berlutut dan mulai melepas heels yang kukenakan, menggantinya dengan sandal yang terasa sangat nyaman di kakiku.

Aku terdiam, merasakan hawa hangat menjalar di wajahku. Pipiku pasti sudah memerah sekarang. Perlakuan yang sederhana namun penuh perhatian dari River selalu berhasil membuatku merasa sangat istimewa.

River kembali berdiri, tersenyum tipis, lalu berjalan ke sisi kemudi. Mobil mulai melaju dengan kecepatan sedang. Di sepanjang perjalanan, ia bercerita tentang banyak hal, mulai dari pekerjaan, proyek barunya, dan sedikit keluhannya mengenai Mona yang selalu berada di lokasi proyeknya. Aku mendengarkan sambil menatapnya dari samping, menikmati setiap sisi ekspresif yang jarang ia tunjukkan di depan orang lain.

"Kayaknya kalau aku gak jadi pacar kamu, aku gak tau kalau kamu se-ekspresif ini." ujarku menahan tawa.

"Sayang," balasnya pelan sambil memegang tanganku. "Memangnya kamu mau punya pacar yang dingin seperti es kutub?"

Aku diam sejenak sebelum menjawabnya, "Aku sih mau, asal es kutubnya selalu mencair kalau lagi sama aku."

River tertawa kecil ketika mendengar jawabanku. "Nah itu dia, sekarang es kutub kamu lagi mencair."

My Icy Girl (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang