RIVER'S POV
Hari mulai gelap ketika aku dan Kiara memutuskan untuk kembali ke rumah Om Rama. Suasana canggung menyelimuti langkah kami saat memasuki ruang keluarga, di mana seluruh kerabat sedang berkumpul.
"Pulang juga si pelakor," celetuk Clarissa dengan nada sinis yang langsung memanaskan suasana.
Aku mengepalkan tangan, berusaha keras menahan emosi yang hampir meledak. Kalau bukan karena Kiara yang menyentuh lenganku dengan lembut dan memberi isyarat untuk diam, mungkin aku sudah membalasnya dengan kata-kata yang jauh lebih tajam.
"Kiara!" panggil Tante Marissa dengan nada tegas. "Ikut Mama sekarang."
Kiara mengangguk kecil dan berjalan mengikuti ibunya. Aku hanya bisa berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh tatapan aneh dari keluarga Om Rama. Mereka memandangku seperti aku alien yang tak seharusnya ada di sana.
"Jadi Kiara itu mantan pacar Michael?" tanya Mona tiba-tiba, muncul entah dari mana, dengan senyum penuh sindiran. "Ternyata dunia memang sesempit itu. Aku rasa dia masih menyimpan perasaan pada Michael."
Aku menoleh sekilas padanya, lalu memilih diam dan mengabaikan semua bualannya.
Waktu terasa berjalan lambat. Hampir satu jam aku menunggu, namun Kiara belum juga keluar dari ruangan tempat dia berbicara dengan ibunya.
Brakk!
Suara pintu yang dibanting memecah kesunyian, membuat semua orang menoleh. Kiara keluar dengan wajah penuh air mata, langkahnya tergesa-gesa menuju kamar kami.
"Cih... dasar drama queen," celetuk Clarissa lagi, dengan nada meremehkan yang langsung memancing emosiku.
Aku mengepalkan tangan lebih kuat kali ini. Aku benar-benar ingin meninju wajahnya dan melakban mulutnya yang terlalu banyak bicara. Namun aku memilih untuk tidak bereaksi, karena saat ini Kiara lebih membutuhkanku.
Aku bergegas mengejar Kiara ke kamar. Dia masuk dengan wajah penuh kemarahan sekaligus kesedihan, langsung meraih koper dan mulai mengemasi barang-barangnya dengan terburu-buru. Bahkan pakaian-pakaianku ikut ia masukkan ke dalam koper tanpa banyak bicara.
"Kita pulang sekarang," ucapnya dengan suara terisak, namun penuh tekad. "Udah gak ada tempat lagi buat aku di sini."
"Sayang..." Aku mencoba memeluknya untuk menenangkan, tetapi Kiara menepis pelukanku, masih dengan air mata yang terus mengalir.
Dia membuka lemari, melepas gaun yang ia kenakan, dan menggantinya dengan pakaian biasa. Tangisnya masih tertahan, namun ia tetap fokus menyelesaikan apa yang ia lakukan.
"Kamu yakin kita pergi malam ini?" tanyaku, berusaha mencari kepastian.
"Kalau kamu masih mau di sini, terserah kamu. Aku bisa pergi sendiri," jawabnya dingin, tanpa sedikit pun menoleh ke arahku.
Aku tahu Kiara telah mengambil keputusan yang tidak bisa diganggu gugat. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diriku sendiri. Kalau ini yang terbaik untuknya, maka aku akan ikut bersamanya, ke mana pun dia pergi.
Langit mulai menggelap, dan jalanan di sekitar sini semakin sepi. Sudah pasti tidak akan ada kendaraan umum yang lewat.
Aku dan Kiara berjalan meninggalkan rumah itu, diiringi tatapan dingin dari orang-orang di belakang kami. Tante Marissa sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ingin menahan Kiara. Dia hanya berdiri diam, membiarkan putrinya pergi.
"Aku coba order taksi dulu, ya?" ucapku, memecah kesunyian. Kiara hanya mengangguk kecil tanpa berkata apa-apa.
Kami terus melangkah menyusuri jalan gelap. Hanya suara langkah kaki kami yang terdengar, semakin menambah kesan sunyi dan menyedihkan. Aku sudah mencoba memesan taksi berkali-kali, tetapi tidak ada yang merespon.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Icy Girl (COMPLETED)
RandomSiapa sangka, pertemuanku dengan seorang perempuan berwajah dingin justru membuat hatiku terasa hangat? Aku selalu percaya bahwa kebahagiaan bisa diraih jika aku terus mempertahankan orang yang kucintai. Tapi tak kusangka, seseorang yang selama ini...
