Siapa sangka, pertemuanku dengan seorang perempuan berwajah dingin justru membuat hatiku terasa hangat?
Aku selalu percaya bahwa kebahagiaan bisa diraih jika aku terus mempertahankan orang yang kucintai. Tapi tak kusangka, seseorang yang selama ini...
Di sebuah kondominium sederhana di Belanda, terlihat sepasang pengantin baru yang baru saja mengikat janji suci. Pernikahan mereka berlangsung intim dan sederhana, hanya dihadiri oleh kerabat terdekat mereka.
"Ah, lega banget rasanya," ucap perempuan yang sempat mendapat julukan 'es kutub' itu.
Sementara pasangannya, yang dulu pernah ia juluki 'walkie talkie' karena tak henti bicara, sibuk membahas rencana masa depan mereka, termasuk kemungkinan menjalani proses bayi tabung.
"Aku udah siapin nama untuk anak kita nanti, kalau cewek..." ucapannya terhenti ketika River menatapnya dalam diam.
Kiara yang ditatap seperti itu mendadak salah tingkah.
"Kamu kenapa?" tanya Kiara akhirnya.
"Aku sempat ngira kalau ini cuma mimpi," ucap River perlahan sambil mendekat.
"Kamu tahu gak? Sebenarnya aku sedikit was-was kalau tiba-tiba ada mantan-mantan kita yang mabuk dan ngancurin pernikahan ini." balas Kiara dengan wajah panik yang dibuat-buat.
River tertawa kecil. Matanya kini menerawang pada kejadian kacau yang mempertemukannya pertama kali dengan Kiara.
"Kayaknya aku harus bersyukur karena kamu ngamuk-ngamuk di acara pertunangan Davina dulu," ucap River dengan nada meledek.
Kiara hanya mengerucutkan bibirnya, berpura-pura kesal. Wajahnya kini memerah.
"Udah ah, aku malu kalau ingat-ingat itu," balas Kiara dengan pipi semakin memerah.
River tak mau berhenti. Dia kembali melanjutkan godaannya.
"Aku masih ingat gimana baju aku penuh sama muntahan..."
"Udah, sayang, cukup," ucap Kiara merengek manja.
River akhirnya tertawa lepas sambil mencubit gemas pipi istrinya itu.
"Utututu, istriku malu ternyata," ucap River gemas.
Kiara yang mendapati panggilan baru itu langsung menatap River, seolah ingin memastikan pendengarannya.
"Apa tadi?" ulang Kiara. "Kamu panggil aku apa?"
River tampak malu-malu untuk menyebut Kiara dengan kata 'istriku', tetapi Kiara terus mendesaknya untuk mengatakan itu.
"Bilang lagi, gak?" paksa Kiara pada River. "Ayo, bilang lagi."
River akhirnya menghembuskan napas pelan, lalu menatap Kiara dan berkata, "Istriku... walkie talkie," ucapnya sambil tertawa geli.
"Dasar es kutub," balas Kiara berpura-pura kesal, namun seulas senyum bahagia tak bisa ia sembunyikan.
Kiara kini bersandar di dada River. Dia tidak pernah menyangka akan berakhir bersama River, sosok yang dulu dia benci, dijuluki 'es kutub', dan selalu mendapat sumpah serapah darinya. Ironisnya, kini River malah menjadi rumahnya untuk pulang. Kiara benar-benar bersyukur karena menemukan River, seseorang yang memang tulus mencintainya tanpa melihat bagaimana Kiara sebelumnya, bahkan saat ia sedang berada di titik terendah sekalipun.
.
.
.
Sudah selesai ya teman-temanku tercinta.
Happy ending nih as always karena aku tidak suka sad ending mwehehe
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.