RIVER'S POV
Malam ini aku tidak bisa tertidur, pikiranku masih tetap dipenuhi berbagai pertanyaan tentang Kiara dan Davina. Aku menatap Kiara yang sudah terlelap di pelukanku. Rasanya begitu nyaman melihatnya terlelap seperti ini.
Saat aku mulai memejamkan mata, suara getar ponsel Kiara memecah keheningan. Aku mengernyit, siapa yang mengirim pesan selarut ini? Apa orang itu tidak punya sopan santun?
Perlahan, aku mengangkat tubuh Kiara sedikit untuk melepaskan tanganku yang menjadi bantalnya. Aku melakukannya dengan hati-hati, tak ingin membangunkannya. Setelah tanganku bebas, aku meraih ponsel Kiara yang tergeletak di samping tempat tidur.
Mataku membulat sejenak ketika melihat nama yang tertera di layar. Davina.
Sejak kapan Kiara menyimpan nomor Davina? Dan apa yang mereka bicarakan hingga harus bertukar pesan di tengah malam seperti ini?
Dengan cepat aku membuka pesan itu tanpa berpikir panjang. Aku tahu tindakanku ini melanggar privasinya, tapi semua itu tidak berarti saat ini. Aku tidak akan menyalahkan Kiara apabila dia marah padaku setelah ini.
Seketika darahku mendidih saat membaca isi pesan dari Davina.
Hampir semua pesan Davina berisi makian kepada Kiara. Dia menulis bahwa Kiara tidak pantas untukku, bahwa dia tidak tahu apa-apa tentangku, bahkan menyalahkan Kiara atas insiden yang terjadi padaku beberapa waktu lalu.
Pesan terakhir dari Davina membuatku semakin geram. "Tinggalkan River atau aku akan merebutnya secara paksa seperti aku merebut Mike dari kamu."
Tenggorokanku mengering saat membaca kalimat itu. Aku menggenggam ponsel Kiara erat-erat, menahan diri agar tidak membangunkannya dengan kemarahan yang mulai meletup di dadaku.
Apa Davina sudah kehilangan akal sehatnya? Kenapa dia berubah menjadi sosok yang begitu obsesif dan manipulatif? Atau mungkin selama ini aku hanya buta terhadap sisi dirinya yang sebenarnya. Aku sudah mengenalnya hampir seumur hidup, tapi untuk pertama kalinya, aku merasa seperti sedang berhadapan dengan orang asing.
Saat pikiranku masih berputar dengan berbagai pertanyaan, Kiara tiba-tiba menggeliat kecil di sampingku. Aku segera menariknya kembali ke pelukanku, mengusap lembut punggungnya untuk membuatnya nyaman. Sebelum itu, aku dengan cepat menghapus pesan yang tadi dikirimkan Davina.
"Kamu tenang aja, sayang," bisikku lirih di telinganya sambil mengecup puncak kepalanya. "Jangankan satu Davina, seribu Davina sekalipun gak akan bisa misahin kita."
Kiara hanya bergumam kecil, masih terlelap dalam tidurnya. Tapi aku tahu, aku tidak hanya berbicara untuk menenangkan Kiara, aku juga meyakinkan diriku sendiri.
*****
Setelah aku mengetahui kalau Davina sering mengirim pesan kepada Kiara, aku selalu mengikuti Kiara kemanapun tanpa sepengetahuannya. Hari ini, aku melihat Kiara bertemu Davina di sebuah taman yang sepi. Jarakku cukup jauh, tapi aku bisa melihat jelas raut wajah mereka. Kiara terlihat gelisah, sementara Davina tampak penuh percaya diri, bahkan angkuh.
"Aku gak tahu apa yang River lihat dari kamu," suara Davina terdengar jelas meskipun aku berdiri cukup menjaga jarak. "Kalau aku jadi dia, aku sudah pasti meninggalkan kamu sejak lama."
Kiara hanya menunduk, tidak membalas sepatah kata pun. Diamnya membuat Davina semakin berani.
"Kamu gak pantas untuk River," lanjutnya, suaranya semakin tajam. "Jujur aja, aku gak habis pikir kenapa dia memilih seseorang seperti kamu. Setelah aku, dia seharusnya bisa mendapatkan yang lebih baik. Tapi nyatanya? Dia malah memilih kamu."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Icy Girl (COMPLETED)
RandomSiapa sangka, pertemuanku dengan seorang perempuan berwajah dingin justru membuat hatiku terasa hangat? Aku selalu percaya bahwa kebahagiaan bisa diraih jika aku terus mempertahankan orang yang kucintai. Tapi tak kusangka, seseorang yang selama ini...
