35

2.4K 217 16
                                        

RIVER'S POV

Aku yakin Kiara tidak akan meninggalkanku demi Clarissa, tapi Michael? Aku merasa dia adalah ancaman terbesar dalam hubunganku dengan Kiara.

Bagaimana kalau suatu saat Kiara berubah pikiran? Bagaimana kalau dia mulai berpikir bahwa hubungan kami adalah kesalahan? Lalu dia pergi bersama Michael, meninggalkanku dalam kehancuran yang lebih dalam dari sebelumnya.

Apa aku siap ditinggalkan lagi? Seperti saat Davina meninggalkanku dulu?

Aku menghela napas panjang, menikmati sinar matahari sore sembari menyesap kopi yang kini sudah mulai dingin. Kafe tempatku duduk ini tak terlalu ramai, hanya ada beberapa pelanggan yang tenggelam dalam dunianya masing-masing. Aku sengaja memilih tempat duduk di dekat jendela besar, membiarkan cahaya matahari sore menghangatkan kulitku. Namun, ketenangan ini tak bertahan lama.

"Hai, River."

Suara familiar itu menyapaku, dan aku langsung menoleh. Seorang pria dengan kemeja biru navy dan senyum menyebalkan sudah duduk di kursi di sebelahku, seolah-olah dia pemilik tempat ini.

"Michael?"

Dia menyandarkan punggung ke kursinya dengan santai, menatapku lekat seolah sedang meneliti setiap ekspresi di wajahku. Senyumnya kecil, namun ada sesuatu yang licik di balik tatapan matanya.

"Sampai sekarang aku masih bingung," katanya, menautkan jemarinya di atas meja. "Apa sih kehebatan kamu sampai Davina masih terobsesi sama kamu? Dan sekarang Kiara juga jatuh cinta sama kamu."

Aku mengeratkan cengkraman pada cangkir kopiku.

"Mau apa kamu?" tanyaku datar.

Michael mendekat sedikit, suaranya merendah. "Mungkin ini bukan urusanku, tapi aku hanya ingin memperingatkan kamu. Akhiri hubunganmu dengan Kiara."

Aku terkekeh sinis. "Apa kamu terlalu putus asa karena tidak akan pernah bisa untuk mendapatkan Kiara kembali. Dan jangan pernah berpikir kalau kamu bisa misahin aku dengan Kiara."

Michael mengangkat bahu, seolah tidak peduli. "Mungkin tidak. Tapi bagaimana dengan orang tuanya?" Matanya menyipit sedikit, seolah menikmati ketegangan yang muncul. "Kiara memang tidak dekat dengan mereka, tapi bukan berarti dia bisa melawan mereka."

Aku diam. Mataku menatapnya tajam, tapi aku menahan diri untuk tidak terpancing. Aku tahu dia hanya mencoba menekan emosiku. Jadi, aku bangkit, berniat untuk mencari tempat yang lain.

Namun, sebelum aku bisa melangkah, Michael melempar sebuah amplop cokelat ke meja di hadapanku.

"Aku yakin kamu masih memiliki perasaan untuk Davina," ucapnya dengan nada santai, seakan kami sedang berbincang tentang cuaca. "Bukankah kamu sudah mencintai Davina sejak kalian masih sekolah? Apa semudah itu melupakan semua kenangan kalian berdua?"

Aku menatap amplop itu dengan waspada. Ada perasaan tidak enak mulai merasuk di dadaku.

"Come on, River," lanjut Michael, suara rendahnya seperti bisikan setan. "Aku tahu perasaanmu ke Davina jauh lebih besar daripada ke Kiara."

Aku menelan ludah, lalu perlahan meraih amplop itu dan membukanya. Napasku mulai tercekat.

Di dalamnya ada beberapa foto. Foto saat Davina menciumku.

Tanganku yang memegang foto itu terasa gemetar. Aku sudah jujur pada Kiara, aku sudah memberitahunya tentang kejadian itu. Bahwa Davina tiba-tiba menciumku dan aku sempat terbuai oleh kenangan masa lalu. Tapi itu tidak berarti apa-apa. Itu hanya sesaat.

Tapi melihat foto ini... Apa Kiara akan mempercayaiku? Apa dia akan tetap memaafkanku jika melihatnya secara langsung?

Michael bangkit berdiri, menepuk bahuku dua kali dengan ekspresi puas.

My Icy Girl (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang