6

5.3K 421 10
                                        

KIARA'S POV

Setelah semalaman memikirkan perkataan River di pantai, aku baru menyadari semuanya. Sepertinya apa yang diucapkan River ada benarnya. Aku terlalu buta dengan cinta yang aku miliki untuk Michael hingga aku lupa untuk mempertahankan harga diriku sendiri.

Baiklah Kiara, mulai hari ini tidak ada lagi hal-hal yang berkaitan dengan Michael. Lepaskan semua dan mulai kehidupan kamu dari awal lagi. Lupakan pria brengsek itu, dia tidak pantas untuk kamu.

Aku menghubungi Gia untuk membantuku mengemasi seluruh barang yang Michael pernah berikan padaku. Termasuk boneka, pakaian, aksesoris hingga perhiasan mahal.

"Lo yakin mau jual semua ini?" tanya Gia dengan penuh keraguan.

"Yep, daripada gue buang ya mending gue jual. Lumayan duitnya bisa gue sumbangin ke panti asuhan. Kali aja anak-anak panti bisa doain gue biar cepet nemu jodoh."

"Nah ini baru Kiara yang gue kenal. Kalau gini gue setuju, tapi gue bakal minta bantuan Orlando, karena hampir tiga perempat isi apartemen lo adalah barang dari Michael.

Benar juga, mungkin setelah ini aku akan kembali berbelanja untuk menghias apartemenku yang sepertinya akan kosong.

Saat kami sedang menunggu Orlando, tiba-tiba saja yang muncul di depan apartemenku adalah River. Dia mengatakan kalau Orlando harus menghadiri rapat penting.

Wajahnya begitu datar dan dingin seperti biasanya. Entah kenapa pikiranku selalu memanggilnya dengan sebutan es kutub.

"Orlando bilang, kalian lagi butuh bantuan? Dia minta aku datang kesini untuk membantu kalian." ucapnya tanpa ekspresi.

"Apa gak ngerepotin, Riv?" tanya Gia seakan merasa tidak enak.

"It's okay, Orlando udah bayar aku."

Tanpa sengaja aku mengumpat dengan suara kecil, "Dasar mata duitan." Namun sekecil apapun suaraku, tampaknya masih terdengar oleh mereka berdua. Gia dengan cepat mencubit lenganku.

"Sorry ya, Riv. Dia emang agak lain."

Setelah mengemasi seluruh barang pembelian Michael, aku merasa seperti akan pindah apartemen. Ini terlihat sangat kosong seperti pertama kali aku pindah kesini.

"Aku punya kenalan yang bisa beli barang-barang ini dengan cepat. Kalau kalian gak keberatan, kita bisa kesana sekarang."

Tanpa berpikir panjang, Gia menyetujui saran River. Tentu saja tanpa persetujuan dariku. Namun aku tidak terlalu mempermasalahkannya. Tujuanku kan memang untuk menjual semua barang ini.

River menyetir ke sebuah tempat pengepul barang bekas dan bernego hingga kami mendapatkan harga yang sesuai. Setelah itu River kembali menyetir ke tempat penjual perhiasan. Tentu saja dia kembali bernego hingga kami kembali mendapatkan harga yang sesuai.

Melihatnya seperti ini, entah kenapa ekspresi dingin bak es kutubnya itu seakan mencair. Dia benar-benar mampu memposisikan diri dalam situasi ini.

"Lo tau panti asuhan terdekat?" tanyaku akhirnya dan River hanya mengangguk. "Ya udah kita kesana aja, sekarang bisa?." Dia kembali mengangguk.

Ditengah perjalanan, Gia meminta untuk turun karena dia harus mengantar ibunya menghadiri arisan keluarga.

"Duhh guys, sorry banget. Nyokap gue nih gak sabaran banget. Gue turun disini aja deh, Riv, gue titip Kiara ya. Kalau dia berulah, lo cium aja." sontak kami berdua malah salah tingkah dengan cicitan Gia.

Dalam perjalanan menuju panti asuhan, tidak ada satupun suara dari kami. Hanya suara ocehan penyiar radio dan suara knalpot mobil. Hingga satu jam perjalanan, kami sampai di sebuah panti asuhan. Karena hari sudah larut, aku tidak sempat bermain dengan anak-anak panti, aku hanya bertemu dengan petugas panti dan menitipkan sedikit rejeki untuk anak-anak di panti asuhan ini.

My Icy Girl (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang