31

3.1K 264 21
                                        

RIVER'S POV

Ting...

Denting notifikasi memecah kesunyian. Aku melirik ponsel Kiara yang tergeletak di meja. Lagi-lagi, nama Davina muncul di layar. Apa dia benar-benar tidak berniat berhenti?

Kiara keluar dari kamar mandi dengan handuk di tangannya sambil mengeringkan rambut basahnya. "Siapa, sayang?" tanyanya santai.

"Davina," jawabku pelan.

Kiara menghela napas dan berjalan mendekat. "Coba sini aku lihat."

Aku menyerahkan ponselnya, memperhatikan ekspresinya saat membaca pesan itu. Namun, alih-alih terlihat terganggu, Kiara justru tersenyum kecil lalu menatapku dengan lembut sebelum menjatuhkan tubuhnya di pelukanku.

"Kamu gak terganggu sama perkataan Davina?" tanyaku, masih penasaran dengan reaksinya yang begitu tenang.

"Selama kamu ada disini, aku gak akan terganggu. Dan aku percaya, kamu gak akan ninggalin aku."

Aku memaksakan senyum meski banyak hal yang berkecamuk di dadaku. Yang pasti aku harus mencari cara agar Davina berhenti mengganggu Kiara.

Malam ini, saat Kiara tertidur di sampingku, aku mengambil ponsel dan menatap layar sejenak, ragu. Tapi aku tahu, hanya ada satu cara untuk menghentikan ini. Dengan napas panjang, aku menekan tombol panggil.

Nada sambung hanya terdengar sebentar sebelum suara Davina muncul di seberang sana.

"Hai, Riv... Akhirnya kamu nelpon aku." Suaranya terdengar antusias, seakan dia sudah menungguku sejak lama.

Aku menggertakkan gigi, menahan amarah yang mulai bergolak di dadaku. "Aku gak mau basa-basi, tolong berhenti ganggu Kiara. Kita udah selesai Davina, kamu sendiri yang mau itu."

Tawa kecil terdengar dari seberang. "Dan sekarang aku mau kamu kembali, Riv. Kamu lupa seperti apa aku selama ini?"

Aku menutup mata, berusaha untuk mengendalikan emosiku. "Tolong..."

"Oke," potong Davina, "aku akan berhenti mengganggu Kiara. Tapi dengan satu syarat."

Aku mengepalkan tangan. "Apa?"

"Besok, temui aku di rumahku. Kita bicara."

"Kita bicara di tempat lain."

"Aku maunya di rumahku." Suaranya terdengar penuh kepastian, lalu dia menambahkan dengan nada licik, "Kalau kamu gak mau, gak masalah. Tapi aku akan terus mengganggu Kiara sampai dia sendiri yang memilih untuk pergi dari kamu."

Darahku seakan mendidih, tapi aku tidak punya pilihan lain. "Fine."

"Bagus." Aku bisa membayangkan senyum puasnya di seberang sana. "Aku tunggu ya, sayang."

Aku menutup panggilan itu dan menatap layar ponsel yang kini gelap, perasaan kesal bercampur gelisah menyelimutiku. Aku tidak tahu apa yang direncanakan Davina, tapi satu hal yang pasti, aku harus menghadapinya.

*****

Aku memarkir mobil di depan rumah Davina, dan seketika kenangan-kenangan lama menyerbu pikiranku. Suara tawanya, sentuhan lembutnya, dan semua momen yang dulu pernah membuatku mencintainya. Sial, pasti ini yang diinginkan Davina. Dia ingin aku kembali mengingat semua hal yang pernah kami lakukan bersama. Aku menggeleng pelan untuk menghilangkan pikiran-pikiran itu.

Ketika pintu terbuka, dia berdiri di sana, tersenyum seperti tidak pernah ada yang salah di antara kami. "Aku senang akhirnya kamu datang" katanya, suaranya terdengar ramah, tapi aku bisa merasakan maksud tersembunyi di balik itu.

My Icy Girl (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang