KIARA'S POV
Apakah aku kekasih yang buruk?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku, seperti jarum jam yang tak pernah berhenti berdetak. Penyesalan dan rasa bersalah terus menghantui setiap langkahku. River selalu tahu segalanya tentangku—makanan favoritku, film yang kusukai, bahkan hal-hal kecil yang mungkin tidak pernah aku anggap penting. Tapi aku? Aku bahkan tidak tahu sesuatu yang sederhana, sesuatu yang bisa saja merenggut nyawanya.
Aku tidak pernah tahu dia alergi udang, dan sekarang, aku harus menanggung kenyataan bahwa keteledoranku hampir menghancurkan segalanya.
Flashback on
"River!" Suara itu terdengar seperti teriakan panik. Aku mematikan kompor dengan cepat dan berlari menuju sumber suara.
Di sana aku melihat pemandangan yang membuat jantungku serasa berhenti berdetak. River tergeletak di pelukan seorang wanita—Davina. Tapi, apa yang dia lakukan di sini?
Namun, semua pertanyaan itu lenyap ketika aku melihat kondisi River yang tidak sadarkan diri. Seketika rasa panik dan takut menguasai pikiranku.
"River!" Aku berteriak sambil berlari mendekat. Tanpa sadar aku mendorong tubuh Davina untuk menjauh dari River. "Sayang, kamu kenapa?" tanyaku, suaraku pecah oleh isak tangis.
Davina bangkit dengan cepat dan berjalan mendekat ke arahku sambil mengambil sesuatu dari lantai di dekat River, sebuah bola ayam yang baru saja aku masak.
"Ini apa?" bentaknya padaku, matanya tajam menusuk. "Ini dicampur udang?"
Aku mengangguk pelan, tubuhku terasa membeku. Mataku masih menatap River yang terkulai lemah, tidak berdaya.
"Astaga!" Davina mendesis, lalu mendorongku menjauh dari River. Dia kemudian berteriak meminta bantuan untuk membawa River ke mobilnya.
Beberapa orang segera datang membantu. Dengan sigap, mereka mengangkat tubuh River ke dalam mobil Davina. Aku hanya berdiri di sana, linglung, tidak tahu harus berbuat apa.
Sebelum Davina pergi, dia menatapku dengan amarah yang membara di matanya.
"Kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk sama River, aku pastikan kamu akan mendekam di penjara," ancamnya dengan suara dingin.
Lalu dia pergi, meninggalkanku berdiri terpaku di depan rumah, dengan kebingungan, rasa bersalah, dan ketakutan yang bercampur menjadi satu.
Flashback off
Sejak kejadian itu, Davina mulai sering muncul di hadapanku, seperti bayangan gelap yang tak mau hilang. Dia menjadikan kesalahanku sebagai senjata, melemparkan kata-kata tajam yang tak henti-hentinya menusuk. Setiap kalimatnya membuat rasa bersalahku semakin dalam, seolah aku tak layak untuk bahagia.
"Ki, HP lo mati?" suara Gia menyentakku kembali ke dunia nyata.
"Hah? Enggak kok. Kenapa?" aku bertanya sambil mengerutkan alis.
"River baru aja nelpon gue, katanya lo gak bisa dihubungin."
Aku segera meraih ponselku dari meja. "Gak ada telepon masuk kok." Tapi begitu melihat layar, aku baru sadar ponselku benar-benar mati. "Oh, iya... mati."
Gia mendengus sambil menyilangkan tangan. "Tuh, kan. Uring-uringan tuh pacar lo gara-gara lo gak kasih kabar."
Aku memasang wajah memelas. "Iya, iya, maaf. Gi, pinjem HP lo, ya?"
Gia mengangkat alis, lalu menyodorkan ponselnya. "Seratus ribu per menit."
Aku melongo. "Dih, mau cepet kaya lo."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Icy Girl (COMPLETED)
RandomSiapa sangka, pertemuanku dengan seorang perempuan berwajah dingin justru membuat hatiku terasa hangat? Aku selalu percaya bahwa kebahagiaan bisa diraih jika aku terus mempertahankan orang yang kucintai. Tapi tak kusangka, seseorang yang selama ini...
