RIVER'S POV
Setelah aku resmi menjual rumah orang tuaku, kini aku menetap di apartemen Kiara. Bu Rain awalnya tetap memintaku untuk tinggal disana dan tidak perlu pindah kemanapun. Dengan alasan agar aku tidak merasa bersalah pada kedua orang tuaku karena aku menjual dan meninggalkan rumah itu. Namun, aku rasa tawaran itu terlalu besar. Aku sudah menjual rumah itu padanya dan sudah seharusnya aku pergi dari rumah itu.
Bu Rain memang benar-benar baik padaku. Bahkan dia mengatakan tidak akan pernah menjual rumah itu pada orang lain. Dan bila nanti aku memiliki cukup uang untuk membeli kembali rumah itu, aku hanya perlu mengatakan padanya dan dia akan memberikan rumah itu kembali padaku.
Sungguh manusia berhati malaikat.
Aku tersenyum lembut ketika melihat Kiara masih tertidur pulas di sampingku. Kehangatannya, dan aroma khasnya, menenangkan. Dengan sangat perlahan, aku melepas pelukanku dan berjalan menuju ruang tengah.
Tujuanku jelas, aku mengambil tas yang kuletakkan di sana. Di dalamnya, tersembunyi sebuah kotak kecil berisi cincin berlian. Aku memeriksa isinya sebentar.
Perfect.
Aku bergegas ke dapur, mulai memasak dua lembar roti bakar, sarapan sederhana kami. Begitu semuanya siap tersaji di meja, samar-samar aku mendengar langkah kaki Kiara yang terburu-buru dari kamar.
Wajahnya terlihat panik ketika pintu kamar terbuka. Aku hanya menatapnya, sedikit kebingungan.
"Kenapa?" tanyaku.
"Aku kira udah telat," ucapnya lega. Ekspresi paniknya langsung mereda ketika melihatku masih santai duduk di meja makan dan masih mengenakan piyama.
Kiara segera berjalan menghampiriku. Ia menarik kursi, lalu duduk di sebelahku.
"Kamu kenapa gak bangunin aku?" tanya Kiara, tangannya sudah meraih roti bakar di hadapannya.
"Bukannya gak mau bangunin, tapi kamu kelihatan capek banget." Aku mencondongkan tubuh sedikit. "Padahal semalam gak aku apa-apain, lho," ledekku.
Kiara mendengus pelan. Ia lalu menatapku dengan tatapan menggoda, matanya penuh makna. "Kita masih punya waktu berapa lama?"
Aku sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu, melihat ekspresi wajahnya yang nakal. Tetapi, mulutku begitu cepat menjawab. "Kurang lebih empat jam, sebelum pemberkatan."
Hari ini adalah hari pernikahan Gia dan Orlando. Tentu saja, hari ini juga menjadi hari bahagia yang sangat ditunggu untuk kami berdua.
Kiara hanya mengangguk sejenak, masih sibuk mengunyah roti bakarnya.
Di saat itulah, ketika perhatian Kiara sepenuhnya tertuju pada roti bakar itu, aku perlahan meletakkan kotak cincin berlian tadi tepat di hadapannya. Kiara masih belum menyadari kehadirannya. Namun, ketika dia mengulurkan tangan untuk mengambil gelas susu di depannya, matanya tak sengaja menangkap pantulan cahaya dari kotak beludru itu.
Gerakannya terhenti.
Seketika, Kiara mengangkat wajah dan menatapku. Matanya membulat, mulutnya terbuka lebar, benar-benar menunjukkan keterkejutan yang tak dibuat-buat.
"Ini..." Suaranya tercekat, seolah ada butiran roti yang tersangkut di tenggorokannya.
"Just a proposal," jawabku, berusaha keras mengatur napas dan nada bicara agar tetap tenang, meskipun hatiku berdebar tak karuan. "Kamu mau nikah sama aku?" Aku melanjutkan dengan cepat, rasanya gugup melihat keheningannya. "Tapi gak sekarang. Aku masih harus cari uang untuk bawa kita pindah ke luar negeri."
Kiara masih tidak bersuara. Tatapannya bergantian antara mataku dan cincin di atas meja. Perlahan, matanya mulai berkaca-kaca. Dia tampak tidak menyangka aku melamarnya hari ini. Di pagi yang santai, tanpa persiapan, tanpa pakaian bagus. Hanya wajah bangun tidur dan rambut acak-acakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Icy Girl (COMPLETED)
RandomSiapa sangka, pertemuanku dengan seorang perempuan berwajah dingin justru membuat hatiku terasa hangat? Aku selalu percaya bahwa kebahagiaan bisa diraih jika aku terus mempertahankan orang yang kucintai. Tapi tak kusangka, seseorang yang selama ini...
