20

4.2K 318 11
                                        

KIARA'S POV

Sinar matahari yang menembus celah jendela mulai mengusik tidurku. Perlahan aku menggeliat, mencoba mengusir rasa kantuk yang masih tersisa. Namun, ada sesuatu yang membuatku enggan untuk bergerak lebih jauh, yaitu tangan River yang masih melingkar di pinggangku, terasa begitu hangat dan nyaman.

Aku tersenyum kecil, menikmati momen ini beberapa detik lagi sebelum dengan hati-hati membalikkan tubuhku. Kini, aku berbaring menghadapnya. Wajah River masih terlihat begitu damai dalam tidurnya, napasnya teratur, dan bibirnya sedikit terbuka. Ah, dia benar-benar manis saat seperti ini.

Godaan untuk mengusiknya terlalu besar. Dengan lembut, aku mengecup bibirnya singkat, berharap dia akan terbangun. Tapi dia tetap terlelap, seolah ciumanku tadi hanyalah angin lewat.

Aku mendekat lagi, kali ini menciumnya sedikit lebih lama dan lebih gemas. River menggeliat kecil, lalu akhirnya membuka matanya perlahan, menatapku dengan senyum yang sangat menawan.

"Nakal ya kamu," ucapnya pelan sambil tertawa.

"Kan kamu yang ngajarin, sayang," balasku sambil terkekeh. "Ayo bangun, kita harus siap-siap."

River hanya mengangguk pelan, masih tampak setengah mengantuk, sebelum akhirnya duduk di tepi ranjang. Aku menyusulnya, duduk di sampingnya, mencoba membaca ekspresi wajahnya yang terlihat sedikit berbeda pagi ini.

"Ki..." panggilnya pelan, namun tiba-tiba terhenti saat aku menoleh.

"Kenapa?" tanyaku lembut, mencoba mendorongnya untuk melanjutkan.

River terdiam cukup lama, tampak ragu untuk mengutarakan apa yang ada di pikirannya. Aku menggenggam tangannya dengan lembut, memberikan isyarat bahwa apa pun itu, aku siap mendengarnya.

"Kemarin aku ketemu Mona," katanya, suaranya terdengar hati-hati. "Dia temannya Selina, mereka pernah satu agensi. Dan... mungkin kita akan ketemu Davina dan Michael nanti."

Aku terkejut mendengar nama-nama itu. Aku tahu Selina, kakak tiriku, adalah seorang model, tapi aku tidak pernah menduga dia mengenal orang-orang yang begitu dekat dengan masa laluku—dan River.

"It's okay, sayang," ucapku, mencoba meredakan kecemasan di wajahnya. "Mereka cuma masa lalu kita, jadi kamu gak usah terlalu mikirin itu ya."

River tetap terdiam, matanya tertunduk seperti sedang bergulat dengan pikirannya sendiri. Aku tahu dia jarang menunjukkan emosinya secara langsung, tapi aku bisa merasakan kekhawatirannya. Apa mungkin dia takut aku masih menyimpan perasaan untuk Michael?

"Sayang..." panggilku lembut, memastikan dia mendengarkanku. "Untuk saat ini dan selamanya, gak ada orang lain yang bisa ngalihin perhatian aku selain kamu. Jadi kalau cuma modelan Michael doang, dia udah gak masuk list aku lagi."

Matanya perlahan terangkat, menatapku dengan sorot yang sulit dijelaskan. Tapi aku bisa melihat sesuatu yang hangat di sana—entah itu rasa lega atau cinta yang semakin dalam.

Aku tersenyum kecil. Entah kenapa, aku senang melihat River seperti ini. Perasaannya yang begitu besar untukku, meskipun kadang terwujud dalam bentuk kekhawatiran, adalah bukti bahwa dia benar-benar mencintaiku. Dan aku tahu, aku merasakan hal yang sama.

Ketika kami sedang larut dalam pikiran masing-masing, ketukan pelan di pintu kamar memecah keheningan.

"Kiara," terdengar suara Mama dari luar. Aku segera bangkit, membuka pintu, dan mendapati Mama berdiri di sana bersama Om Rama—ayah tiriku. Aku memang lebih nyaman memanggilnya Om Rama daripada 'Daddy,' seperti yang dilakukan anak-anaknya.

"Hai, Kiara. Kamu apa kabar? Daddy kemarin ada urusan jadi belum sempat ketemu kamu," sapa Om Rama dengan ramah.

"Baik, Om," jawabku singkat, mencoba menjaga nada suaraku tetap sopan. Namun, aku bisa melihat tatapan Mama yang seakan meminta penjelasan mengapa aku masih belum memanggilnya Daddy.

My Icy Girl (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang