RIVER'S POV
Aku kembali ke proyek kafe yang sedang aku kerjakan, disana aku melihat Bu Rain dan Bu Aurora sedang berbincang. Aku berjalan mendekat dan mulai terdengar apa yang mereka bicarakan. Yap, mereka sedang memilih ornamen untuk dinding mereka.
Pada akhirnya seluruh ornamen itu dipilih oleh Bu Aurora tanpa memberikan kesempatan pada Bu Rain. Katanya selera Bu Rain begitu buruk dan alay. Awalnya aku sedikit tidak percaya, tapi setelah melihat apa yang sempat dipilihnya, aku tidak ragu. Dia memang alay.
"Gimana? Udah enakan?" tanya Bu Rain sambil menepuk bahuku.
Aku mengangguk pelan. "Sudah bu, makasih sudah kasih saya waktu kemarin." dia hanya mengangguk lalu pergi menghampiri istrinya.
Di siang yang terik ini, aku duduk di gundukan pasir. Menikmati semilir angin yang terasa panas di tubuhku. Aku mengambil kipas kecil berwarna merah muda milik Kiara lalu mengarahkannya ke leherku.
"Kipas kamu lucu juga." Aku menoleh ketika Bu Rain tiba-tiba saja duduk di sampingku sambil membawa minuman bersoda. "Buat kamu."
Aku menerima minuman itu lalu meneguknya pelan. "Makasih, Bu."
"Saya gak nyangka selera kamu seimut ini." ucapnya lagi sambil melirik kipas kecilku.
Aku melihat kipasku sejenak sebelum tertawa kecil. "Ini punya pacar saya, Bu." jawabku lalu tanpa ragu memamerkan foto Kiara padanya. "Namanya Kiara."
"Jadi kamu?" dia sedikit terkejut.
"Satu sama." ucapku yang membuat dia tertawa di sampingku.
Bu Rain lalu bangkit dari sampingku dan menepuk pundakku. "Ya udah kamu lanjut istirahat deh, saya mau pacaran dulu sama istri saya."
Aku mengangguk kecil saat Bu Rain berlalu dariku. Aku kembali menatap foto Kiara, sudah hampir dua minggu kami tidak berbicara. Itu kami lakukan agar orang-orang percaya kalau hubungan kami sudah kandas. Terutama bagi Davina dan Michael.
Flashback on
Hari ini aku benar-benar sibuk dengan proyek baruku. Sejak pagi hingga sore, hampir tidak ada waktu untuk istirahat. Aku bahkan tidak sempat menghubungi Kiara, sekadar menanyakan apakah dia sudah makan atau belum. Mungkin hal itu terdengar sepele bagi sebagian orang, tetapi bagiku, tidak. Jika kalian punya seseorang yang kalian sayangi, kalian pasti tahu bahwa hal-hal kecil seperti itu justru berarti banyak. Kiara selalu senang setiap kali aku menunjukkan perhatian sekecil apapun padanya.
"River," panggil Bu Aurora dari dalam mobilnya. Aku menoleh ketika dia menurunkan kaca jendela. "Besok kamu datang ke rumah saya dulu sebelum ke lokasi proyek, ya. Ada hal yang ingin saya bicarakan dengan kamu," katanya dengan nada lembut.
"Baik, Bu," jawabku sambil mengangguk sopan. Mobil itu pun perlahan melaju meninggalkan area proyek.
Aku berdiri sejenak, memperhatikan mobil yang semakin menjauh. Ini adalah kali pertama aku mendapatkan klien sebaik dan seramah Bu Aurora. Bukan hanya dia, Bu Rain pun tidak kalah ramah. Mereka tidak hanya mempercayakan proyek besar padaku, tetapi juga memperlakukan semua orang di tim dengan hangat. Selain sering mengundangku makan malam di rumahnya, mereka juga beberapa kali mengajakku makan siang di restoran mewah untuk membicarakan pembangunan kafe yang sedang kami kerjakan.
Dari caranya berbicara dan memperhatikan setiap detail desain, aku mulai menyadari satu hal, kafe ini dibuat bukan hanya untuk bisnis, tetapi untuk seseorang yang sangat berarti bagi mereka, yaitu anak semata wayang mereka.
Aku menyalakan mesin mobil lalu mengambil ponsel yang tergeletak di kursi penumpang. Jari-jariku langsung mencari nama Kiara di daftar kontak dan menekan tombol panggil. Tidak lama kemudian, suara yang begitu kukenal terdengar dari ujung telepon. Namun kali ini, Kiara tidak terdengar ceria seperti biasanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Icy Girl (COMPLETED)
AcakSiapa sangka, pertemuanku dengan seorang perempuan berwajah dingin justru membuat hatiku terasa hangat? Aku selalu percaya bahwa kebahagiaan bisa diraih jika aku terus mempertahankan orang yang kucintai. Tapi tak kusangka, seseorang yang selama ini...
