41

1.7K 173 11
                                        

KIARA'S POV

Setelah Clarissa pergi meninggalkan apartemenku, aku segera mengunci pintu kamar dari luar. Aku tidak ingin mengambil risiko jika sewaktu-waktu Michael sadar dan mencoba berbuat sesuatu. Setidaknya, dengan pintu terkunci, aku bisa sedikit lebih tenang.

Aku menjatuhkan diri di sofa, tubuhku terasa berat oleh rasa lelah dan tegang yang menumpuk sejak sore. Semprotan cabai masih kugenggam erat di tangan, seperti satu-satunya hal yang bisa membuatku merasa aman malam ini.

Mataku menatap langit-langit untuk beberapa saat sebelum akhirnya menutup perlahan. Dalam keheningan itu, pikiranku melayang pada seseorang yang paling ingin kulihat sekarang.

Ya Tuhan, aku benar-benar merindukan River. Sudah hampir dua minggu aku tidur sendirian. Biasanya, meski kami terpisah jarak, River akan meneleponku. Kami akan berbicara sampai larut malam, saling menatap di layar sampai salah satu dari kami tertidur lebih dulu.

Kini, yang menemaniku hanya kesunyian dan rasa takut. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Aku hanya ingin semua ini segera berakhir.

Aku ingin rencana ini berjalan lancar, agar aku bisa kembali hidup dengan tenang. Karena jujur saja, aku sudah muak melihat wajah Michael setiap hari.

Flashback on

Aku dan River meninggalkan Hotel Lunar dengan pikiran masing-masing yang masih penuh dengan rencana. Tidak ada kata yang terucap di antara kami sampai lift tertutup dan mulai turun. Di dalam ruang sempit itu, River tiba-tiba menggenggam tanganku erat. Sentuhannya membuatku menoleh. Dari tatapan matanya, aku tahu kami sama-sama ingin semua ini cepat berakhir.

"Kiara..."

"River..."

Kami berbicara hampir bersamaan, lalu sama-sama terdiam, saling menunggu siapa yang akan mulai lebih dulu.

River menatapku sejenak, "Kenapa kamu gak cerita tentang hutang Mama dan Papa kamu?"

Aku diam tidak menjawab, jujur saja aku juga baru tahu sore tadi ketika Michael dan kedua orang tuaku datang ke kantor. Dan sebenarnya aku juga tidak ingin River tahu tentang ini karena ini bukanlah tanggung jawabnya.

River tersenyum kecil, seperti memahami kebisuanku. "Kamu gak perlu jawab sekarang," katanya lembut.

Hening kembali mengisi ruang sempit di antara kami. Lift terus bergerak turun perlahan. Aku akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. "Apa kamu yakin aku bisa?" suaraku nyaris bergetar.

River tidak langsung menjawab. Ia hanya mempererat genggamannya, seolah ingin memberiku keyakinan lewat sentuhan itu. "Kita pasti bisa," katanya akhirnya, suaranya tenang tapi tegas.

Genggaman itu tidak terlepas sampai kami tiba di basement hotel. River menatapku sejenak sebelum menawarkan diri untuk mengantarku pulang. Aku tidak menolak, karena aku tahu, setelah malam ini, kami harus mulai berpura-pura menjadi dua orang asing.

Perjalanan menuju apartemen berlangsung dalam diam. Tidak ada percakapan berarti, hanya suara mesin mobil dan detak jantung yang terasa lebih cepat dari biasanya.

Sesampainya di depan apartemen, River menoleh ke arahku. Ia mendekat, lalu tanpa banyak kata, satu ciuman lembut mendarat di bibirku. Ciuman itu terasa dingin, seperti pertanda bahwa perpisahan sudah di depan mata.

"Kamu nggak berpikir kita akan berpisah selamanya, kan?" tanyaku ragu.

River tersenyum kecil lalu mengusap pipiku dengan ibu jarinya. "Ini cuma sementara, sayang," jawabnya pelan.

My Icy Girl (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang