RIVER'S POV
Sejak dari supermarket tadi, pikiranku tidak bisa lepas dari Clarissa. Apa dia masih menaruh hati pada Kiara. Tatapan itu, masih sama seperti ketika aku melihatnya saat acara pernikahan Selina.
Aku melirik Kiara yang sedang sibuk memeriksa daftar belanjaan, sambil menata beberapa barang yang dibelinya tadi. Wajahnya tampak tenang dan polos seperti biasanya. Tidak ada tanda bahwa dia menyadari sesuatu yang aneh dari Clarissa tadi. Tapi aku... aku tidak bisa menghapus perasaan gelisah ini.
Flashback on
"Sayang..." panggilku pada Kiara yang tengah berdiri di sebelahku. "Kamu dipanggil sama Mama."
Kiara menoleh dengan ragu, lalu berjalan menghampiri Tante Marissa yang berdiri bersama seluruh keluarga besarnya. Langkahnya terlihat canggung, tapi ia tetap tersenyum sopan. Aku memperhatikannya dari kejauhan, mataku tak bisa lepas darinya. Namun, perhatianku segera teralihkan pada Clarissa. Dia bergerak mendekati Kiara, berdiri di sampingnya. Wajahnya tampak tenang, tidak ada tanda-tanda kebencian seperti yang ditunjukkan Selina.
Selina, di sisi lain, jelas-jelas menunjukkan ketidaksukaannya. Matanya menatap Kiara dengan tajam, seolah ingin mengusirnya dari sana. Tapi Clarissa? Sorot matanya berbeda—misterius, hampir seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan.
Saat Kiara akan kembali menghampiriku, Tante Marissa meminta Kiara untuk tetap disana. Kiara pun mulai diperkenalkan kepada teman-teman Tante Marissa.
Aku mendesah pelan, mataku masih tertuju pada Clarissa. Sesekali, dia mencuri pandang ke arah Kiara, seolah ingin mengamati setiap gerak-geriknya. Ada sesuatu di balik tatapan itu yang membuatku bertanya-tanya.
Saat Clarissa berjalan menjauh dari kerumunan, aku pun berjalan mengikutinya. Dengan pelan aku mengekorinya, hingga dia duduk di sebuah bangku taman lalu menangis.
Dia menangis? Apa yang membuatnya menangis?
"Kenapa kamu gak pernah lihat aku, Ki? Apa kamu gak tahu perasaan aku selama ini. Aku sengaja minta Mama untuk undang kamu karena aku tahu kamu putus dengan Michael, dan aku ingin lebih dekat dengan kamu."
Apa aku tidak salah dengar Clarissa mengatakan itu semua.
"Kalau aku tahu kamu menyukai perempuan, aku gak akan ragu untuk berkata jujur."
Saat aku ingin menghampiri Clarissa, aku mendengar suara keributan di tengah acara. Aku pun bergegas kembali untuk melihat apa yang telah terjadi.
Flashback off
Prang!!!
Suara pecahan keras membuatku terlonjak. Tanpa berpikir panjang, aku langsung berlari ke arah dapur, jantungku berdebar kencang. Begitu sampai, aku menemukan Kiara berjongkok, sibuk membersihkan pecahan beling dengan ekspresi bersalah.
"Sayang!" panggilku panik, langsung mendekatinya. "Kamu kenapa? Ada yang luka?"
"Hehe." Kiara hanya tertawa kecil sambil menggaruk belakang lehernya, tanda jelas dia merasa malu. "Aku nggak sengaja nyenggol ini," ujarnya, menunjuk sisa-sisa pecahan vas bunga di lantai—vas yang baru aku beli beberapa hari lalu untuknya. "Maaf ya."
Aku menghela napas panjang, mencoba meredakan kekhawatiranku. "Kamu gak apa-apa, kan? Tangan kamu gak kena pecahan?" tanyaku lagi, memastikan keadaannya.
Dia menggeleng cepat, lalu tersenyum kecil. "Enggak kok, aku gak apa-apa. Maaf ya, vasnya jadi pecah."
Aku menatapnya sebentar, lalu ikut jongkok di sebelahnya. "Vasnya bisa dibeli lagi, Ki. Yang penting kamu gak kenapa-kenapa."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Icy Girl (COMPLETED)
AcakSiapa sangka, pertemuanku dengan seorang perempuan berwajah dingin justru membuat hatiku terasa hangat? Aku selalu percaya bahwa kebahagiaan bisa diraih jika aku terus mempertahankan orang yang kucintai. Tapi tak kusangka, seseorang yang selama ini...
