EXTRA PART

2.6K 166 4
                                        

RIVER'S POV

"Baik Pak, besok saya ke Villa Bapak."

Aku menutup telepon, senyumku merekah. Pembicaraan dengan Pak Albert berjalan lancar.

Begitu panggilan selesai, aku bergegas menghampiri Kiara yang sedang memasak di dapur. Aroma masakan yang menguar benar-benar membuatku tidak sabar.

"Masak apa sih, Sayangku?" tanyaku, suaraku sedikit manja. "Aromanya bikin aku gak fokus."

Aku memeluk pinggang Kiara dari belakang, menyandarkan daguku di bahunya. Kiara tersenyum tipis, tetapi matanya tetap fokus pada wajan di depannya. Dia masih sibuk melihat makanan yang dibuatnya, sesekali melirik konten tutorial dari chef terkenal di ponselnya.

"Jadi..." ucapnya beberapa saat kemudian. Dia mematikan kompor. Asap mengepul dari atas wajan, dan aroma masakan itu kini semakin kuat dan menggugah selera.

"Apa ini?" tanyaku, sedikit menjauh untuk melihat hasil karyanya.

"Ayam kuah kemangi," jawabnya dengan bangga. Pipinya bersemu merah. "Kamu harus cobain. Ini pertama kali aku masak 'besar' begini. Mana perabotannya jadi pada kotor semua."

Aku melirik ke arah tempat cucian piring. Benar saja, perabotan yang digunakan Kiara untuk memasak benar-benar menumpuk, memenuhi area cucian piring.

Aku menatapnya sambil tersenyum geli. Matanya yang polos menantiku. "Apa itu sebuah kode?" tanyaku, meyakinkan diri.

Tanpa menunggu jawabannya, yang kuyakin hanya akan berupa rengekan manja, aku melepaskan pelukan. Aku berjalan mantap ke tempat cucian piring.

"Okay, I'll do it." Aku harus merayakan Ayam Kuah Kemangi pertamanya ini.

Aku mulai mencuci piring ketika Kiara sedang sibuk menyiapkan makanan di meja. Suara air mengalir dan denting piring menjadi latar belakang kami.

"Ki, besok ikut aku yuk," ucapku, tanpa menoleh. Aku bisa merasakan tatapan Kiara tertuju pada punggungku.

Aku melanjutkan, menjelaskan detailnya. "Aku besok ada meeting dengan Pak Albert. Dia memintaku datang ke Villanya di Bali. Pak Albert juga undang kamu, katanya dia mau kenalan sama tunanganku."

Kiara masih belum menjawab. Tapi aku tahu dia pasti sedang tersenyum.

"Pak Albert juga mau ngajak kita ke Aruna," sambungku, menjeda sejenak untuk menunggu reaksinya.

"Kita? Ke Aruna?" ucap Kiara akhirnya, suaranya sedikit meninggi karena terkejut.

"Ya."

"Tapi bukannya disana mahal-mahal ya, sayang?" suara Kiara terdengar ragu, dan aku segera mengerti inti kekhawatiran itu.

Aku tahu betul alasan kenapa ia ragu. Sejak aku menjual rumah demi melunasi hutang orang tuanya, kondisi keuanganku memang sempat memburuk. Untuk meringankan beban itu, Kiara selalu sangat berhati-hati, bahkan selama aku tinggal di apartemennya, sebagian besar kebutuhanku dipenuhi olehnya. Walaupun aku sudah bilang kami bisa menanggungnya bersama, dia selalu merasa tidak enak padaku.

Aku mematikan keran sebentar, menoleh sedikit ke arahnya. "Kamu tenang aja, semua akomodasi sudah ditanggung Pak Albert." Aku kembali mencuci piring, tidak ingin membuatnya merasa terlalu tertekan.

Kiara kembali diam, tidak langsung memberikan jawaban.

"Gimana?" tanyaku lagi, setelah beberapa piring bersih. "Kamu mau gak? Pak Albert sama istrinya penasaran banget sama kamu. Gara-gara Bu Rain dan Bu Aurora heboh ceritain kamu ke mereka."

"Ceritain aku?" tanya Kiara sedikit terkejut, kali ini nadanya kembali ceria.

Aku mengangguk sambil tertawa kecil. "Mereka berdua suka sama kamu. Katanya kamu baik banget orangnya, udah gitu cantik lagi."

My Icy Girl (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang