37

1.9K 195 15
                                        

KIARA'S POV

Aku duduk di ruang kerjaku, menatap layar komputer yang sudah terbuka sejak satu jam yang lalu. Tapi tidak ada yang aku lakukan. Tanganku bahkan tidak bergerak sama sekali di atas keyboard. Entah sudah berapa kali aku membaca kalimat yang sama tanpa benar-benar mengerti isinya.

Suara Gia kini samar-samar membuyarkan lamunanku. "Hello, Kiara," ujarnya sambil melambaikan tangan di depan wajahku. "Lo nyadar gak sih, gue udah bolak-balik tiga kali ke ruangan lo dan lo masih diem aja."

"Hah?"

Gia hanya menarik napas berat dan kini dia duduk di depanku.

"Lo kenapa sih? Masih mikirin perkataan nyokap lo?"

Sial. Sejak terakhir kali aku mendengar kata-kata itu "Kalau kamu terus bersama River, jangan anggap kami orang tua kamu lagi" hatiku seperti terus dihantam badai. Aku ingin bersikap kuat, tapi suara itu terus bergema di kepalaku.

Mungkin aku bisa mengabaikannya karena selama ini mereka memang tidak pernah benar-benar berperan penting dalam hidupku. Tapi bagaimanapun juga, mereka berdua adalah orang tuaku.

"Ya apalagi kalau bukan itu. Gue cuma bingung, Gi." aku menghembuskan napas berat sambil menggenggam tangan Gia dengan erat. "Satu sisi mereka orang tua gue, disisi lain, gue sayang banget sama River."

"Gue mau nanya deh." Gia kini menatapku dengan lurus. Seakan tatapannya bisa menembus jantungku.

"Apa?"

Tatapan Gia semakin lekat namun bibirnya masih tertutup rapat, seolah apa yang ingin dia tanyakan adalah hal yang sangat personal.

"Lo beneran serius sama River?" mendengar itu, sontak aku melepaskan genggaman tanganku pada Gia.

"Maksud lo, Gi?"

Gia beranjak dari tempat duduknya dan menarik kursi untuk mendekat ke sampingku.

"Lo jangan salah paham dulu, gue nanya gini cuma buat mastiin lo kali ini udah yakin atau masih ragu." Gia menggamit tanganku dan kembali menatap mataku.

Aku membalas tatapan Gia dengan lekat dan mengatakan kalau aku serius dengan semua ini, "Lo tahu kan gue sebucin apa sama River? Gue bahkan rela ngelakuin apapun agar bisa sama dia. Lo lupa gimana gue dulu nurunin harga diri gue buat nyatain perasaan gue ke dia?"

Gia menghembuskan napasnya dengan kasar lalu berdiri sambil berjalan menuju sofa. "No offense, Kiara, but you did the same when you were with Mike. Lo itu bulol.."

"Bulol?" ulangku tidak mengerti.

"Bucin tolol." aku terkesiap mendengar ucapan Gia yang sepertinya berasal dari lubuk hatinya yang paling dalam. Gia kembali melanjutkan ucapannya. "Bukan cuma ke River lo nurunin harga diri lo. Tapi juga ke Mike. Lo lupa dulu..."

"Ssstttt... kalau yang itu lo gak perlu ingetin gue. Gue udah kubur itu semua dan anggap itu gak pernah terjadi." potongku sebelum dia kembali mengingatkanku pada Kiara yang bodoh serta tolol.

"Back to the topic, jadi lo beneran serius sama River? Walaupun lo tahu ujian lo bakal besar banget kalau lo mutusin buat milih dia?" Gia mengangkat sebelah alisnya, seolah menuntut jawaban yang pasti dariku.

Belum sempat aku menjawab, suara keributan dari luar terdengar hingga ruanganku. Aku dan Gia segera beranjak menghampiri suara keributan itu. Di luar sana, Michael sedang berdebat dengan beberapa karyawanku. Sepertinya mereka melarang Michael untuk masuk menemuiku, karena aku sudah menunjukkan foto Michael dan mewanti-wanti pada mereka agar melarang Michael untuk menginjakkan kakinya disini.

My Icy Girl (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang