KIARA'S POV
Aku bertepuk tangan pelan ketika makanan pesananku akhirnya tiba. Senyumku melebar, tapi di depanku, Gia hanya menatapku dengan alis terangkat, jelas-jelas heran.
"Kenapa lo?" tanyaku sambil mengambil sumpit, bersiap untuk menyantap makananku.
"Lo kalau di depan River begini juga?" tanyanya, matanya menyipit penuh rasa ingin tahu.
"Kenapa?" aku balas bertanya, pura-pura tidak mengerti.
"Kayak anak kecil yang dapet mainan baru. Kegirangan banget."
Aku terkekeh, lalu menegakkan bahuku dengan gaya dramatis. "Nggak dong. Gue kalau di depan River jadi wanita dewasa," jawabku dengan nada sensual, sengaja mempermainkan intonasi.
"Ih Kiara!" Gia langsung berteriak protes, tapi tidak bisa menyembunyikan gelinya. Wajahnya sudah memerah karena menahan tawa.
"Lo gak usah cari tahu mode dewasa gue," ucapku sambil menyeringai. "Nanti lo malah ikutan naksir sama gue. Kalau lo naksir, gue yang bakal bingung. Mau milih lo atau River. Tapi ya, kayaknya gue bakal tetap pilih River sih. Lo? Hmm, gak dulu deh."
Gia mendelik tajam, tapi senyumnya tetap terlihat. "Sialan lo," balasnya dengan nada menggoda, matanya menyipit penuh tantangan. "Gue juga bisa bikin lo bergairah, tahu." Nada suaranya kini lebih dalam, tidak kalah sensual dari nada suaraku tadi.
Aku terdiam sejenak, pura-pura terkejut dengan ucapannya, sebelum akhirnya kami berdua meledak dalam tawa. Gelak tawa kami memenuhi ruangan, mengusir segala kepenatan yang ada.
Saat aku sedang menikmati makananku, seseorang tiba-tiba duduk di kursi sebelahku.
"Boleh gabung? Tempat lain penuh semua," ucapnya santai.
Aku dan Gia melirik sekilas, dan aku langsung mengenali sosok itu—Clarissa.
"Tapi kalau kalian keberatan, aku bisa cari tempat lain," tambahnya, seakan tak ingin memaksa.
"Ya, duduk aja," jawabku singkat, nyaris tanpa ekspresi.
Clarissa tersenyum tipis sebelum mulai menyantap makanannya. Sementara itu, aku dan Gia hanya saling melirik, merasa canggung dengan kehadirannya.
Untuk mengabaikan situasi aneh ini, Gia memutuskan untuk kembali bertanya padaku, "Ki, River pernah bikin lo marah nggak sih?"
Aku merenung sejenak, lalu menjawab dengan santai, "Nggak, malah dia bikin gue ketawa terus."
"River?" Clarissa tiba-tiba menyela, mencoba masuk ke dalam percakapan kami. "Yang kemarin kamu bawa ke rumah?"
Aku mengangguk pelan, lalu kembali fokus ke Gia.
"Lo harus tahu, Gi," ujarku sambil tersenyum kecil. "River itu romantis banget..."
Gia langsung memotong, "Muka lempeng kayak gitu lo bilang romantis? Bercanda ya lo?"
Aku tertawa kecil. "Gue serius, Gi. Kalau muka lempeng gitu mah emang mode default-nya dia. Tapi kalau lagi sama gue, dia beda. Bukan kayak es kutub gitu lagi. Kalau di depan orang lain mungkin emang sengaja jaga imej."
"Hahaha. Jadi sekarang kelemahan River ada di tangan lo?" Gia menggoda dengan tawa nakalnya.
Aku mengangguk percaya diri. "Lo tahu nggak? Kemarin waktu gue mandi, dia nyusulin gue ke kamar mandi dan..."
"Uhuk!" tiba-tiba Clarissa terbatuk di sebelahku, membuatku refleks menggeser minuman ke arahnya.
"Thanks," ucap Clarissa singkat, sebelum kembali fokus pada makanannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Icy Girl (COMPLETED)
DiversosSiapa sangka, pertemuanku dengan seorang perempuan berwajah dingin justru membuat hatiku terasa hangat? Aku selalu percaya bahwa kebahagiaan bisa diraih jika aku terus mempertahankan orang yang kucintai. Tapi tak kusangka, seseorang yang selama ini...
