KIARAS POV
Pagi ini, aku terbangun tanpa menemukan River di sampingku. Hal ini terasa aneh, karena biasanya aku yang lebih dulu bangun daripada dia. Ada sesuatu yang janggal, dan rasa penasaran mulai menggelayuti pikiranku.
Setelah meregangkan tubuh sejenak, aku memutuskan untuk keluar kamar mencari River. Namun, yang kutemukan pertama kali adalah Gia, duduk di teras dengan senyum lebar sambil memandangi cincin di jari manisnya. Wajahnya terlihat bahagia luar biasa.
"Duhh yang lagi happy, diliatin mulu tuh cincin." ledekku sambil melipat tangan di dada.
Gia tersentak, lalu tertawa kecil, berusaha menyembunyikan rasa malunya. "Eh, Ki. Lo udah bangun?"
"Kalau gue belum bangun, gue gak bakal berdiri di sini, Gi," balasku sambil menatapnya datar. "Ngomong-ngomong, lo liat River gak?"
"River? Emangnya dia udah bangun?" Gia balik bertanya, membuatku makin gemas.
"Kalau dia masih tidur, gue gak bakal repot-repot nanya ke lo," jawabku sambil memutar mata.
Gia terkekeh, lalu berkata dengan nada menggoda. "Ih, sensi banget sih. Mentang-mentang bangun tidur gak ngeliat ayang."
Aku hanya mendengus pelan, tak ingin memperpanjang obrolan. Membiarkan Gia larut dalam kebahagiaannya sendiri, aku melangkah pergi untuk melanjutkan pencarian.
Aku menyusuri setiap sudut villa, melewati dapur, ruang tamu, hingga halaman belakang. Akhirnya, aku berjalan ke arah kandang hewan ternak, tempat favorit River beberapa waktu terakhir. Yup, dia masih penasaran dengan sapi yang menyahut ketika aku ajak bicara.
Namun, setelah mengitari kandang, bayangannya masih belum kutemukan. Bahkan panggilanku sejak tadi hanya disambut oleh suara angin pagi yang dingin.
"River, kamu di mana sih?" gumamku, mulai merasa sedikit kesal sekaligus cemas.
"Udah ketemu belum?" Gia menghampiriku sambil mengusap kedua lengannya karena angin pagi yang dingin. Aku hanya menggeleng pelan, masih mencoba menenangkan hati yang mulai cemas.
Namun, kebingunganku terjawab ketika dari kejauhan terdengar teriakan yang sangat familiar. Aku dan Gia spontan berpandangan, lalu menoleh ke arah sumber suara.
"Bhaaaak... Udah, dong, gue nggak ada niat gangguin lo tadi. Bhaaaakkk!" teriakan itu disusul dengan nada panik. Suara itu adalah milik River.
Aku menajamkan pandangan dan melihatnya, lari terbirit-birit sambil dikejar seekor domba. "Bhaaaak! Jangan kejar gue terus, gue bukan rumput! Bhaaaaakkk!" teriakannya makin konyol sambil menirukan suara domba.
River berlari ke arahku tanpa memperhatikan langkahnya, dan sebelum aku sempat menghindar, dia menabrakku cukup keras. Kami berdua terjerembab di atas rerumputan, tubuhnya hampir sepenuhnya menindihku.
Sementara itu, domba yang tadi mengejarnya berhenti, menatap kami sebentar, lalu dengan tenang berbalik pergi. Ironis sekali.
"Aduh..." rintih River sambil bangkit perlahan dan menoleh ke belakang. "Dasar kambing sialan!" umpatnya dengan kesal.
Aku yang masih berusaha duduk tegak, hanya bisa tersenyum kecil mendengar kekeliruannya. "Domba, sayang," koreksiku sambil menepuk debu dari pakaianku.
"Domba sialan!" ralatnya cepat. Tapi kemudian dia tampak teringat sesuatu, matanya melebar penuh rasa bersalah. "Astaga, sayang! Kamu nggak apa-apa? Sakit gak?"
"Sakit... sedikit. Segini," jawabku sambil mengangkat dua jari, menunjukkan seberapa kecil rasa sakit yang kurasakan.
"Maaf ya, sayang. Beneran aku nggak sengaja. Itu domba tadi tiba-tiba ngejar aku. Padahal aku nggak ngelakuin apa-apa," katanya sambil menggenggam tanganku penuh rasa cemas.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Icy Girl (COMPLETED)
RandomSiapa sangka, pertemuanku dengan seorang perempuan berwajah dingin justru membuat hatiku terasa hangat? Aku selalu percaya bahwa kebahagiaan bisa diraih jika aku terus mempertahankan orang yang kucintai. Tapi tak kusangka, seseorang yang selama ini...
