11

4.8K 370 5
                                        

KIARA'S POV

Semakin keras aku mencoba melupakan kejadian malam itu, semakin jelas ingatan itu muncul di benakku. Setiap detail, setiap sentuhan, setiap tatapan—semuanya seperti rekaman yang terus berulang tanpa bisa kuhentikan. Rasanya putus asa. Aku tahu aku tidak akan pernah benar-benar melupakan apa yang telah terjadi antara aku dan River.

Sudah hampir satu bulan sejak terakhir kali aku bertemu dengannya. Hari itu, dia membantuku merapikan dokumen di kantor baru, lalu menghilang begitu saja. Tidak ada kabar, tidak ada pesan. Seolah dia sengaja menjauh dariku.

Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa ini yang terbaik, jarak ini mungkin akan membantuku untuk melupakannya lebih cepat. Tapi kenyataannya justru sebaliknya. Bayangan River terus menghantui pikiranku. Saat aku sedang bekerja, saat aku sedang melamun, bahkan saat aku mencoba tidur. Dia muncul di kepalaku dengan cara yang tidak sopan, menguasai pikiranku tanpa izin.

Aku menggigit bibir, frustasi. "Kenapa jadi gini sih?" gumamku pada diri sendiri, menatap layar laptop yang sejak tadi hanya menampilkan dokumen kosong. Semua usaha untuk fokus terasa sia-sia.

Yang lebih menggangguku adalah aku tidak tahu bagaimana perasaan River saat ini. Apakah dia juga merasakan apa yang aku rasakan? Atau dia benar-benar sudah melupakan semuanya, seperti yang dia sarankan hari itu? Dan kalau memang begitu... kenapa rasanya sesakit ini?

Aku menghela napas panjang dan bersandar di kursi kerjaku, menatap layar laptop yang sejak tadi hanya menampilkan dokumen kosong. Bayangan River terus-menerus hadir di pikiranku, menolak untuk pergi meski sudah berulang kali aku mencoba mengusirnya.

Sepertinya aku harus mencari udara segar untuk menenangkan pikiranku. Aku berjalan keluar dari ruanganku dan beberapa karyawan mulai menyapaku. Aku menghampiri Gia yang berbincang dengan seseorang, orang itu terlihat tidak asing. Dia... River. Sontak aku pun berlari menghampiri mereka. Entah kenapa perasaanku begitu senang melihat keberadaan River disini.

"Es Kutub!" sapaku padanya yang membuat alisnya tertaut beberapa saat. Aku mencoba mengontrol ekspresiku agar tidak terlihat begitu senang melihat kehadirannya disini.

"Es Kutub?" tanya perempuan di sebelahnya. Seketika aku tersadar kalau River datang kemari tidak sendirian, dia bersama seorang perempuan. Mereka bahkan terlihat sangat akrab satu sama lain.

Aku tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini. Tapi ini terasa menyakitkan.

"Sorry," ucapku pelan.

River tampak menahan senyum ketika melihatku salah tingkah. Lalu berbicara pada perempuan di sampingnya.

"Vir, kamu ngobrol sama Gia dulu ya. Dia paling the best deh kalau masalah dekor nikahan." ucap River yang dibalas anggukan oleh Gia dan perempuan itu.

Tunggu sebentar...

Menikah? Apa River akan menikah dengan perempuan itu dan menggunakan jasa EO milikku? Berani-beraninya dia.

"Kamu apa kabar?" River membuka obrolan ketika Gia pergi bersama perempuan itu ke ruangannya.

"Buruk!" entah apa yang ada dipikiranku saat mengatakan ini.

"Apa ada masalah?"

"Nggak ada."

River mengerutkan dahinya seakan menyelidik apa yang terjadi padaku. Namun beberapa saat kemudian ada yang memanggilnya dan aku pun menoleh ke arah suara itu.

"Riv, Vira dimana, ya?" tanya seorang Pria yang sepertinya seumuran dengannya.

"Disana," ujarnya dengan enteng sambil menunjuk ruangan Gia.

My Icy Girl (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang