KIARA'S POV
Suasana lobby apartemen pagi itu cukup lengang, hanya ada beberapa penghuni yang berlalu-lalang. Aroma kopi dari kafe kecil di sudut ruangan bercampur dengan semerbak bunga dari dekorasi yang tertata rapi. Aku melangkah santai menuju pintu keluar ketika seorang resepsionis menghentikanku.
"Bu, ini ada titipan untuk Bu Kiara..." panggilnya, menyodorkan sebuket bunga segar dengan pita satin di sekelilingnya.
Aku mengerutkan kening. "Dari siapa?" tanyaku, mengambil buket itu dengan ragu.
"Dia gak nyebut namanya, Bu. Tapi dia perempuan, mungkin seumuran sama Bu Kiara."
Seketika pikiranku melayang pada River. Bukankah River saat ini masih di luar kota. Tapi kalau ini dari River, bukankah dia akan memberikannya langsung padaku? Aku menimbang-nimbang kemungkinan lain sebelum akhirnya menghela napas.
"Makasih ya."
Aku baru saja berbalik hendak pergi ketika suara resepsionis itu kembali memanggilku.
"Bu, maaf. Ini satu lagi, saya lupa."
Aku menoleh, melihatnya menyodorkan sebuah bingkisan berukuran sedang dengan pita emas menghiasi bagian atasnya.
"Ini juga dari orang yang sama?" tanyaku sambil melirik kotak itu.
Resepsionis itu menggeleng, lalu tampak berpikir sebelum akhirnya menjawab. "Kalau ini... dari Pak Michael, Bu."
Tubuhku menegang. "Mike?" ulangku, seolah ingin memastikan aku tidak salah dengar.
"Iya, Bu."
Aku menatap bingkisan itu dengan perasaan campur aduk. Entah apa lagi yang diinginkan pria brengsek ini.
Dengan sedikit ragu, aku mengambil bingkisan itu, lalu berjalan keluar dari lobby. Udara pagi yang sejuk menyambutku, tetapi pikiranku justru penuh dengan tanda tanya.
Tidak lama kemudian, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depanku. Dan itu adalah mobil Gia.
Berbeda dari biasanya, di mana River selalu mengantarku ke mana pun, hari ini justru Gia yang menjemputku—atas permintaan River sendiri.
River masih belum sepenuhnya mempercayakanku untuk menyetir sendiri. Padahal, sebelumnya aku sudah menyetir untuknya, tapi ketakutannya masih belum hilang. Dia selalu khawatir aku akan menabrak sesuatu lagi.
Akhirnya, daripada membiarkanku berkendara sendiri, River meminta Gia untuk menjemputku.
"Banyak nih bawaannya," celetuknya sambil melirik bunga dan bingkisan yang kini kubawa. "Baru sehari ditinggal ke luar kota, udah dikirimin bunga sama bingkisan. Romantis banget sih pasangan harmonis ini."
Aku mendengus pelan, lalu masuk ke dalam mobil. Dengan hati-hati, aku meletakkan bunga dan bingkisan itu di kursi belakang.
"Bukan dari River," ucapku pelan.
Gia, yang baru saja akan melajukan mobilnya, menoleh padaku dengan alis terangkat. "Lah terus dari siapa? Lo punya secret admirer sekarang?"
Aku menghela napas sebelum menjawab. "Kalau bingkisan ini dari Mike. Tapi kalau bunga ini... gue gak tahu."
Gia langsung memutar badannya ke arahku, matanya membesar tak percaya. "Mike?" ulangnya dengan nada tak suka. "Jadi dia beneran mau deketin lo lagi setelah buang lo gitu aja?"
Aku mengangkat bahu, merasa sama bingungnya. "Gue juga gak ngerti. Terakhir gue ketemu dia kan pas nikahan Selina. Dan gara-gara dia, gue ditampar sama Davina plus dikatain pelakor sama nyokap gue sendiri."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Icy Girl (COMPLETED)
AléatoireSiapa sangka, pertemuanku dengan seorang perempuan berwajah dingin justru membuat hatiku terasa hangat? Aku selalu percaya bahwa kebahagiaan bisa diraih jika aku terus mempertahankan orang yang kucintai. Tapi tak kusangka, seseorang yang selama ini...
