22

3.7K 292 8
                                        

KIARA'S POV

Untuk kesekian kalinya, aku terbangun lebih dulu dan mendapati River yang masih tertidur nyenyak di sampingku. Dia selalu sigap menjadi tameng untuk melindungiku dalam situasi apapun.

Pikiranku kembali melayang mengenai kejadian kemarin. Dimana Mama begitu marah padaku karena aku telah merusak acara Selina. Lebih menyakitkan lagi, Mama mempercayai setiap kata yang keluar dari mulut Clarissa. Dia benar-benar berpikir aku menggoda Michael, tuduhan yang bahkan tidak pernah terlintas di pikiranku. Mengingat itu semua membuatku merasa semakin hancur.

Bagaimana mungkin Mama, yang seharusnya mengenalku lebih baik dari siapa pun, malah memilih percaya pada Clarissa? Apa dia benar-benar berpikir aku bisa melakukan hal sepicik itu? Aku adalah anak kandungnya, tetapi rasanya seperti aku ini orang asing baginya.

Flashback on

"Apa kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan tadi, Kiara?" suara Mama terdengar dingin, penuh penekanan. "Kamu sudah bikin Mama malu di hadapan keluarga besar."

"Kiara gak ngelakuin apapun, Ma." jawabku, mencoba tetap tenang meskipun dadaku terasa sesak.

"Kalau kamu gak ngelakuin apapun, gak mungkin tadi pagi ada keributan. Asal kamu tahu, Pak Michael itu adalah pemilik agensi tempat Selina bekerja. Dan ulah kamu itu sudah mempermalukan Selina."

Aku menggigit bibir, berusaha menahan amarah yang mulai memuncak. "Sekali lagi Kiara bilang sama Mama, Kiara gak ngelakuin apapun. Michael yang pegang tangan Kiara dan tiba-tiba aja istrinya nampar Kiara."

Mama menatapku tajam, matanya penuh kecurigaan. "Gak akan ada asap kalau gak ada api, Kiara! Clarissa juga sudah bilang ke Mama kalau kamu yang memegang tangan Pak Michael."

Aku tertegun. Clarissa? Dia lagi? Sungguh kesabaranku sudah habis kali ini.

"Clarissa? Jadi Mama lebih percaya dia daripada Kiara, anak Mama sendiri?"

Plak!

Sebuah tamparan mendarat di pipiku, membuat wajahku berdenyut panas. Dalam satu hari, aku sudah menerima dua tamparan dari dua orang berbeda. Bagaimana bisa nasibku benar-benar sial seperti ini.

"Jangan kurang ajar kamu, berani kamu bentak Mama sekarang?"

"Seharusnya Mama gak pernah ngundang Kiara kesini!" ucapku sambil berbalik dan melangkah pergi, membanting pintu di belakangku.

Hatiku hancur. Rasanya seperti ditusuk berkali-kali oleh orang yang paling aku harapkan untuk membelaku. Perasaan ini terlalu berat untuk ditanggung. Aku tidak pernah merasa sekecil ini, bahkan di depan orang asing sekalipun. Tapi sekarang? Orang yang seharusnya mencintaiku tanpa syarat malah membuatku merasa seperti tidak ada artinya.

Flashback off

Aku tersadar dari lamunanku ketika River menggeliat pelan di sampingku. Wajahnya terlihat begitu menggemaskan, dan membuatku tidak tahan untuk tidak menciuminya. Aku menatap wajahnya dan mencium pipinya berkali-kali.

River mengerang kecil sebelum matanya perlahan terbuka. Wajah mengantuknya selalu berhasil membuatku tersenyum. "Kayaknya ini udah jadi kebiasaan kamu, ya?" ucapnya dengan suara serak sambil tersenyum kecil.

"Memangnya kenapa? Aku suka," jawabku sambil mencubit hidungnya.

River langsung membalas dengan menyerang wajahku dengan ciuman bertubi-tubi, membuatku tertawa sambil berusaha menahan tubuhnya yang kini menindihku.

"Udah, Riv! Geli!" seruku di sela tawa.

River akhirnya bangkit sambil meregangkan tubuhnya. "Oke, oke. Aku mau mandi dulu. Mau ikut?" tanyanya dengan nada menggoda, diiringi gerakan menaik-turunkan alisnya.

My Icy Girl (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang