RIVER'S POV
Apa aku terlalu berlebihan jika merasa takut Kiara akan kembali kepada Michael?
Aku tidak bisa membohongi diri sendiri. Sebelum bersamaku, Kiara adalah wanita normal. Jujur saja, sampai sekarang aku masih belum sepenuhnya mengerti alasan dia memilihku. Kenapa dia dulu memintaku menjadi kekasihnya? Apa yang membuatnya yakin?
Bagaimana jika suatu hari Kiara berubah pikiran? Bagaimana jika dia kembali menjadi Kiara yang dulu, Kiara yang mencintai Michael tanpa batas?
Sial.
Seharusnya aku tidak perlu memikirkan ini. Aku percaya pada Kiara. Aku tahu dia mencintaiku. Tapi tetap saja, ada sesuatu di dalam hatiku yang terus berbisik bahwa Michael tidak akan tinggal diam. Dia pasti akan melakukan segala cara untuk mendapatkan Kiara kembali.
Dan bukan hanya Michael yang menjadi beban pikiranku akhir-akhir ini. Ada seseorang yang sampai saat ini tidak aku ketahui identitasnya terus-menerus mengirimkan barang-barang untuk Kiara. Awalnya hanya hal-hal kecil, lalu meningkat menjadi makanan favoritnya, bahkan barang-barang yang aku tahu sangat dia sukai.
Bagaimana orang itu tahu semua detail tentang Kiara?
Aku sempat berpikir mungkin itu Michael. Tapi firasatku berkata lain.
Hari ini, beberapa buket bunga dikirim ke apartemen dan kantor Kiara. Selain itu, ada makanan dan hadiah kecil lainnya yang entah dari siapa.
Aku melihatnya sendiri.
Di lobi apartemen Kiara, seorang pria menyerahkan sebuah bingkisan kepada resepsionis. "Titip ini ya, untuk penghuni yang bernama Kiara. Bilang dari Pak Michael."
Pria itu bukan Michael. Aku yakin dia hanya suruhan. Aku tidak menghentikannya, hanya membiarkannya pergi sementara aku tetap duduk di kursi tunggu, mengawasi lobi dengan cermat. Aku hanya menunggu orang misterius yang terus mengirimkan bunga dan makanan untuk Kiara.
Sudah hampir dua jam aku duduk di sini. Tapi tidak ada seorang pun yang terlihat mencurigakan atau datang untuk menitipkan sesuatu untuk Kiara.
Aku menghela napas, mulai merasa frustrasi, sampai akhirnya ponselku bergetar. Nama Kiara muncul di layar.
Aku langsung mengangkatnya. "Sayang, kamu di mana?" suara Kiara terdengar serak, hampir tidak terdengar.
Aku tersenyum kecil. Sepertinya dia baru bangun tidur. "Aku lagi cari sarapan di bawah, kamu mau apa?" tanyaku cepat.
"Uhm... ketoprak deh. Tapi rahasia ya."
Alisku berkerut. "Rahasia?"
"Iya, sayang. Jangan dikasih tahu."
Aku semakin bingung. "Hah?" Aku berpikir sejenak, mencoba memahami maksudnya, sampai akhirnya aku sadar. "Oh... hahaha..."
Kiara terkekeh. "Kamu lemot banget sih, sayang."
Aku menghela napas dramatis. "Ya kamu kayak bapak-bapak."
"Aku harus bisa ngelucu. Soalnya pacarku itu kayak es batu."
Aku tersenyum kecil sambil mengangguk, meski tahu dia tidak bisa melihatnya. "Oke, kamu lucu banget pagi ini. Aku beli ketoprak rahasia dulu, kamu tunggu sebentar, ya."
Sambil memasukkan ponsel ke saku, aku kembali melihat ke arah resepsionis. Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada tanda-tanda orang mencurigakan.
*****
Pintu apartemen terbuka, dan aku melangkah masuk dengan sebungkus ketoprak di tangan. Aroma bumbu kacang yang gurih langsung memenuhi ruangan. Kiara, yang masih duduk di sofa dengan rambut sedikit berantakan, menoleh padaku dengan mata berbinar.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Icy Girl (COMPLETED)
RandomSiapa sangka, pertemuanku dengan seorang perempuan berwajah dingin justru membuat hatiku terasa hangat? Aku selalu percaya bahwa kebahagiaan bisa diraih jika aku terus mempertahankan orang yang kucintai. Tapi tak kusangka, seseorang yang selama ini...
