KIARA'S POV
Kami masuk ke mobil dengan langkah tergesa. Gia langsung menyetir, dan aku hanya bisa duduk di kursi penumpang sambil menggigit bibir, mencoba menahan rasa cemas yang semakin menjadi-jadi.
"Gi, siapa yang di rumah sakit?" tanyaku lagi, suaraku sedikit bergetar.
Gia menghela napas, tapi matanya tetap fokus ke jalan. "Orlando bilang River ada di sana. Dan sekarang Orlando masih dijalan menuju rumah sakit."
Jantungku seolah berhenti berdetak. "Apa? River? River kenapa?"
"Dia gak bilang detail, Ki. Tapi katanya River kecelakaan di proyek tadi siang."
Kata-kata itu seperti pisau yang menghujam dadaku. Tanganku langsung mencengkeram sabuk pengaman dengan gemetar. Aku tidak bisa berpikir jernih. Bayangan River terluka parah menghantui pikiranku.
"Kenapa Orlando gak langsung ngabarin gue?" tanyaku dengan nada sedikit tinggi.
"Gue gak tahu, Ki. Mungkin dia gak mau bikin lo panik. Tapi tenang, River pasti baik-baik aja," jawab Gia, meski nada suaranya tidak sepenuhnya meyakinkan.
Aku hanya bisa memejamkan mata, berdoa dalam hati agar semua ini tidak seburuk yang kubayangkan.
Setengah jam kemudian, kami tiba di rumah sakit. Aku hampir tidak bisa menunggu Gia memarkir mobil dengan benar. Begitu mobil berhenti, aku langsung membuka pintu dan berlari menuju lobi rumah sakit.
"River? Pasien atas nama River, di mana dia?" tanyaku terburu-buru kepada petugas di meja resepsionis.
Petugas itu memeriksa daftar pasien dengan tenang, sementara aku hampir kehilangan kesabaran.
"Di lantai tiga, ruang 305," jawabnya akhirnya.
Tanpa menunggu lebih lama, aku langsung berlari menuju lift.
Ketika aku membuka pintu ruang 305, tubuhku langsung membeku. Pemandangan di depanku seakan menghentikan waktu. Di sana, Mona berdiri di samping River, menyuapinya makanan dengan ekspresi penuh perhatian.
"Aku bisa sendiri," ucap River, suaranya terdengar pelan. Namun, Mona tetap bersikeras.
"Tangan kamu masih sakit, Riv. Lagian ini udah tanggung jawab aku karena kamu kecelakaan di proyek aku."
Aku hanya berdiri di ambang pintu, tubuhku kaku, pikiranku kacau. Mona tampak begitu nyaman mengambil peran yang seharusnya menjadi milikku. Mereka berdua belum menyadari kehadiranku, hingga suara Gia dari belakang memecah kebisuan.
"Ki, kenapa lo diem di sini?" tanya Gia yang baru saja tiba.
Mendengar suara Gia, reflek River dan Mona menoleh ke arahku.
River tersenyum tipis, wajahnya terlihat lega ketika melihatku. Sebaliknya, ekspresi Mona berubah. Ketidaksenangannya jelas terlihat, dan tanpa kata, dia melangkah mundur sejenak ketika aku berjalan ke arah River.
"Sayang," ucapku pelan.
Aku menghampirinya dan langsung memeluknya erat. Semua beban di dadaku seakan runtuh begitu saja. Aku ingin dia tahu bahwa aku di sini—bahwa dia adalah milikku, tidak ada seorang pun yang boleh mendekatinya sesuka hati, termasuk Mona.
"Kenapa kamu gak kabarin aku? Aku khawatir setengah mati, tahu!" suaraku bergetar, mencerminkan emosi yang sejak tadi aku tahan.
River membalas pelukanku dengan satu tangan yang masih bebas, mengelus lembut punggungku. "Maaf ya, sayang. HP aku ketinggalan di mobil, aku gak bermaksud bikin kamu panik. Lagi pula, aku cuma luka ringan. Gak ada yang serius kok."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Icy Girl (COMPLETED)
SonstigesSiapa sangka, pertemuanku dengan seorang perempuan berwajah dingin justru membuat hatiku terasa hangat? Aku selalu percaya bahwa kebahagiaan bisa diraih jika aku terus mempertahankan orang yang kucintai. Tapi tak kusangka, seseorang yang selama ini...
