RIVER'S POV
Aku berdiri canggung di depan sebuah rumah besar yang terlihat seperti istana modern. Pilar-pilar putih menjulang di antara jendela kaca setinggi langit-langit. Tanaman-tanaman eksotis tertata rapi di halaman depan, dan suara air mancur kecil mengalun lembut dari sudut taman. Ini bukan rumah, ini hampir seperti museum pribadi. Dan jujur saja aku tidak menyangka rumah Pak Albert, orang yang kemarin aku temui di kafe ternyata sebesar ini.
Dengan ragu, aku mengangkat tangan dan menekan bel. Tak butuh waktu lama, pintu besar berukir itu terbuka perlahan. Seorang wanita paruh baya dengan seragam ART berdiri di ambang pintu, ekspresinya ramah ketika menyambutku.
"Mba River, ya?" tanyanya sambil menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Aku mengangguk kecil. "Iya."
"Silakan masuk. Bapak sudah menunggu di dalam."
Langkahku pelan menyusuri lorong marmer yang dingin dan mengkilap. Rumah ini... gila. Benar-benar gila. Aku merasa seperti masuk ke dunia lain. Langit-langit tinggi dengan lampu gantung kristal, lukisan klasik di dinding, dan aroma kayu mahal menyambutku seolah ingin mengatakan, kalau aku tidak pantas berada di tempat ini.
Di ruang tengah, pandanganku tertuju pada sebuah pigura besar. Foto keluarga, yang tampak hangat dan harmonis. Aku memperhatikan sejenak foto itu, terdapat Pak Albert dan istrinya yang mungkin saat itu mereka berumur sekitar 50 tahunan. Ditengah-tengah mereka berdiri seorang wanita cantik dengan perpaduan wajah blasteran dari Pak Albert dan istrinya. Satu kata yang bisa aku ucapkan ketika melihatnya. Sempurna.
"Halo, River?" suara berat itu menyapaku dari arah kanan. Seketika aku tersentak karena sejak tadi aku memperhatikan wanita yang berada di foto keluarga itu.
Seorang pria tua berambut perak, berdiri di dekat patung harimau yang terlihat seperti asli. Wajahnya sama sekali tidak menyerupai orang Indonesia, tapi aksennya nyaris sempurna.
Ini adalah pertemuan keduaku dengannya. Bisa aku katakan dia adalah orang yang sangat baik dan ramah. Kalau aku bisa memberinya rating, sudah pasti aku akan memberikan bintang lima untuknya.
"Pak Albert." Sapaku sambil menjabat tangannya.
Dia tersenyum menyambut tanganku. "Silakan duduk."
Aku duduk hati-hati di sofa empuk berbalut kulit. Kugenggam map di tanganku dan memberikannya padanya, sebuah gambar desain yang ia minta kemarin.
"Kamu nggak sibuk, kan? Nggak ada janji atau hal penting lainnya? Karena istri dan anak saya sedang keluar serta keputusan tetap di tangan mereka."
Aku menggeleng sambil tersenyum sopan. "Kebetulan saya lagi free, Pak."
Tentu saja aku tidak akan melewatkan kesempatan seperti ini. Orlando sudah bilang padaku, Pak Albert adalah klien prioritas.
Pak Albert menyipitkan mata, seperti membaca pikiranku. "Kamu bilang free, bukan karena saya kenal bos kamu, kan?"
Aku terkekeh gugup, lalu mengusap tengkukku. "Ahh... bukan, Pak. Saya sudah ambil cuti dua bulan. Tabungan saya mulai menipis. Jadi... ya, saya sangat available."
Dia tertawa pelan. "Diminum tehnya. Jangan malu-malu."
Aku mengangguk, mengambil cangkir porselen bermotif bunga dari atas meja. Hangat. Wangi teh melati menenangkan sedikit kegugupan di dadaku.
Tiba-tiba, suara mobil terdengar dari arah luar. Kukira itu istri dan anak Pak Albert, tapi ternyata bukan.
Seorang perempuan muda masuk tanpa basa-basi, mematikan puntung rokok di asbak kristal tepat di depanku. Wajahnya santai, bahkan sedikit menantang.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Icy Girl (COMPLETED)
AcakSiapa sangka, pertemuanku dengan seorang perempuan berwajah dingin justru membuat hatiku terasa hangat? Aku selalu percaya bahwa kebahagiaan bisa diraih jika aku terus mempertahankan orang yang kucintai. Tapi tak kusangka, seseorang yang selama ini...
