19

4.5K 319 17
                                        

RIVER'S POV

Aku memandangi Kiara yang sedang menerima telepon, wajahnya tampak serius. Sementara itu, tubuhku masih bersandar di tembok, pikiranku melayang pada apa yang baru saja terjadi antara kami. Aku menyukai semuanya—setiap detik, setiap momen.

Tapi suasana berubah begitu telepon itu berakhir. Kiara melempar ponselnya ke sofa dengan gerakan frustrasi, lalu menjatuhkan dirinya ke sana seperti seseorang yang kehilangan tenaga.

"Kenapa? Ada masalah?" tanyaku lembut, sambil duduk di sebelahnya. Aku meraih tubuhnya agar bisa bersandar padaku, memberinya ruang untuk merasa nyaman.

Dia menghela napas panjang, lalu menjawab pelan, "Mama..."

Hanya satu kata, tapi aku tahu itu menyimpan banyak beban. Aku tidak menuntutnya untuk segera bercerita, memberinya waktu untuk berbagi jika dia siap. Dan benar saja, setelah beberapa saat, Kiara mulai membuka suara.

"Mama ngundang aku ke nikahan anak tirinya. Dia minta aku datang... katanya aku wajib hadir." Suaranya terdengar berat, seolah ada tekanan besar yang tidak ingin dia hadapi.

"Mau aku temenin?" tawarku sambil menggenggam tangannya.

Dia menggeleng pelan sebelum menatapku dengan ragu. "Ini jauh, Riv..."

"Dimana?"

"Jogja."

Aku tersenyum tipis. "Jogja gak jauh-jauh amat kok. Kita bisa naik kereta, santai aja."

Kiara tampak bimbang. "Terus proyek kamu? Kamu tinggalin gitu aja?"

"Ada Orlando. Aku bisa minta dia untuk handle sementara. Dia pasti ngerti," jawabku dengan nada yakin, mencoba meyakinkannya.

"Kamu yakin?" tanyanya lagi, masih dengan raut wajah tidak enak.

Aku mengangguk sambil menyentuh pipinya perlahan. "Yakin banget. Udah, gak usah mikirin hal lain. Aku akan ada buat kamu. Jadi sekarang, gak usah cemberut lagi."

Kiara akhirnya tersenyum, meski matanya masih menyiratkan kegelisahan. Lalu aku menambahkan dengan nada menggoda, "Mending kita selesaikan yang tadi belum tuntas..."

Dia langsung tertawa pelan sambil memelukku erat. "Pacarku mesum banget, sih..." ucapnya sambil mencubit gemas pipiku.

Aku mengusap rambutnya perlahan dan membiarkan dia berada dipelukanku.

*****

"Aku terakhir ketemu Mama waktu lulus SMA. Setelah itu, Mama dan keluarga barunya pindah ke Jogja, dan sejak itu kami gak pernah ketemu lagi." Suara Kiara terdengar pelan, hampir seperti bisikan yang tenggelam di antara deru roda kereta.

Sejak kami naik kereta tadi, dia terus mengulang cerita itu, seperti sedang mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Aku tahu ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar pertemuan dengan ibunya, seperti luka lama yang belum sembuh.

Aku meraih tangannya, menggenggamnya erat. "It's okay, sayang. Mungkin ini awal yang baik buat hubungan kalian. Mungkin Mama kamu minta kamu datang karena dia benar-benar rindu. Kita coba pikirkan yang baik-baik aja, ya?"

Kiara menoleh pelan ke arahku, matanya sedikit berkabut. Tapi kemudian dia mengangguk, meski ragu, lalu bersandar di lenganku. Tangannya melingkari lenganku erat, seperti mencari perlindungan.

Saat dia memejamkan mata, aku memandangi wajahnya yang terlihat lebih tenang sekarang. Dalam diam, aku berjanji pada diriku sendiri untuk memastikan dia tidak akan menghadapi ini sendirian. Apapun yang terjadi di sana nanti, aku akan selalu ada di sisinya.

My Icy Girl (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang