34

2.2K 222 34
                                        

KIARA'S POV

Ruangan rumah sakit ini terasa sunyi, hanya diisi suara detak jarum jam dan bunyi samar alat medis. Aku duduk di kursi kecil di samping ranjang, mengamati Clarissa yang tertidur dengan wajah pucat. Napasnya teratur, tapi ekspresi di wajahnya terlihat lelah.

Aku masih belum mengerti, kenapa dia lebih memilih aku untuk menemaninya di sini? Setahuku, kakaknya juga tinggal di Jakarta, seharusnya bisa datang. Dan jujur saja, aku tidak terlalu nyaman berada di sini hanya berdua saja dengannya.

Bukan hanya karena masa lalu kami yang tidak baik-baik saja, tetapi juga karena aku tahu River tidak menyukai keputusanku. Aku bisa melihat ekspresi matanya tadi, itu bukan marah, tapi jelas dia merasa tidak senang.

Tiba-tiba, Clarissa menggeliat pelan di tempat tidurnya, lalu matanya mulai terbuka. Aku refleks menegakkan dudukku.

"Ki..." panggilnya, suaranya serak.

Aku segera berdiri, mendekatinya. Dia berusaha duduk, dan aku membantunya dengan hati-hati, menyelipkan bantal di belakang punggungnya agar lebih nyaman.

"Ya?"

Clarissa menggigit bibirnya sejenak, menundukkan kepala, seperti mengumpulkan keberanian sebelum berbicara.

"Aku mau minta maaf."

Nada suaranya begitu pelan, hampir seperti bisikan.

"Selama ini mungkin kamu benci aku karena semua yang udah aku lakukan. Tapi jujur, itu semua bukan keinginanku."

Aku menatapnya skeptis, tapi membiarkannya melanjutkan.

"Aku gak pernah sekalipun berniat untuk menyakiti kamu, Ki."

Dia masih menunduk, jemarinya saling meremas di atas selimut. Seakan menjelaskan semua keburukannya terhadapku selama ini adalah sesuatu yang berat baginya.

Lalu, tiba-tiba dia berkata, "Malam itu... saat kamu harus tidur di teras..."

Aku merasakan napasku tercekat. Kenangan buruk itu masih melekat dalam ingatanku.

Clarissa menelan ludah, tangannya mencengkeram selimut. "Sebenarnya aku berdiri di depan pintu, aku mau bukain pintu buat kamu, tapi..."

Dia menggantungkan kalimatnya, membuatku langsung menyela, nada suaraku dingin dan tajam.

"Tapi apa? Bukannya kamu dan Selina memang sengaja mau ngusir aku dari rumah itu?"

Clarissa menggeleng cepat, matanya mulai berkaca-kaca. "Nggak, Ki. Aku terima kamu dan Mama kamu seratus persen di keluargaku. Tapi Selina..." dia menghela napas. "Dia mungkin bisa menerima Mama, tapi kamu? Nggak. Selina takut kasih sayang Daddy kembali terbagi."

Aku terdiam.

"Kalau kamu memang mau bukain pintu malam itu, kenapa gak jadi?" tanyaku, nada suaraku sedikit melemah.

Clarissa tampak gelisah, jemarinya saling mencengkeram. Dia menarik napas panjang sebelum menjawab, "Selina mengancam aku. Kalau aku buka pintu buat kamu, dia bakal bongkar rahasiaku ke Daddy dan seluruh keluarga besar."

Aku mengernyit. "Rahasia?"

Clarissa mengangguk, tapi dia tidak langsung bicara. Dia menunduk lama, seakan enggan untuk melanjutkan.

Aku mendesah, lalu memutuskan untuk bertanya hal lain yang masih mengganjal di pikiranku.

"Kalau memang seperti itu, bagaimana dengan ucapan kamu di pernikahan Selina?" aku menatapnya tajam. "Mama bilang kamu yang mengadu ke dia kalau aku menggoda Michael. Padahal, seingatku, kamu bahkan gak ada di sana."

My Icy Girl (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang