RIVER'S POV
Air mataku terus mengalir saat para perawat mulai kembali mendorong brankar itu ke ruang jenazah. Aku tidak bisa berhenti menangis. Saat aku hendak mengejarnya, tiba-tiba terdengar suara yang menghentikan langkahku.
"River!"
Aku menoleh dengan cepat, dan jantungku seperti berhenti sesaat. Itu tadi suara Kiara. Dan benar saja, di ujung lorong, dia berdiri. Wajahnya terlihat baik-baik saja seperti tidak terjadi apa-apa.
"Kiara..." tanpa berpikir, aku berlari ke arahnya. Begitu sampai, aku memeluknya erat tanpa peduli siapa saja yang melihat. Rasanya semua yang tadi aku alami hanya mimpi buruk yang kini sirna.
"Aku kira..." suaraku tercekat lagi.
"Lo ngira gue meninggal?" Kiara bertanya sambil tertawa.
"Gak lucu, Ki!" sergahku, sedikit marah. Tapi entah kenapa mendengar tawanya membuat dadaku terasa lega.
Kiara masih saja tertawa di hadapanku bahkan tawanya kini lebih keras. Seakan semua yang aku lakukan tadi adalah sebuah pertunjukan lucu.
"Jadi lo sayang sama gue?" ujarnya sambil menoel daguku dengan jahil.
"Nggak!" jawabku cepat.
"Gak usah bohong, gue udah denger semua kok." Kiara terkekeh, menatapku dengan senyum jahilnya. Alisnya kini bergerak naik turun seakan menggodaku.
Aku hanya menghembuskan napas dengan kasar dan mengangguk. "Iya, aku sayang kamu."
Kiara langsung bersorak, "Yeaayy!" Seruannya menggema di lorong rumah sakit, membuat beberapa orang menoleh. Tapi dia tidak peduli dan mulai memelukku.
"Aku antar pulang ya," ucapku sambil mengusap rambutnya.
"Yuk!" jawab Kiara riang, lalu menggenggam tanganku erat.
Malam itu, aku merasa seperti mendapat kesempatan kedua. Kesempatan untuk benar-benar menghargai apa yang ada di depanku.
Sesampainya di apartemen Kiara, aku langsung menjatuhkan tubuhku di sofa. Tubuhku terasa lelah, tapi pikiranku lebih lelah lagi. Aku menatap Kiara yang sedang sibuk menutup pintu dan melepas jaketnya. Ada sesuatu yang ingin aku pastikan.
"Kenapa?" tanyanya, bingung melihat tatapan seriusku.
"Kamu kenapa nyetir sambil mabuk?" tanyaku langsung, tanpa basa-basi.
Dia menatapku dengan alis terangkat, lalu mendengus. "Enak aja, gue gak mabuk kok."
"Tapi tadi orang yang ada di TKP bilang kamu mabuk."
"Jadi lo lebih percaya mereka daripada gue?" Kiara kini duduk di sebelahku dan menghadap ke arahku. "Lagian kalau gue mabuk, mana boleh gue langsung pulang, udah pasti gue di tahan sama polisi untuk diinterogasi."
"Aku hanya..."
Cup...
Mataku membulat ketika Kiara dengan tiba-tiba mencium bibirku. Ini begitu tiba-tiba dan tidak ada aba-aba.
"Gimana? Ada rasa alkohol? Nggak kan?" Aku hanya menggeleng sambil memegang bibirku.
Dia berdiri dan berjalan menuju kamar mandi, meninggalkanku yang masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Tapi langkahnya terhenti ketika aku memanggilnya.
"Ki..." ucapku yang membuatnya menoleh, "Ceritain ke aku apa yang terjadi."
"Oh, itu." Dia mengangkat bahunya santai, seakan itu bukan hal yang besar. "Tadi hujan deras, terus tiba-tiba ada kucing nyebrang. Ya gue kaget, akhirnya banting setir. Eh, nabrak deh." Dia tertawa kecil sambil mengangkat bahu lagi, seolah itu semua bukanlah hal yang besar.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Icy Girl (COMPLETED)
RandomSiapa sangka, pertemuanku dengan seorang perempuan berwajah dingin justru membuat hatiku terasa hangat? Aku selalu percaya bahwa kebahagiaan bisa diraih jika aku terus mempertahankan orang yang kucintai. Tapi tak kusangka, seseorang yang selama ini...
