KIARA'S POV
"Ikut aku, yuk," ucap River tiba-tiba sambil meraih tanganku. Sebelum aku sempat bertanya, dia sudah menarikku menuju mobilnya. Aku hanya bisa menuruti langkahnya, meski dalam hati bertanya-tanya kemana dia akan membawaku kali ini.
Perjalanan terasa cukup jauh. Aku menatap pemandangan diluar jendela dan mulai merasa familiar dengan jalan yang kami lewati. Jalan ini... aku tahu betul kemana arahnya. Ini adalah jalan menuju rumah Papa. Dadaku langsung terasa sesak. Untuk apa River mengajakku ke sana?
Aku menoleh ke arah River ketika kami sampai di rumah Papa, tapi dia hanya tersenyum kecil sambil mengusap pelan pipiku. "Aku akan ceritain setelah ini," katanya lembut sebelum mematikan mesin mobil dan turun lebih dulu.
Kami berjalan beriringan menuju rumah Papa. River mengetuk pintu beberapa kali, dan tak lama kemudian, seseorang membukanya. Wajah itu langsung membuatku menghela napas berat. Tante Rani, dia adalah ibu tiriku. Tatapannya dingin, bibirnya menipis, jelas sekali kalau dia tidak senang melihatku di depan rumahnya.
"Ngapain kamu datang ke sini?" tanyanya ketus, suaranya terdengar begitu sinis.
Sebelum aku sempat menjawab, River sudah lebih dulu berbicara. Nada suaranya berubah tajam, dingin seperti pertama kali aku mengenalnya.
"Saya gak cari kamu. Saya cari Papanya Kiara. Saya tahu dia ada di dalam. Jadi tolong panggilkan dia sekarang karena saya mau bicara sama dia."
Nada tegas River membuat Tante Rani kehilangan kata-kata. Tanpa banyak bicara, dia berbalik masuk ke dalam rumah dan memanggil Papa.
Beberapa detik kemudian, Papa muncul. Wajahnya terlihat tegang, dan aku bisa merasakan kemarahannya bahkan sebelum dia membuka mulut. Dia berjalan mendekat dengan langkah cepat, siap melontarkan kata-kata yang pasti akan menusuk hati.
Tapi sebelum Papa sempat berbicara, River sudah mendahuluinya. "Seperti yang saya bilang waktu itu," ucapnya tenang namun terdengar menusuk. "Saya akan memberikan uang pada Om, sebagai ganti Kiara."
Aku menatap River, terkejut dan bingung secara bersamaan. Kata-katanya membuat jantungku berdegup cepat. Apa yang sebenarnya dia rencanakan?
Aku tidak tahu kalau tujuan River membawaku kesini adalah untuk memberikan uang kepada Papa. Hal itu membuatku terkejut, apalagi aku tahu persis kondisi keuangan River. Selama ini, semua urusannya aku yang mengatur. Jadi dari mana uang sebanyak itu bisa ia dapatkan dan dalam waktu singkat.
River berjalan ke arah mobilnya dan kembali dengan dua tas besar berwarna hitam. Ia meletakkannya di meja teras rumah dengan tenang, lalu menatap Papa tanpa ekspresi.
"Ini untuk membayar semua utang Om kepada Michael," ucap River datar. Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih tegas, "Dan yang ini... untuk Om. Mulai sekarang, jangan pernah ganggu Kiara lagi."
Papa menatap tas itu tanpa berkedip. Wajah yang tadinya penuh amarah perlahan berubah. Sorot wajah Papa mulai berbinar melihat uang yang begitu banyak di hadapannya. Ia tidak mendengar, atau mungkin sengaja mengabaikan kata-kata River. Yang ada di pikirannya hanya uang itu.
"Oke, terserah kamu," ucapnya datar, tanpa menatapku sama sekali. "Kamu bisa bawa Kiara. Saya gak akan ganggu kalian lagi."
Kalimat itu menancap seperti pisau di dadaku. Aku menatap Papa, menunggu sedikit saja tanda penyesalan. Tapi tidak ada. Hanya keheningan dan tatapan yang sama sekali tidak beralih ke arahku.
"Kiara gak nyangka," ucapku pelan, suaraku mulai bergetar. "Papa benar-benar menukar Kiara dengan uang."
Aku berbalik pergi sebelum air mataku jatuh, meninggalkannya begitu saja. Di belakangku, Papa masih berdiri di depan rumah, memandangi uang itu seperti tidak terjadi apa-apa.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Icy Girl (COMPLETED)
RandomSiapa sangka, pertemuanku dengan seorang perempuan berwajah dingin justru membuat hatiku terasa hangat? Aku selalu percaya bahwa kebahagiaan bisa diraih jika aku terus mempertahankan orang yang kucintai. Tapi tak kusangka, seseorang yang selama ini...
